<http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?n=a243c7be&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE>
*Hasil Laut China Ancam Nelayan Indonesia
*
27 Januari 2010 | 09.33 WIB
*Regional*

* <http://m.kompas.com/news/imgread/data/2010.01.27.09334252>*

**

MEDAN, KOMPAS.com *—* Produksi perikanan China yang saat ini sudah mencapai
45 juta hingga 50 juta ton per tahun dengan produk yang relatif sama dengan
Indonesia semakin mengancam keberadaan nelayan-nelayan tradisional
Indonesia. Tanpa peningkatan kesejahteraan nelayan, pembenahan industri
perikanan, regulasi impor, dan pelestarian lingkungan laut, nelayan
tradisional akan semakin tak punya daya saing.

Saat ini Indonesia baru mampu memproduksi 8 juta ton ikan per tahun. Target
Indonesia pada tahun 2015 menjadi produsen ikan terbesar di dunia melampaui
China dinilai gegabah. Fondasi pembangunan perikanan Indonesia dinilai belum
kuat.

Hal itu disampaikan Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara)
Riza Damanik di sela seminar dan lokakarya tentang Kesejahteraan Nelayan di
Tengah Perdagangan Internasional di Medan, Selasa (26/1/2010). Menurut Riza,
sampai saat ini masalah-masalah domestik berkaitan dengan nelayan belum
terselesaikan.

Sebagai contoh konflik alat tangkap antarnelayan, misalnya penggunaan pukat
harimau belum terselesaikan, konversi lahan pesisir terus berlangsung,
demikian pula dengan pencemaran laut.

Nelayan tradisional juga masih kesulitan mendapatkan bahan bakar. Selain
mahal, nelayan kini juga membutuhkan konsumsi lebih banyak bahan bakar
karena harus melaut hingga ke tengah mengingat di pesisir ekosistem laut
sudah rusak. Bahan bakar ini tidak didukung negara. Dalam skema perdagangan,
nelayan juga hanya mengantongi 20-26 persen harga ikan yang dikeluarkan
konsumen.

Ketua Serikat Nelayan Sumut Lahmudin Tampubolon mengatakan, sejak tahun
1983, sedikitnya 51 nelayan di Sumut tewas dan 15 orang cacat seumur hidup
akibat konflik penggunaan pukat harimau. Ribuan pukat harimau hingga kini
masih dioperasikan di perairan Sumut. Potensi ini akan terus terjadi kalau
pemerintah tidak tegas, tutur Lahmudin.

Sementara Tajruddin Hasibuan dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia
menuturkan, 12 nelayan tradisional kini masih ditahan di Polres Langkat,
Sumut, karena kedapatan menebang pohon bakau di pesisir. Sementara tiga
perusahaan besar yang mengonversi lahan pesisir dengan sawit cenderung
dibiarkan.

Sukarman, Kepala Program dan Advokasi Layar Nusantara, melaporkan, di Jawa
Tengah pencemaran sudah terjadi di kawasan pantai utara Jawa. Tidak usah
bicara global, lebih baik memperbaiki sistem pengelolaan lokal, misalnya
mengurangi pungutan preman di TPI atau mengusahakan dana paceklik tutur
Sukarman. Di Pati, kata Sukarman, tiap tahun diperkirakan ada Rp 48 miliar
dana yang berputar pada nelayan, tetapi belum dikelola dengan baik.

Menurut Riza, langkah pemerintah untuk mendorong ikan budidaya dinilai
kurang bijak jika tidak diimbangi dengan pembangunan industri pakan yang
berbasis lokal. Selama ini pakan ikan budidaya masih mengandalkan impor.

Lokakarya memberikan rekomendasi pada pemerintah untuk memenuhi hak-hak
nelayan agar bisa mengakses laut dengan mudah, melindungi nelayan dengan
memberlakukan regulasi impor, membangun industri pakan berbasis lokal,
jaminan bahan bakar dari pemerintah, dan mengeluarkan daftar ikan yang tidak
boleh dinegosiasikan dalam perdagangan internasional.

Sumber: http://m.kompas.com/news/read/data/2010.01.27.09334252

----------------------------
Keanekaragaman budaya Indonesia dari satu sisi adalah kekayaan, tetapi dari
sisi lain adalah kerawanan. Sebagai kekayaan, keanekaragaman budaya dapat
menjadi sumber pengembangan budaya hibrida yang kaya dan tangguh, melalui
penyuburan silang budaya. Sebagai kerawanan, keanekaragaman budaya
melemahkan kohesi antarsuku dan pulau.

Berbagi informasi adalah hal terpenting dalam bermasyarakat. Terlebih bagi
nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil dan masyarakat luas yang tinggal di belahan bumi lainnya.

Kunjungi situs web KIARA di http://www.kiara.or.id. Pastikan Anda adalah
orang yang pertama kali mengetahui perkembangan informasi kelautan dan
perikanan nasional.
----------------------------------------------------

Mida Saragih
Divisi Manajemen Pengetahuan KIARA
[email protected]

Sekretariat Nasional Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)
Jl. Tegal Parang Utara No. 43
Mampang, Jakarta 12790
Indonesia
Telp. +62 21 797 0482
Faks. +62 21 797 0482


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS

2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , 
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/

3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota

4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]

5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke