Excerpt: "Biasanya bayi yang dijual tersebut mayoritas merupakan hasil hubungan gelap. Setelah dibeli, bayi-bayi tersebut dipelihara hingga berusia 7-9 tahun dan langsung dieksekusi atau dijual oleh oknum pelaku."
Mirip dengan salah satu adegan di Slumdog Millionaire bila intisari berita di bawah benar. Na'udzubillah. Salam, CA Source: http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=85391 --begins-- Bongkar, `peternakan bayi` di Sumatera & Kalimantan Tanggal : 22 Jan 2010 Sumber : Harian Terbit JAKARTA - Bisnis jual beli organ tubuh manusia makin marak, termasuk di Indonesia. Namun sayang, mafia yang menggerakkan bisnis organ tubuh itu, hingga kini belum berhasil diungkap aparat kepolisian. Padahal praktek jual beli organ tubuh itu sudah sangat kasat mata. Bahkan melibatkan oknum berpakaian seragam. Meski dibantah aparat kepolisian, kasus penculikan bayi di rumah sakit, dan kasus mutilasi anak jalanan diberbagai tempat ditengarai terkait dengan bisnis jual beli organ tubuh. Dari hasil pengakuan salah satu makelar kepada LBH Kesehatan, mengaku sudah menjalankan bisnis ini selama 19 tahun di Indonsia. "Dalam satu bulan perdagangan organ ini bisa mencapai 40 orang," ungkap makelar itu kepada LBH Kesehatan. Saat ini, LBH Kesehatan mensinyalir muncul modus baru dalam bisnis organ tubuh tersebut, de-ngan metode "Human Breeding" atau peternakan manusia yang terjadi di wilayah Kepulauan Riau dan Sumatera. "Modus ini kita temukan pada tahun 2005 dan masih berjalan hingga sekarang. Dalam waktu dekat kami akan melakukan investigasi ke tempat itu," ujar Direktur LBH Kesehatan Iskandar Sitorus menjawab Harian Terbit di Jakarta, Kamis (21/1). Lebih lanjut dijelaskan, Human Breeding tersebut dilakukan sejumlah makelar dengan membeli bayi-bayi yang dijual oleh orang tuanya. Biasanya bayi yang dijual tersebut mayoritas merupakan hasil hubungan gelap. Setelah dibeli, bayi-bayi tersebut dipelihara hingga berusia 7-9 tahun dan langsung dieksekusi atau dijual oleh oknum pelaku. Kemudian, oleh si pembeli, kesehatan si anak itu diperiksa. Kalau sehat dan cocok dengan yang dibutuhkan, organ yang dibutuhkan langsung diambil. Menurut Iskandar, makelar perdagangan organ tubuh di Indonesia sangat elegan dan terorganisir dalam menjalankan bisnisnya. Banyak ditemukan makelar tersebut justru merupakan oknum-oknum berseragam," jelasnya. Dalam modus lamanya yang melakukan pendekatan secara humanis, akunya, banyak dilakukan oleh pihak-pihak rumah sakit negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Australia. Dalam menjalankan aksinya, pihak rumah sakit tersebut difasilitasi oleh orang Indonesia, daerah sasaran mereka adalah Sumatera dan Kalimantan. Sebab, tambahnya, tingkat keterjangkauan wilayahnya lebih dekat dan tingkat kesejahteraan masyarakat di Sumatera dan Kalimantan memang jauh dibawah rata-rata. Oknum tersebut mendatangi daerah pedesaan dengan terlebih dahulu melihat kualitas tampilan fisik dan tingkat ekonomi warga sekitar. "Dalam modus pendekatan ini, mereka sangat elegan. Dari hasil pengakuan salah satu makelar, ia mengaku sudah menjalankan bisnis ini selama 19 tahun di Indonesia. Dalam satu bulan perdagangan organ ini bisa mencapai 40 orang," ungkapnya. Berapa harga organ tubuh di pasar gelap. di Indonesia, harganya sangat menjanjikan. Harga sebuah ginjal bisa mencapai 300-500 juta untuk kelas Indonesia, jika dijual keluar negeri harga tersebut merosot dan pasarannya hanya 75-200 juta. "Ginjal memang yang paling laris manis dipasaran, banyak dijual ke Singapura. Sebab, di Singapura jumlah penderita gagal ginjal sangat banyak, bahkan ada daftar tunggu orang yang membutuhkan ginjal," kata Iskandar Sitorus. "Alasan kesulitan ekonomi sering kali membuat seseorang mau menerima tawaran untuk menjual salah satu organ tubuhnya. Kondisi tersebut membuat makelar atau sindikat perdagangan organ tubuh merasa nyaman menjalankan bisnisnya di Indonesia," ujarnya. Modus yang sering dilakukan pihak rumah sakit negara-negara tetangga seperti di Singapura, Malaysia dan Australia melalui pendekatan secara humanis. Dalam menjalankan aksinya, pihak rumah sakit tersebut difasilitasi oleh orang Indonesia, daerah sasaran mereka adalah Sumatera dan Kalimantan. "Dalam modus pendekatan ini, mereka sangat elegan. Dari hasil pengakuan salah satu makelar, ia mengaku sudah menjalankan bisnis ini selama 19 tahun di Indonsia. Dalam satu bulan perdagangan organ ini bisa mencapai 40 orang," ungkapnya. Sementara itu, Ahli Forensik Universitas Indonesia dr Mun'im dihubungi terpisah mengaku tidak kaget dengan perkembangan perdagangan organ tubuh di Indonesia. Sebab, tingkat kemiskinan masyarakat Indonesia kian tahun tak mengalami perbaikan. "Sangat besar kemungkinan maraknya penjualan organ tubuh di Indonesia. Sama halnya dengan India dan China beberapa puluh tahun silam, saat kondisi ekonomi rakyat mereka sangat memprihatinkan, nama dua Negara tersebut mencuat sebagai supplier organ tubuh bagi Negara-negara maju," ujarnya. Hal senada juga dikatakan oleh Mantan Ketua PB IDI, Kartono Muhammad, untuk mengatasi perdagangan organ tubuh tersebut, pemerintah harus menghilangkan orang-orang miskin dengan mensejahterakannya. "Jangankan organ tubuhnya yang dijual, disuruh bunuh diri saja jika dibayar mahal mungkin juga mau. Namun, tentu proses transplantasi organ tubuh tidak mudah. Kemungkinan besar bisnis ini dilakukan oleh pihak asing," ujarnya. Praktisi hukum C. Suhadi SH tidak memungkiri adanya dugaan jual beli organ tubuh manusia dalam negeri maupun untuk dipasok ke kawasan Asia Tenggara atau negara-negara lain. Karenanya pihak kepolisian harus menggali latar belakang terjadinya kasus multilasi seperti yang dilakukan Babe. "Dalam rangka apa dia memultilasi. Tentu ada tujuannya. Apakah hanya untuk memenuhi kepuasan jiwa atau ada faktor komersil. Jadi penggalian yuridis tidak mutlak hanya multilasinya tetapi harus dicari faktor-faktor penyebabnya," ujar Suhadi. (arbi/zamzam) --ends--
