--- In [email protected], evi douren <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Feromon itu merupakan suatu zat yang dikeluarkan o/seseorang (mahluk. Karena hewan juga bisa mengeluarkan feromon. Contohnya pada anjing. Dan ini bisa dipakai u/penanda hewan tsb sedang dalam masa 'breeding' o/anjing dari lawan jenis yg berbeda.) dan dihidu (dibaui) o/sesamanya (satu spesies. Jadi manusia ya dengan manusia en hewan ya dengan hewan.) , yang kemudian akan menimbulkan suatu rekasi tertentu dari penerima feromon tsb. > > Jadi, feromon itu 'bukanlah tidak berbau'. Karena yang kemudian dirasakan o/si penerima feromonyaitu lewat penghiduan (membaui). >
iscab: Ya, udah, saya ganti pernyataan saya terdahulu. Feromon itu tidak beraroma. Yang saya maksud adalah aroma wangi atau aroma tak menyenangkan. Feromon memang ditangkap oleh indera penciuman manusia lalu diterima otak, dan mempengaruhi talamus dan hipotalamus dalam otak, lalu mempengaruhi sistem hormonal dalam tubuh. Lalu timbullah ketertarikan antara makhluk hidup. Tapi feromon tidak punya aroma wangi maupun aroma busuk. Saya kira yang dimaksudkan dengan "bau badan" oleh kawan-kawan milis lainnya, adalah bau badan yang menyenangkan (wangi) maupun yang tidak menyenangkan. Memang ini kesulitan menerjemahkan istilah bahasa lain ke dalam Bahasa Indonesia. Padanannya sering kurang klop. Jadi parfum dan deodoran memang mempengaruhi "bau badan", tapi ketertarikkan antar makhluk hidup tidak bergantung oleh "bau badan" yang itu, tapi oleh feromon yang tidak beraroma. Condro
