http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/20/opini/3397315.htm ===================
Siapakah perusak hutan tercepat itu? Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian, untuk periode 2000-2005, kita, Indonesialah, perusak hutan tercepat di dunia. Perusakan hutan di Indonesia selama lima tahun itu 2 persen per tahun, sementara di Brasil 0,6 persen. Perusakan itu sama dengan 1,87 juta hektar setiap tahun, sama dengan 51 kilometer setiap hari, atau sama dengan luas 300 lapangan sepak bola setiap jam. Data itu dikemukakan oleh Hapsoro, Juru Kampanye Hutan Regional Greenpeace Asia Tenggara di Tugu Proklamasi hari Jumat lalu. Dengan angka-angka itu, Indonesia bisa masuk The Guinness Book of World Record sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia. Apa akibat rusaknya hutan Indonesia? Justru di antaranya kita sedang mengalaminya: bencana longsor, banjir, rusaknya ekologi atau lingkungan hidup. Pancaroba cuaca. Perikehidupan kita sebagai bangsa yang semakin rentan, terutama sesama warga yang miskin dan ketinggalan. Lebih kontras serta tidak adil jika kita perhitungkan hasil perusakan hutan itu tidak dinikmati oleh rakyat banyak atau negara, tetapi terutama dan terbesar jatuh ke tangan para pelaku penebangan liar (illegal logging) pengolah hutan yang tidak bonafide. Posisi dan fungsi hutan strategis bagi kita, Indonesia. Hutan sumber kekayaan alam. Hutan sekaligus penjaga dan pelindung keamanan lingkungan hidup. Sebaliknya, masuk akal juga jika kita menerima hutan sebagai sesuatu yang dengan sendirinya, yang karena itu cenderung kita sikapi secara rutin. Di tengah sibuk dan runyamnya berbagai keadaan yang bertalian langsung dengan perut dan pekerjaan, hutan mudah terdesak ke belakang. Hutan sebutlah berada di hinterland, pedalaman. Jika menjadi berita, barulah kita sadar, misalnya jika terbakar, jika digelar fakta dan data perusakan. Persoalan seperti hutan bukan saja perhatian dan urusan pemerintah, tetapi juga urusan negara. Semua kita, warga Indonesia, berikut berbagai organisasi, lembaga, serta kegiatannya terlibat dan harus terlibat. Pemahaman kita tentang Tanah Air, negara, bangsa, dan pemerintahan tak bisa lain kecuali diperbarui sehingga aktual dan relevan. Pendidikan dan pengajaran ilmu bumi, geografi, dan geologi juga dibuat aktual dan relevan. Cinta Tanah Air, negeri, dan bangsa tak memadai jika terbatas pola dan pendekatannya. Beruntunglah kita hidup di zaman informasi. Informasi dengan teknologi amat canggih, serentak, komunikatif, dan interaktif. Agar juga terilhami ikut memberikan kontribusi. Laporan audiovisual bisa memberikan kontribusi yang bukan saja informatif dan komunikatif, sekaligus mencerahkan. Hutan agar ditempatkan pada pembaruan dan penyegaran pengetahuan serta kesadaran kita akan Tanah Air. Kita sebagai warga, sebagai pemuka, apalagi sebagai pemerintah, dituntut lebih memahami secara komprehensif dan inovatif segala sesuatu yang berkaitan dengan Tanah Air, Negeri Kepulauan, serta Kebumian kita. Kita akrab tidak lagi hanya dengan keindahan, kekayaan, serta kemacamragaman seni budaya, tetapi juga dengan perilaku Bumi Indonesia. Hutan pun kita tempatkan dalam pemahaman yang aktual dan inovatif itu.
