Menatap Padivalley dari Tepi Danau Kalaborang
http://wisata.kompasiana.com/2010/02/14/menatap-padivalley-dari-tepi-danau-kalaborang/

Hari minggu, cuaca cerah menyinari wilayah Sudiang, Makassar. Saya bersiap-siap 
mengisi hari libur dengan berjalan-jalan keluar kota. Sasaran saya mengitari 
trans Mamminasata (Makassar-Maros-Sungguminasa-Takalar) yang bakal menjadi kota 
satelit Makassar.

Perjalanan dari Sudiang menuju Gowa saya memilih lewat jalan protokol Pettarani 
kemudian masuk lewat jalan boulevard Hertasning Lama. Memasuki Jalan Hertasning 
Baru, jalanan semakin sepi sehingga bebas memacu kendaraan. Sesampainya di 
ujung Jalan Hertasning Baru, saya memilih terus menyebrang, menyisiri jalan 
raya Samata untuk melihat-lihat kampus baru UIN Alauddin yang asri. Setelah 
melihat-lihat sepintas Kampus UIN, memang nampak asri dengan dikelilingi 
rerimbunan pohon-pohon.

Perjalanan saya lanjutkan menyusuri jalan Samata hingga menghabiskan waktu 
sekitar 30 menit dan sampailah pada sebuah perempatan jalan. Bila belok kiri, 
maka jalan menuju Desa Panaikang, Kecamatan Pattallassang, Gowa dan bisa tembus 
hingga Kota Makassar melewati Kampus UVRI, Antang. Sedang bila pilihan belok ke 
kanan, maka bisa sampai ke Malino sebagai jalan alternatif. Namun pelupuk mata 
saya lebih tertarik  melanjutkan arah lurus karena aspalnya masih terbilang 
baru dan cukup lebar bila dibandingkan dengan jalan disekitarnya.

Maka saya pun mencoba memasuki jalan lebar tersebut dan kesempatan ngebut lagi 
mengingat jalanan sedang sepi. Namun alangkah terkejutnya, jalan tersebut 
mentok di pertengahan sawah. Aneh….. Saya pun mencoba memberanikan bertanya 
pada orang-orang di sekitar, namun tidak menemukan seorangpun. Akhirnya saya 
kembali ke perempatan dan menanyakan ikhwal jalan lebar nan mentok. Alangkah 
terkejutnya saya mendengar jawaban penduduk tersebut yang mengatakan bahwa 
jalan yang sedang saya lalui adalah jalan menuju padang golf yang sedang 
dibangun.

Saya menyusuri jalan alternatif menuju Malino melewati Kantor Kecamatan 
Pattallassang. Sesampainya di depan kantor desa Pallantikang, saya berbelok 
kiri menuju Dusun Borongloe, lokasi pembangunan Padang Golf Paddivalley. Jejak 
lalu lalang mobil truck pengangkut material pasir sangat jelas di jalan tanah 
tersebut. Nampak pada sisi kanan tertera tulisan “Jalan H Haeruddin”.  Pada 
awal memasuki jalan Heruddin jalan tanah itu masih diliputi batu-batu yang 
sudah menyatuh dengan tanah sehingga laju kendaraan masih stabil. Namun baru 
sekitar sepuluh menit berlalu, tibalah pada jalan tanah yang sesungguhnya. 
Becek dan lumpur mengelilingi jalan sehingga mobil kesulitan melewatinya. Saya 
iri pada motor yang dengan entengnya lalu lalang meliuk-liuk diatas jalan 
berlumpur.

Setelah berhasil melewati jalan berlumpur nampak dikejauhan sebuah menara 
telpon seluler yang sedang dalam tahap pembangunan. Sebelum sampai pada menara, 
jalan berbelok ke kanan dan nampak disisi kiri tertulis “Menuju Padang Golf 
Padivalley”.  Setelah sampai di dekat menara, beberapa pekerja masih sibuk 
membenahi. Tidak jauh di menara tersebut, terletak rumah Kepala Dusun 
Borongloe, Mustafa Daeng Erang.

Terik menyengat ketika saya bertandang ke rumah Daeng Erang. Dari perbincangan 
hangat, saya mengetahui perihal padang golf yang akan dibangun diatas areal 
kurang lebih 300 hektar. Di dalamnya akan terintegrasi sarana penunjang berupa 
hotel mewah, dan tujuh buah danau buatan. Di Dusun itu sebenarnya sudah ada 
danau alami bernama Danau Kalaborang. Disisi Danau Kalaborang dijadikan tempat 
pembibitan rumput golf dengan melibatkan pekerja dari penduduk asli. Mesin 
operator penyiraman rumput dikendalikan dari beberapa mesin yang terletak di 
sebuah kontainer di dekat danau.

Sumber air penyiraman rumput golf disedot dari sungai yang telaknya sedikit 
jauh dari lokasi. Ketika saya menanyakan perihal air danau yang tidak digunakan 
untuk penyiraman rumpu golf, raut muka Daeng Erang langsung berubah. Nampak ada 
rasa ketakutan menyebar pada seluruh mukanya. Memang sebelum saya sampai di 
lokasi pembibitan rumput golf, saya menjumpai beberapa balai-balai beratap seng 
yang dikeramatkan karena didalamnya terletak sebuah dupa tergeletak.

Menurut cerita Daeng Erang, ketika pekerja proyek pembibitan rumput golf 
menggunakan air dari Danau Kalaborang, banyak warga desa yang menderita 
kesurupan. Kejadiannya berlangsung lama dan menyerang banyak warga. Kejadian 
itu membuat Daeng Erang kewalahan dan melaporkannya kepada Kepala Desa agar 
menyampaikan pimpinan proyek untuk menghentikan penyedotan air dari danau 
Kalaborang. Sejak dihentikan penyedotan air danau, seketika itu pula berhenti 
kejadian keserupan warga, ujar pria berperawakan sedang dan berkumis tipis itu.

Dari tepi Danau Kalaborang, saya menatap areal pembibitan rumput dikeliling 
pemandangan bukit-bukit nan indah. Hamparan pembibitan rumput memanjang nun 
jauh disana. Namun terbayang juga dibenak saya warga yang akan kehilangan 
sumber mata pencaharian mereka berupa sawah dan ladang. Sawah dan ladang yang 
subur kepunyaan warga harus direlakan berpindah tangan kepada kontraktor padang 
golf, PT SInar Galesong.

Di Tepi Danau Kalaborang, saya memandang sebuah dusun sunyi yang akan berubah 
menjadi dusun mewah karena akan dihadiri oleh orang-orang berduit dan mobil 
mewahnya beberapa tahun kemudian. Apakah penduduk setempat akan menjadi 
penonton belaka?


      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke