Berani Memilih Gaya Bush⁠



Hari Selasa (2/3) akan menjadi hari yang menentukan. Sidang Paripurna Dewan 
Perwakilan Rakyat akan menentukan sikap parlemen terhadap laporan akhir yang 
disampaikan Panitia Khusus Bank Century. Keputusan DPR akan menjadi penentu 
apakah langkah penyelamatan yang dilakukan pemerintah terhadap Bank Century 
memang sarat dengan berbagai pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan 
atau tidak. Kalau memang ada pelanggaran, apakah para pejabat yang mengambil 
keputusan harus dimintai pertanggungjawaban atau tidak.

Sejauh kita ikuti dari keterangan para saksi dan pandangan akhir fraksi-fraksi 
di Pansus Bank Century, sulit bagi DPR untuk tidak mengatakan bahwa tidak ada 
yang salah dengan langkah penyelamatan Bank Century. Ada empat pelanggaran yang 
terjadi mulai dari pengesahan merger dan akuisisi Bank Century, pemberian 
fasilitas pinjaman jangka pendek dari Bank Indonesia kepada Bank Century, 
pemberian dana talangan kepada Bank Century, dan penggunaan dana talangan 
sebesar Rp 6,7 triliun.

Bahkan dalam pandangan terakhirnya di Pansus Bank Century, empat fraksi yakni 
Fraksi Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Keadilan 
Sejahtera, dan Partai Hati Nurani Rakyat menyebutkan secara jelas nama-nama 
pejabat yang harus bertanggung jawab. Tiga fraksi yakni Fraksi Persatuan 
Pembangunan, Fraksi Amanat Nasional, dan Fraksi Gerakan Indonesia Raya meski 
tidak menyebut nama, memersalahkan pejabat institusi yang terlibat dalam 
pengambilan keputusan penyelamatan terhadap Bank Century. Hanya dua fraksi 
yakni Fraksi Demokrat dan Fraksi Kebangkitan Bangsa menilai keputusan 
penyelamatan Bank Century tidak ada yang salah.

Memang tekanan yang ditujukan kepada partai-partai yang selama ini sangat 
kritis terhadap langkah pemerintah menyelamatkan Bank Century sangatlah keras. 
Tiba-tiba bermunculan kasus-kasus yang dihadapi para anggota Pansus Bank 
Century. Tidak tanggung-tanggung yang mengungkap kasus itu adalah staf khusus 
Presiden. Tidak hanya itu, kelompok massa yang mendukung Presiden dan Wakil 
Presiden pun sudah unjuk kekuatan.
Kelompok-kelompok yang berseberangan juga tidak mau kalah menggertak. Mereka 
juga melakukan unjuk kekuatan untuk mendesak DPR agar berani mempersalahkan 
kebijakan penyelamatan Bank Century dan menyebut pihak-pihak yang harus 
bertanggung jawab.

Dengan kondisi seperti ini lalu bagaimana kita menyelesaikan skandal Bank 
Century? Untuk menjawab pertanyaan itu menarik untuk melihat kasus kebijakan 
kontroversial yang terjadi di negara lain. Yang paling fenomenal adalah 
kebijakan pemerintahan George W. Bush untuk menyerang Irak.

Kita tahu keputusan perang yang diambil Presiden Bush dilandasi dengan dugaan 
adanya senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak. Menteri Pertahanan AS Donald 
Rumsfeld merupakan orang yang paling gencar meyakinkan  Presiden, masyarakat 
Amerika, dan juga masyarakat dunia bahwa Presiden Irak Saddam Hussein harus 
ditumbangkan karena membahayakan dunia. Senjata pemusnah massal yang dimiliki 
Irak akan bisa membahayakan keselamatan dunia.

Dengan dasar itulah Presiden Bush memerintahkan pasukan Amerika dan juga sekutu 
untuk menyerang Irak. Sampai Presiden Saddam Hussein ditumbangkan, senjata 
pemusnah massal yang dituduhkan itu tidak pernah ditemukan. Masyarakat Amerika 
dan Kongres AS marah karena begitu banyaknya patriot bangsanya yang gugur 
secara sia-sia. Sampai saat ini jutaan dollar AS harus dikeluarkan rakyat 
Amerika untuk perang yang tidak perlu itu.
Atas dasar kesalahan itu, Kongres AS mendesak Presiden Bush untuk memersalahkan 
Rumsfeld dan bahkan memecatnya dari jabatan sebagai Menhan. Rumsfeld dinilai 
telah gagal menjalankan fungsinya sebagai seorang administrator yang baik 
karena membuat sebuah kebijakan publik yang  merugikan Amerika.

Apa yang dilakukan Presiden Bush? Dalam jumpa pers bersama Menteri Rumsfeld, 
Presiden Bush mengatakan bahwa kebijakan untuk menyerang Irak dilakukan untuk 
menyelamatkan Amerika. Irak diduga memiliki senjata pemusnah massal yang bisa 
mengancam keselamatan bangsa Amerika. Bahwa kemudian setelah serangan dilakukan 
tidak ditemukan senjata pemusnah massal, itu adalah sebuah kenyataan. Namun 
Bush menegaskan bahwa dirinya tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun bagi 
keselamatan bangsa Amerika.

Bagaimana dengan nasib Menteri Rumsfeld? Presiden Bush menegaskan, bagi 
kelangsungan jalannya pemerintahan dirinya membutuhkan Rumsfeld untuk bersama 
dirinya di dalam kabinet. Sebagai Presiden ia masih percaya kepada Rumsfeld dan 
karena itu ia memutuskan untuk mempertahankannya.

Apa harga yang harus dibayar Bush dengan pernyataannya tersebut? Bush sadar 
bahwa sejarah akan mencatat dirinya sebagai Presiden yang menyebabkan bangsa 
Amerika menderita karena perang di Irak. Namun ia tetap dihormati sebagai 
Presiden yang berani mengambil risiko, termasuk risiko untuk  memiliki citra 
yang buruk di mata bangsa Amerika.

Pertanyaannya, apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berani untuk mengambil 
sikap seperti halnya Presiden Bush. Sebab, kita tahu kebijakan terhadap Bank 
Century yang didasarkan atas pertimbangan menghindarkan terjadinya bank gagal 
berdampak sistemik terbukti tidak valid. Penggelontoran dana sebesar Rp 6,7 
triliun tidak dipakai untuk menyehatkan bank, tetapi lebih banyak dipakai untuk 
bancakan. Setidaknya temuan Badan Pemeriksa Keuangan menunjukkan Rp 5,8 triliun 
dari dana itu dipakai oleh orang-orang yang tidak berhak. Itulah yang sejak 
awal disebutkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa tidak ada kegagalan 
berdampak sistemik, tetapi yang ada adalah perampokan bank oleh pemiliknya.

Pilihan yang dihadapi Presiden Yudhoyono ada dua. Pertama bisa mengikuti 
pandangan yang berkembang di DPR bahwa beberapa menterinya tidak cakap, 
sehingga harus diberhentikan dan diganti. Atau seperti halnya Bush, Presiden 
Yudhoyono mengatakan, keputusan penyelamatan Bank Century merupakan tanggung 
jawabnya, karena ia tidak mau berkompromi terhadap kemungkinan terjadinya 
krisis global menerpa perekonomian Indonesia.

Di depan Perbanas, Presiden Yudhoyono memang sudah menyatakan bahwa dirinya 
bertanggung jawab, meski masih diikuti dengan pernyataan bahwa dalam urusan 
teknis dirinya menyerahkan kepada pejabat yang berwenang. Sekarang harus 
ditambahkan apakah Presiden Yudhoyono masih memercayai Sri Mulyani Indrawati 
sebagai Menteri Keuangan dan Boediono sebagai Wapres. Sebagai kepala eksekutif, 
Presiden Yudhoyono berhak untuk mengatakan itu, meski seperti halnya Presiden 
Bush, risikonya adalah citra diri yang menjadi kurang baik
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke