He..he…sorry ya di tempat ku tinggal tak ada itu fatwa-fatwa tapi jumlah 
perokok berkurang terus. Restaurant dan Bar juga sudah bebas rokok. Usaha untuk 
membuat org tak merokok koq nihil alias tak ada.

 

Anak dibawah usis 18 tahun tak boleh membeli rokok kalau ketahuan yg jual juga 
kena tangkap atau denda tinggi. Asuransi bagi perokok lebih mahal, ruang 
lingkupnya terus berkurang, dikantor dilarang merokok, dirumah dilarang sama 
istri merokok dan berbagai fasilitas umum termasuk mall dan seperti diatas bar 
dan restaurant juga…..kalau mau merokok keluar….nah lagi diterjang dingin 
begini sana loe merokok diluar kalau masih kepala batu, sekalian jadi es batu.

 

Orang yang cari pacar juga banyak yg ogah sama perokok….nah dengan sendirinya 
berkurang.

 

Alah apa yang bisa dihasilkan fatwa? Fatwa Pujangga mungkin masih bisa kita 
nikmati. Heran aku orang sekaliber “tinggi” gitu di Muhammadiyah koq ya bisa 
hilang Commonsensenya.

 

Lalu kalau ada yang bawa-bawa petani alah tahu apa pernah nggak loe jadi 
petani? Petani dibawa-bawa.

 

Pemerintah yang  harus membuat aturan….lha kenapa nggak meniru negara yang sdh 
sukses saja sih?????

 

Cheers

 

HH

 

 

From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Suryopratomo
Sent: Sunday, March 14, 2010 7:29 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Fatwa Rokok

 

  

⁠Fatwa Rokok Muhammadiyah⁠

Apa yang salah dengan fatwa haram yang dikeluarkan Muhammadiyah berkaitan 
dengan merokok? Adanya donasi yang diberikan Yayasan Michael Bloomberg membuat 
orang bertanya apakah fatwa itu murni untuk kebaikan umat ataukah ada pesanan 
dari pemberi donasi.
    
Pihak Muhammadiyah mengaku menerima donasi Rp 3,7 miliar dari Yayasan Michael 
Booolberg untuk kampanye antirokok di Indonesia. Namun mereka menyangkal bahwa 
penetapan fatwa rokok didasarkan oleh pemberian donasi tersebut.
      
Penyangkalan memang bisa saja disampaikan, namun sulit untuk menerima bahwa 
tidak ada hubungan antara pemberian donasi dengan penetapan fatwa. Apalagi 
donasi dari Yayasan Michael Bloomberg secara khusus ditujukan bagi kampanye 
antirokok di Indonesia.
      
Ini tentunya pelajaran berharga bagi Muhammadiyah. Sebagai organisasi 
masyarakat berbasis keagamaan betapa pentingnya arti sebuah kepercayaan. 
Apalagi ketika hendak mengeluarkan sebuah aturan yang berkaitan dengan 
kehidupan masyarakat banyak.
      
Dalam konteks Indonesia, isu rokok tidak bisa dilihat secara sederhana. Sebab 
ini berkaitan dengan kehidupan begitu banyak petani tembakaU dan masyarakat 
yang bekerja di industri rokok.
    
Memang ada faktor kesehatan yang harus diperhatikan dan biaya kesehatan yang 
begitu mahal harus kita keluarkan untuk menangani  penyakit akibat merokok, 
apabila pembatasan tidak dilakukan. Namun penyelesaian persoalan tidak boleh 
dilakukan dengan menimbulkan persoalan yang baru.
      
Dalam konteks inilah maka penyelesaian persoalan rokok harus dilakukan secara 
lebih komprehensif. Terutama pemerintah harus memikirkan terlebih dahulu petani 
tembakau yang jumlahnya besar. Sebab bertani tembakau merupakan kegiatan yang 
sudah berlangsung turun temurun dan kebanyakan lahan yang mereka miliki hanya 
cocok untuk tanaman tembakau.
      
Bisa saja memang dicarikan alternatif tanaman yang bisa memberikan pendapatan 
seperti halnya tembakau. Namun itu tidak bisa sekali jadi. Kalau pun ditemukan 
tanaman yang bisa memberikan pendapatan yang minimal sama dengan tembakau, 
pemerintah harus mengajari petani untuk mengganti tanamannya tersebut.
      
Proses pergantian tanaman membutuhkan waktu sedikitnya tiga tahun. Sepanjang 
waktu itu pemerintah bukan hanya berkewajiban untuk mendampingi, tetapi 
memberikan kompensasi atas pendapatannya yang hilang akibat berhenti menanam 
tembakau.
      
Mengapa pemerintah harus bertanggung jawab? Pertama, karena pergantian tanaman 
bukanlah keinginan petani. Kedua, pemerintah tidak bisa membiarkan para petani 
tembakau kehilangan mata pencaharian, karena kalau itu yang terjadi akan 
menimbulkan ledakan pengangguran yang tinggi.
    
Itu belum kita memikirkan nasib jutaan pekerja yang hidup di industri rokok. 
Para pemilik industri rokok bisa menggantikan tenaga kerja manusia dengan 
mesin. Mereka pasti bisa bertahan dengan menggeser produknya ke pasar 
internasional. Namun terutama buruh rokok merupakan orang-orang dengan 
keterampilan yang terbatas dan tidak mudah bagi mereka untuk mendapatkan 
pekerjaan baru.
      
Aspek sosial inilah yang harus menjadi perhatian kita saat hendak menangani 
persoalan rokok. Kita tidak bisa hanya ikut kampanye global antirokok, tanpa 
harus memahami persoalan mendasar yang dihadapi bangsa ini.
      
Kita harus akui gerakan global antirokok berlangsung luar biasa. Jutaan dollar 
dana disediakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar paham akan bahaya 
merokok. Mereka mempunyai kemampuan untuk menembus kelompok-kelompok masyarakat 
yang dinilai bisa mendukung keberhasilan mereka.
    
Namun sekali lagi, penyelesaian persoalan Indonesia dengan menggunakan kaca 
mata global akan menyesatkan. Sekarang ini kita mulai melihat perlawanan dari 
daerah, khususnya dari para petani tembakau. Mereka tidak tinggal diam saat 
masa depan mereka diganggu.
      
Lalu bagaimana mencari cara penyelesaian yang terbaik? Tidak bisa lain kecuali 
mengundang semua pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mencarikan solusi 
yang bersama. Para pemangku kepentingan itu mulai dari pemerintah yang terdiri 
dari Kementerian Kesehatan, Perindustrian, Pertanian, dan Keuangan, kelompok 
masyarakat antirokok, petani tembakau, buruh pabrik, dan industri rokok.
    
Pertemuan para pemangku kepentingan akan memutuskan seperti apa kita akan 
menangani isu rokok. Kalau akan akan pembatasan peredaran rokok seperti apa 
penjadwalannya. Pada masa itu bagaimana kemudian kita mengeliminir dampak 
negatif dalam penerapan kesepakatan tersebut.
      
Pemaksaan kehendak jelas bukan solusi terbaik. Hal itu justru akan membuat 
semua pihak  mengambil ancang-ancang untuk berseberangan dan akhirnya hanya 
sekadar saling serang. Di tengah situasi masyarakat yang sedang cair, itu hanya 
akan menimbulkan persoalan sosial yang baru. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke