Siaran Pers Bersama
Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)
Departemen Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Institut Pertanian Bogor-IPB

*Apakah Laut Sebagai Penyerap atau Pelepas Karbon?*
*
*
*Bogor, 19 April 2010. *Departemen Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan
(ESL) IPB menyelenggarakan diskusi perubahan iklim dengan tema utama “Apakah
Laut sebagai Penyerap atau Pelepas Karbon”. Diskusi ini diawali dengan
sambutan Dekan Fakultas Ekonomi Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB);
Dr. Ir. Yusman Syaukat, menampilkan pemateri: Dr. Ir. Alan Koropitan (Dosen
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB) dengan sub-judul “Role of
the Indonesia Seas in the Global Ocean’s Carbon Cycle”; Riza Damanik
(Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, KIARA) sub
temanya “Strategi Adaptasi Perikanan Tradisional dalam Menghadapi Perubahan
Iklim” dan Agus Gunawan (Kepala Sub Divisi Adaptasi Perubahan Iklim di
sektor Pertanian dan Wilayah Pesisir) dengan sub-tema “Kesiapan dan
Meningkatkan Ketahan Masyarakat Pesisir untuk Adaptasi Perubahan Iklim”.
Diskusi ini pandu langsung Ketua Departamen ESL, Dr. Ir. Aceng Hidayat.
Diskusi yang sudah menjadi agenda komunitas internasional menarik antusiasme
dari kalangan IPB mulai dari mahasiswa S1, S2, dan S3 dan staf pengajar yang
berasal dari pelbagai fakultas di lingkungan IPB.

*Posisi Laut Indonesia*
Dr. Alan Koropitan dalam paparan makalahnya menyajikan secara komprehensif
soal apakah laut berperan sebagai penyerap karbon (Carbon Sink) atau pelepas
karbon (Carbon sources). Dr. Alan menjelaskan, sebelum revolusi industri
“Laut Global” memang berperan sebagai penyerap karbon. Pasca revolusi
industri laut global bukan lagi sebagai penyerap melainkan pelepas karbon
diatmosfir. Terjadi keseimbangan baru dalam siklus biogeokimia laut. Pun,
secara regional tak semuanya lautnya berperan sebagai penyerap karbon
terutama laut tropis.  Laut samudera bagian selatan oleh para ilmuwan
diyakini sebagai penyerap karbon pun kini sudah mengalami penurunan tingkat
penyerapannya. Bila memang betul Samudera bagian selatan berperan sebagai
penyerap karbon, siapa yang berhak mengklaim dan memilikinya, tanya Alan.?
Apakah ada Negara yang merasa menguasai samudera bagian selatan hingga kini?
Pasca revolusi industri nyatanya menurut Dr. Alan peran laut global,
termasuk laut samudera bagian selatan, sudah berubah menjadi pelepas karbon.
Makanya. Dr. Alan tak sepakat laut masuk dalam Carbon Development Mechanism
(CDM). Bahkan, soal terbaru “Blue Carbon” yang merupakan proposal UNEP 2009,
menurut Dr. Alan masih perlu dipertanyakan karena masih dalam tataran wacana
belum jelas bagaimana “guidance-nya” terutama mencakup metode pengukuran,
kebutuhan dan standar materialnya hingga indikatornya. Gambar di bawah ini
menyajikan siklus karbon global di atmosfir.

Gambar 1. Siklus Karbon Global
[terlampir]

Gambar ini menurut Dr. Alan, siklus karbon global sudah mengalami
keseimbangan baru yang disimbolkan oleh garis berwarna merah. Proses
perubahan ini terjadi akibat kegiatan manusia (antropogenik) yang
meningkatkan emisi CO2 di atmosfir yang bersumber dari bahan bakar fosil,
perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan pelepasan karbon ke atmosfir
meningkat. Akibatnya, terjadi penumpukkan karbon di atmosfir yang kemudian
menurunkan peran ”laut global ” sebagai penyerap karbon pasca revolusi
industri. Kini laut tak lagi berperan sebagai penyerap melainkan sebagai
sumber karbon.

*Kesiapan Masyarakat Menghadapi Perubahan Iklim*
Pemateri berikutnya dalam diskusi ini adalah Agus Gunawan, dari KLH
menyajikan menyajikan secara komprehensif soal bencana yang muncul di
Indonesia akhir-akhir ini dan kaitannya dengan perubahan iklim. Menurutnya,
data Bappenas dan Bakornas PB, 2006) menyebutkan bahwa periode 2003-2005
bencana yang terkait dengan hidro meteorologi mencapai 53,3 %. Periode
2005-2007 mengutip data Kementerian Kelautan dan perikanan menyebutkan sudah
24 pulau kecil di Indonesia tenggelam. Masalahnya, apakah pulau itu
tenggelam akibat perubahan iklim dalam hal ini kenaikan permukaan laut?
Masih belum ada penelitian yang komprehensif. Sama halnya dengan kejadian
banjir, badai, rob dan curah hujan yang tinggi, apakah itu akibat perubahan
iklim global atau kejadian iklim yang bersifat ekstrim? Belum tentu fenomena
iklim ekstrim kesemuanya digolongkan sebagai perubahan iklim global. Dalam
paparannya juga Pak Agus menyajikan hasil riset kasus di Pulau Lombok soal
kenaikan muka air laut. Hasil penelitian ini menyajikan suatu pemodelan
matematika yang memproyeksi dampak kenaikan permukaan laut  dan luasan
resiko wilayan daratan yang terendam. Misalnya peta berikut menyajikan
proyeksi tahun 2030 yang disajikan dalam gambar berikut.

Tabel 1. Proyeksi Resiko Kenaikan Muka Laut di P. Lombok Tahun 2030
No. Level of Risk Area (Hektar)
1. Low Risk         1.215,86
2. Moderate Risk 701,9
3. High Risk         5.258,78
4. Extreme         7.768,67

Sumber: Gunawan (2010)

Diakhir presentasinya Pak Agus menyajikan dua dalam menyikapi dampak
perubahan iklim yaitu mitigasi dan adaptasi. Keduanya juga harus mendapatkan
dukungan pemerintah daerah dengan cara mengintegrasikannya dalam kebijakan
daerah.

Gambar 2. Proyeksi Dampak Kenaikan Muka Laut di P. Lombok Tahun 2030
(Sumber: Gunawan (2010)
[terlampir]

*Realitas Nelayan dan Iklim Ekstrim*
Pemateri ketiga, Riza Damanik yang menyajikan strategi perikanan tradisional
menyikapi dampak perubahan iklim ini. Sebelumnya, Riza menyajikan pelbagai
fakta empiris soal kolektivitas krisis yang menyangkut krisis pangan dan
iklim yang sudah menjadi keprihatinan masyarakat dunia.

  Tabel 2. Kolektivitas Krisis di Dunia maupun di Indonesia

Krisis Pangan

Krisis Iklim

Konteks Dunia

Lebih 1 milyar warga dunia menderita kelaparan (FAO, 2009)

Pemutihan karang *(coral bleaching)* menurunkan kualitas dan kuantitas
sumberdaya ikan

75% produk perikanan di Asia Tenggara untuk konsumsi Amerika, Eropa, Jepang,
dan Cina

24.000 nelayan meninggal dunia di laut, yang diantaranya disebabkan oleh
cuaca ekstrem (FAO,2008)



Ada upaya komersialisasi perairan laut atas nama reduksi karbon melalui,
diantaranya: *Coral Triangle Initiative (CTI), Blue Carbon Fund (BCF)*

Konteks Indonesia

Secara nasional, impor perikanan terus tumbuh. Di tahun 2007, volume impor
baru berkisar 120.000 ton. Lalu naik lebih dari 100% menjadi  280.179,34 ton
pada tahun 2008.

Periode Desember 2008 – Maret 2009: tercatat 46 orang nelayan meninggal
dunia saat menangkap ikan di laut, faktor dominan cuaca ekstrem.



Keputusan untuk mengimpor cakalang, tepung ikan, ikan patin, dan impor jenis
pangan lainnya mengakibatkan keuangan negara sebesar lebih dari Rp50 triliun
tergerogoti.

Di perairan Kabupaten Tarakan, Kalimantan Timur, nelayan hanya bisa
memprediksi cuaca dan musim untuk bulan Agustus, sedang 11 bulan lainnya
dalam setahun sulit untuk diprediksi.

Pada tingkat lokal: Ikan Terubuk sulit ditemukan dipasar lokal di Kepulauan
Riau; Di Wakatobi, tangkapan ikan terus menurun dalam 5 tahun terakhir

CTI Business Summit, Januari 2010. Lebih dari 80% perairan CTI adalah
perairan Indonesia, yang terbuka di komersialkan, dan menyempitkan ruang
penghidupan nelayan.
   Sumber: Damanik, 2010

Dalam kesimpulan akhir paparannya memberikan beberapa gagasan yakni:

   1. Pentingnya mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan sumberdaya
   ikan, dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pangan nasional secara
   berdikari.
   2. Pentingnya memberikan perlindungan pada wilayah perairan tradisional,
   serta pemenuhan hak-hak nelayan tradisional.
   3. Pentingnya memaknai kegiatan perikanan sebagai sumber pangan,
   pengembangan budaya nasional, dan sumber ekonomi kerakyatan.
   4. Pentingnya memahami kegiatan perikanan secara utuh, dengan memaknai
   keterlibatan perempuan nelayan di dalam kegiatan perikanan sebagai subyek
   yang teramat penting.


Di akhir diskusi Ketua Departemen ESL, Dr. Ir. Aceng Hidayat memberikan
kesimpulan akhir bahwa:

   1. Menyikapi paparan dari tiga pemateri mengindikasikan secara kuat bahwa
   laut sesungguhnya lebih berperan sebagai sumber karbon (Carbon Sources).
   2. Proses adaptasi akan jauh lebih penting ketimbang mitigasi, terutama
   bagi masyarakat pesisir yang bermukin di wilayah pesisir. Masyarakat di
   wilayak pesisir memiliki daya lenting (Reseliance) untuk beradaptasi dengan
   kondisi lingkungan yang ekstrim sekalipun. Umpamanya, masyarakat Bugis –
   Makassar yang bermukim di wilayah pesisir membangun rumah – rumah  panggung
   sebagai bentuk adaptasi mereka dengan kondisi wilayah pesisir yang dinamis.
   3. Kebijakan perdagangan internasional maupun nasional harus memiliki
   reorientasi yang lebih mengedepankan kepentingan nasional dan kedaulatan
   negara sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945, khususnya dalam
   perdagangan komoditas sektor perikanan dan kelautan.

***

*Info lebih lanjut, silahkan menghubungi:*
Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) M. Riza
Damanik
riza @kiara.or.id/ 0818773515

Ketua Departemen ESL- IPB.,  Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT
081317304348


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS

2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , 
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/

3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota

4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]

5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke