Salam, Betul2 generasi baru yang sama sekali tidak tahu sejarah. Industri pesawat terbang di In donesia dirintis oleh NURTANIO bukan Habibie. Nama agung Nutanio karena irihatinya yang kerdil dari Habinie dihilangkan sebagai nama industr(pabrik). Karena Habibie sekarang kwalat dan GAGAL baik dibidang politik sebagai presiden dengan masa yang paling pendek karena tidak dikenal/sukai rakyat dan N-250 impiannya juga gagal total. Ia tinggal di Jerman dengan alasan menjaga istri yang sakit.Setelah m inggal kita lihat apakah dia mau tinggal di Indonesia.
Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Sen, 17/5/10, Zulkifli <[email protected]> menulis: Dari: Zulkifli <[email protected]> Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Indonesia-Korsel mau bikin pesawat tempur sekelas F-16 ? Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 17 Mei, 2010, 10:26 AM > > Upaya PT Dirgantara Indonesia > Bertahan di Industri Pesawat Terbang > > Bangkit Lewat Ketiak Sayap > Airbus > > Dalam beberapa kesempatan, Prof Dr Ing > Bacharuddin Jusuf Habibie mengaku sangat kecewa melihat nasib PT Dirgantara > Indonesia. Sebab, industri pesawat terbang yang dirintisnya itu kini jalan di > tempat. Bagaimana kondisinya sekarang? > --- > " KITA > pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk > membuktikan > bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa > pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di > depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di > Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu > (12/3). (Pernah ada tawaran dari pihak BJH untuk membenahi PTDI dengan meminta "golden share" tetapi setelah ditantang oleh Laksamana Sukardi, berita ini hilang dari media massa.) > > Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) > memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama > Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden > direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di > kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 > hektare. (Si Bleguk juga bisa, wong apa pun dan berapa pun (termasuk dana reboisasi dialihkan untuk menombok gaji karyawan IPTN saat itu.) > > Yang paling laris adalah pesawat > CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder > dari > dalam negeri maupun luar negeri. (Produk patungan Spanyol-Indonesia ini di dalam negeri sebanyak 15 "diwajib-pakaikan" oleh pemerintah Orba dan 7(8) bergelimpangan di luar hangar "Aircraft Services" IPTN selama bertahun-tahun hingga IPTN dirontokkan sendiri oleh krisis ekonomi dalam negeri. Di luar negeri berhasil dijual oleh CASA Spanyol (baca: BUKAN IPTN) untuk keperluan angkut militer (terbanyak di Turki); IPTN hanya mampu menjual di bawah 30 unit, ke Thailand dibayar dengan beras ketan, ke Malaysia molor, ke Korsel idem ditto.) Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 > orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, > NAS-332 > Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut > begitu > membanggakan bangsa saat itu. (Terlalu berbuih sabunnya Mas, ini cuma rakitan IPTN dengan lisensi.) > > Namun, persoalan muncul saat krisis > ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama > Industri > Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari > luar > negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas > ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah > air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari > N-250. > > PT DI menerima pesanan 120 pesawat. > Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. > Ribuan > karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. ''Kami berupaya > keras menyelesaikan proyek itu sesuai target,'' tutur Direktur Integrasi > Pesawat > PT DI Budiwuraskito saat ditemui Jawa Pos di Bandung pekan > lalu. > > Namun, PT DI harus menelan pil pahit. > Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund alias IMF > mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, > Indonesia > tak boleh lagi berdagang pesawat. ''Itu benar-benar memukul kami,'' kata > Budiwuraskito, pria Semarang ini. > > Padahal, kata Budi, PT DI telanjur > merekrut banyak karyawan. Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan. > Semua siap produksi. Pesawat contoh bahkan sudah jadi, sudah bisa terbang, > dan > siap dijual. Tinggal menunggu proses sertifikasi penerbangan. ''Nggak tahu, > mungkin ada negara yang takut tersaingi kalau Indonesia bikin pesawat,'' > ujarnya > mengingat sejarah kelam PT DI itu. > > Bayangan menerima duit gede USD 1,2 > milliar menguap. Malah, PT DI harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang > telanjur direkrut. Proyek memang batal, tapi orang-orang yang hidup dari PT > DI > juga tetap harus dikasih makan. ''Akhirnya, mau tidak mau, kami mem-PHK > karyawan > secara baik-baik,'' katanya. (Angan-angan setinggi apa pun boleh-boleh saja. Pada saat N-250 digelindingkan keluar dari hangar perakitan, PASAR DUNIA UNTUK PESAWAT SEUKURAN N-250 TELAH BERALIH KE PASARAN PESAWAT BEKAS. Oleh karena itu pabrik yang memproduksi pesawat tempur Gripen menutup usahanya yang jangankan pesawat contoh, pesawat yang sudah dioperasikan oleh dunia angkutan udara sudah berpopulasi di atas sepuluh. Mereka realistik pesawat sipil tidak ada pasar lagi, mereka tetap memproduksi pesawat militer. Fokker TUTUP. Pabrik pesawat sejenis yang telah beroperasi ramai-ramai beralih ke mesin jet demi memenuhi permintaan pasar yang lebih senang dengan pesawat bermesin jet.) > > Pada 2003, PT DI memutus kerja > sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu > pekerja, > PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun > manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi > order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan. > > Namun, PT DI berupaya mempertahankan > diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan > komponen > pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan > sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci. > > ''Pabrik-pabrik pembuat panci itu kan perlu alat > pencetak. Biasanya mereka impor dari luar negeri. Mengapa harus impor kalau > bisa > kita bikinin. Dan, itu lumayan untuk membuat roda perusahaan berjalan,'' kata > Budi. Tapi, urusan panci itu tak banyak membantu. Pada 2007, BUMN yang > didirikan > pada 26 April 1976 itu dinyatakan pailit alias bangkrut. (Berkat kebangkrutan IPTN, teman saya sekarang sudah makmur karena dia sekarang menjadi pekerja internasional di Inggris.) > *** > PT DI > tak lantas almarhum. Pemerintah masih punya keinginan mengembangkannya meski > modal yang diberikan tak terlalu deras. Dan, kendati sudah dinyatakan pailit, > masih ada rekanan dari mancanegara yang percaya akan kualitas produk PT > DI. > > Salah satunya British Aerospace (BAE). > PT DI mendapat order sebagai subkontrak sayap pesawat Airbus A380 dari pabrik > burung besi asal Inggris itu. Juga ada order dari dua negara Timur Tengah > enam > pesawat jenis N-2130. Apalagi, Indonesia sudah menceraikan IMF. Artinya, PT > DI > sudah leluasa berdagang pesawat. (Kalau yang ini, angan-angan yang lebih tinggi dari langit; bahkan langit ketujuh. Untuk sertifikasi N-250 yang secuil saja tidak punya duit, konon lagi meneruskan rancangan N-2139 yang merupakan adik N-250 yang buku rancangannya baru sebatas halaman judul dan daftar isi pada saat krismon berkecamuk di Bandung. N-2130 juga sedikit menyinggung produk Airbus, yang dari segi "commonality" saja orang bakal mencoret produk ini untuk masuk dalam jajaran armadanya. Konon lagi dari persaingan dukungan produk yang Boeing saja kelimbungan dibuat Airbus.) > > Budi menuturkan, order enam pesawat > itulah yang bisa dibilang ''menyelamatkan'' PT DI saat itu. Laba dari pesanan > itu digunakan sebagai modal pengembangan. Selain itu, PT DI semakin fokus > menggarap pasar komponen dan bagian-bagian pesawat dengan menjadi subkontrak > atau offset program. Antara lain bagian inboard outer fixed leading edge > (IOFLE) > dan drive rib alias ''ketiak'' sayap milik Airbus A380. > > Airbus A380 adalah pesawat bikinan > Airbus SAS (Prancis) yang sudah kondang di jagat dirgantara. Pesawat ini > biasanya digunakan untuk penerbangan internasional lintas benua dengan muatan > 500 hingga 800 penumpang. ''Kita mencoba meraih untung dengan menjadi > subkontrak > dari pemain besar,'' kata Budi. > > Kondisi PT DI terus membaik. Dalam > waktu dekat mereka akan memproduksi pesawat tempur dengan dana urunan bersama > pemerintah Korea Selatan (Korsel) sebesar USD 8 milliar. Indonesia menyumbang > USD 2 milliar, sedangkan pemerintah Korsel USD 6 milliar. ''Tapi, untuk > Indonesia itu akan kita konversikan dalam bentuk tenaga, teknologi, dan > pengembangan pesawat tersebut,'' katanya. > > Kemampuannya tak jauh berbeda dengan > F-16 Fightning Falcon, pesawat tempur kondang buatan Amerika Serikat yang > digunakan 24 negara di dunia. Rinciannya, 200 unit untuk Korsel dan 50 untuk > Indonesia. ''Proyek ini memakan waktu sampai tujuh tahun,'' kata > Budi. > > Selain itu, order dari Timur Tengah > terus berdatangan. Sejumlah negara memesan CN-235 untuk pesawat pengawas > pantai, > pengangkut personel militer, dan pemantau perbatasan. Dari dalam negeri, > Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga memesan enam unit helikopter dan Badan > SAR > Nasional (Basarnas) empat unit. > > Budi mengakui, tren industri > dirgantara di Indonesia terus naik kendati perlahan. Paling tidak, tujuh > tahun > ke depan, PT DI bisa meraup laba yang lumayan dari membuat pesawat. > Sebenarnya, > kata Budi, keuntungan itu bisa didongkrak bila ada keberanian mencari > pinjaman. > Tapi, itu bakal sulit. ''Tidak banyak bank yang mau. Sebab, risikonya terlalu > tinggi. Padahal, semakin tinggi risiko, janji revenue juga besar,'' kata Budi > yang lulusan Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan > menyelesaikan gelar MBA di Belanda itu. > > Strategi pengembangan PT DI saat ini, kata Budi, tak > bisa terlalu ekspansif. PT DI memilih berjalan perlahan dengan memanfaatkan > margin keuntungan sebagai modal pengembangan. ''Begini saja, lebih aman,'' > kata > Budi lantas tersenyum. (Mudah-mudahan Budi Santoso dapat mewujudkan rencananya dalam waktu dekat ini, mumpung sebelum pensiun.) ga/c2/iro) > > (JawaPos) > > > http://defense-studies.blogspot.com/2010/03/pt-di-akan-membuat-50-pesawat-tempur.html > > > Satrio Arismunandar > Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3 > Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 > Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542, Fax: 79184558, > 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.comhttp://satrioarismunandar.multiply.com Verba > volant scripta manent...(yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan > abadi...) > . > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed]
