Jadi yg penting isi bukan judul.... krn bisa saja yg gelarnya S 1 lebih sedikit isinya dari pada yg tidak bergelar sarjana.
Lha yg sekarang S3 aja... saya yakin banyak yang akan mengatakan bhw ternyata yg non s sebelumnya masih mendingan dibanding yg sekarang itu :( Menurut sy yg penting track record ,, misalnya pernah jd gubernur sukses.. atau jd presiden sukses... lalu ya lihat visi kedepannya... Wong syarat yg berat sudah ada kok..... harus didukung oleh parpol atau gabungan parpol yg memiliki kursi sekian persen..., misalnya ada calon independen... juga pasti harus didukung oleh rakyat sekian banayak,,,, Selebihnya... bikin aja semuanya transparan... biar di pertimbangkan oleh pemilih.... Kalau lawannya pikir yg sudah s lebih baik sementara lawannya belum s... tinggal jual ide itu pada pemilih saat kampanye .. agar rakyat tidak memilih yg non s itu... Gitu aja kok repot... kalau mau repot... mending bikin pendidikan pemilih agar tahu cara memilih dengan baik.. cara mempertimbangkan dengan baik... dari pada bikin aturan neko neko seperti harus S 1 itu.... Kira kira pendidikannya begini lho : hai rakyat .. kalau mau milih tolong lihat... apa pendidikannya,... krn pednidikan bisa mempengaruhi hal hal sbb... lalu perhatikan juga kesehatannya... krn kalau dia tidak sehat maka.... bis a begini begitu.. perhatikan juga track record nya.... apa bagus apa nggak.. perhatikan apa dia pernah korup atau tidak... dst nya......pokoknya ajari aja deh cara milih yang baik... Salam, Hnaiwar At 09:20 PM 3/21/2007, you wrote: >Wacana ini bagaikan pisau bermata dua, bisa dilihat >sebagai batu sandungan untuk menganjal seorang calon >lain, tetapi bisa juga untuk sebagai seleksi awal >menjaring calon yang berkualitas. Bill Gates memang >tidak lulus kuliah, tetapi ia mempunyai visi yang >jelas dan sangat menguasai bidang-bidang yang >menentukan suksesnya sebuah organisasi, yaitu >marketing, produksi, hukum, finance & personalia. > >Dalam sebuah perusahaan, seorang pemimpin yang baik >harus mempunyai visi, akan dibawa kemana organisasinya >di masa depan. Kedua ia harus mempunyai konsep, >bagaimana cara mencapai visinya, jika tidak ia hanya >akan disebut sebagai pemimpi. Ketiga, ia harus bisa >mencari dan menempatkan orang-orang, yang dipercaya >mampu menjalankan gambaran tugas-tugas dibenaknya >dengan baik. Keempat, ia harus bisa menyesuaikan semua >rencana kerjanya dengan anggaran yang tersedia. > >Ini baru dalam tataran perencanaan, dalam tahap >pelaksanaan sang pemimpin akan menghadapi banyak >persoalan seperti parameter-parameter yang berubah, >pembantu yang tidak cakap, sistem kerja yang tidak >effisien dsb. Memang, ia dapat mendelegasikan semua >hal ke asistennya, tetapi setidaknya sang pemimpin >harus mengerti secara umum tidak perlu secara detail > masalah-masalah dan pokok permasalahannya. Jadi, ia >tidak gampang diperdaya dan dimanfaatkan anak buah. >Bidang-bidang ilmu tersebut biasanya diajarkan dalam >masa kuliah. > >Kembali ke Bill Gates, di Indonesia, saya punya rekan >yang tidak lulus kuliah SD tetapi mempunyai kaliber >melebihi PHD, dan sekarang adalah owner beberapa >pabrik. Memang pendidikan tidak bisa dijadikan >patokan. Tetapi, supaya tidak membeli kucing dalam >karung, apa tidak sebaiknya pemaparan Visi & debat >publik antar calon dibakukan saja dalam UU. > >Salam, >Johny
