Salam,

Belasan tahun keluarga saya menggunakan gas elpiji 12 kg. Sejak masih
berharga Rp 9000 per tabung hingga sekarang Rp. 72.000 per tabung. Tidak
pernah ada masalah hingga adanya permintaan yang akan gas elpiji yang sangat
tinggi karena pemerintah memaksakan penggunaan gas elpiji bagi seluruh
masyarakatnya.

Sudah dua kali, kebocoran terjadi pada tabung elpiji di rumah saya dalam 2
bulan ini. Pada waktu pemasangan, tidak ada masalah, tetapi setelah
pemakaian kurang lebih setengah, tabung gas mengeluarkan gas, memang bukan
dari tabungnya tetapi dari regulatornya.

Untung belum fatal, gas masih belum terkonsentrasi tinggi. Istri saya
langsung memanggil tetangga, melepaskan regulator dari tabung dan kemudian
mengikat mulut tabung dengan karet gelang. Regulator dipasang lagi dan tidak
ada kebocoran.

Masalahnya bukanlah bisa bertindak dengan cepat untuk mengatasinya, tetapi
bagaimana supaya hal itu tidak terjadi. Saya kira semuanya terletak tidak
pada pemakai alias end user yaitu rumah tangga. Untuk pengadaan fasilitas
ini, seharusnya pemerintah bertanggung-jawab mulai dari pengadaan tabung,
regulator, karet dan selang yang mana dalam konteks ini adalah memastikan
bahwa semua alat-alat tersebut aman dan sesuai dengan kualitas yang baik.

Sejak kejadian tersebut dan ditambah dengan ledakan-ledakan yang terjadi,
rasa was-was saya semakin tinggi dengan pemakaian gas elpiji ini. Tetapi
untuk menggunakan minyak tanah, saya merasa mengalami kemunduran yang
tentunya bukan tujuan pemerintah dalam konteks pembangunan bangsanya.

Memang, saya harus akui, entah logika apa yang digunakan oleh wakil partai
demokrat tersebut untuk membenarkan atau setidaknya membela 'diri' atas
kejadian-kejadian ledakan tabung gas. Dan sialnya, mereka kemudian hanya
mencari kambing hitam dan tidak mencari solusi.

Rapat, mungkin, menurut mereka adalah the ultimate solution untuk memecahkan
masalah ini.

Salam
Rinsan Tobing.


Kirim email ke