DEAR mbak NANA,
Terimakasih sudah FW suratnya pak Firdaus Cahyadi kepada kita semua.
Saya juga sudah banyak menulis emails, dan juga mendapat respons dari 
berbagai pihak.
Sayangnya saya kekurangan waktu untuk misalnya dapat intens bersuara bahkan 
'bertindak' lebih jauh. Namun teman-2 di Ikatan Porfesi Arsitektur Lansekap 
(IALI) selain menulis beberapa himbauan (meneruskan himbauan saya) juga 
sudah berusaha menemui sekretaris DPD, Ibu Dr. Siti Nurbaya, agar mengangkat 
wacana ini menjadi diskusi di antara anggota dewan yang terhormat itu dan 
sangat mengharap agar pembangunan yang tak pada tempatnya ini segera 
dibatalkan, tak peduli dgn kontrak-2 yang sangat tidak transparan bagi 
masyarakat umum. (mohon direfer kepada UU 26/2007 tentang Penataan Ruang dan 
UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LH.

Hak masyarakat untuk LH yang bersih, aa=man dan nyaman adalah HAK SEMUA 
ORANG, dengan dibangunnya berbagai struktur bangunan yang padat dan meninggi 
apalagi dengan merusak eksistens RTH yang berfuingsi  a.l. melestarikan 
fungsi LH, tanpa studi mendalam pun sudah dirasakan dampak negatifnya bagi 
kesehatan manusia umumnya.

Begitu dulu mbak Nana dan rekan-2 sekalian yang peduli akan terus 
ditingkatkannya fungsi LH, a.l. dengan mengembalikan fungsi kawasan untuk 
berolahraga yang sayangnya justru dirusak dan tak dipedulikan oleh mereka 
(pemerintah pusat dan daerah) dengan membuat kontrak-2 yg secara hukum 
mengikat tanpa ada kesempatan bagi masyarakat (melalui wakilnya pun) untuk 
menerima haknya akan LH yang baik.  Informasi tentang segera akan 
dibangunnya entahbantgunan apa lagi di lahan ex- Putt Putt Golf, dan 
lapangan (gedung basket) A, B, C ini (harus dikonfirmasi dengan pihak 
pengelola YGBK) pasti akan semakin sumpeklah komplek OR YGBK ini.  Apalagi 
hampir di sebagian besar kawasan tsb,.pepohonan yang sudah ditanam sejak 
tahun 1962 (dimulainya pembangunan untuk arena ASIAN Games) sudah 
tumbuhbegitu sehat dan subur secara optimal PASTI akan mengurangi polutan 
(udara, tanah dan air) di dalam LH-hidup khususnya sekitar kompleks YGBK, 
MPR/DPR dan Manggala Wana Bhakti.

Salam prihatin,
Ning P

----- Original Message ----- 
From: "Nana Firman" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, July 26, 2010 11:25 PM
Subject: [jakarta2030:2096] Fwd: Surat Terbuka untuk Pak Emil Salim


> FYI.
>
> Apakah KOWAR juga akan kritis terhadap isu ini?
Regards, NANA :)
======================================================
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of firdaus cahyadi Sent: Monday, July 26, 2010 8:44 AM
Subject: [bencana] Surat Terbuka untuk Pak Emil Salim

Pak Emil Salim, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden
(Watimpres) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tentu Bapak mengikuti perdebatan
mengenai polemik rencana pembangunan Mall di kawasan Taman Ria Senayan
Jakarta di berbagai media massa.

Pihak Sekretariat Negara yang kabarnya mengelola kawasan itu telah
> terikat perjanjian dengan sebuah perusahaan swasta. Berbagai surat
> kabar
> mengabarkan bahwa perusahaan swasta itu akan mengembangkan kawasan
> Taman
> Ria Senayan sebagai kawasan pertokoan dan tempat hiburan, meskipun
> masih
> menyisakannya untuk ruang terbuka hijau.
>
> Pak Emil Salim yang terhormat, Bapak tentu mengetahui bahwa kota
> Jakarta
> telah penuh sesak dengan kawasan komersial (mall, pertokoan, tempat
> hiburan, hypermarket). Saya yakin Bapak juga sangat paham bahwa
> penambahan kawasan komersial di kota Jakarta, termasuk di kawasan
> Taman
> Ria Senayan, akan menyebabkan semakin banyak menarik orang untuk
> datang
> ke Jakarta. Sebagian yang datang ke Jakarta dan mengunjungi kawasan
> komersial itu adalah orang-orang kaya dengan mobil pribadinya. Artinya
> itu akan menambah kemacetan lalu lintas dan polusi udara di Jakarta.
> Sementara saya, sebagai orang yang kebetulan bekerja di Jakarta, telah
> muak dengan kemacetan lalu lintas dan polusi udara di kota ini. Saya
> butuh menghirup udara bersih! Dan saya yakin ini kebutuhan semua warga
> kota Jakarta, baik yang menetap, kost ataupun sekedar bekerja.
>
> Pak Emil Salim yang terhormat, saya juga ingin melihat ruang terbuka
> hijau (RTH) yang luas sebagai ruang publik di Jakarta. Bapak Emil
> Salim,
> andaikan kawasan Taman Ria Senayan itu tidak dibangun untuk kawasan
> komersial, melainkan ruang terbuka hijau (RTH) untuk publik, tentu
> akan
> menambah kesegaran udara dan mampu menambah daerah resapan air di kota
> ini, yang mampu menahan air larian (run off) saat terjadi hujan serta
> mampu meningkatkan cadangan air tanah di kota ini.
>
> Pak Emil Salim, sebagai orang awam, saya tidak paham dengan
> serangkaian
> perjanjian yang telah ditandatangani oleh Sekretariat Negara dengan
> pihak swasta. Yang saya paham, kota Jakarta telah penuh sesak dengan
> kawasan komersial. Jakarta butuh udara bersih, Jakarta butuh ruang
> terbuka hijau, Jakarta butuh hutan kota, Jakarta butuh daerah resapan
> air, dan Jakarta tidak butuh penambahan kawasan komersial baru.
>
> Pak Emil Salim, dalam sebuah pengantar buku yang diterbitkan oleh
> Kaukus
> Lingkungan Hidup Jakarta pada tahun 2006-2007, Bapak menuliskan bahwa
> perencanaan hyper-market serta mal-mall perlu dibatasi untuk tidak
> memadatkan kota Jakarta dan diusahakan penyebarannya ke luar kota.
> Nah,
> saat ini sebagai anggota Watimpres SBY, adalah kesempatan emas untuk
> mewujudkan pokok pikiran Bapak tersebut. Saya memohon dengan hormat
> kepada Bapak Emil Salim untuk memberikan nasehatnya kepada Presiden
> SBY
> agar pemerintah pusat tidak ikut serta menghancurkan kota Jakarta
> dengan
> memberikan kebebasan swasta untuk membangun kawasan komersial di area
> yang dikelolanya, termasuk kawasan Taman Ria Senayan, Jakarta.
>
> Demikian atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan banyak
> terimakasih. Dan mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan di hati
> Bapak Emil Salim.
Hormat saya,
 Firdaus Cahyadi, warga negara biasa yang kebetulan kerja di Jakarta
------------------------------

Kirim email ke