Surat Terbuka untuk Pak Daniel Murdiyarso, Penerima Bakrie Award
Pak Daniel Murdiyarso yang terhormat, mungkin Bapak tidak mengenal
saya, karena saya memang bukan siapa-siapa. Tapi saya mengenal Bapak
sebagai peneliti lingkungan hidup ternama. Sebagai orang awam, saya
sering mendengar nama Bapak saat menjelang konferensi perubahan iklim
di Bali 2007 lalu.
Pak Daniel Murdiyarso, akhir-akhir ini saya kembali mendengar nama
Bapak di berbagai media. Namun bukan sebagai seorang peneliti
lingkungan hidup melainkan penerima Bakrie Award 2010.
Pak Daniel Murdiyarso, sebagai peneliti lingkungan hidup tentu Bapak
mengikuti perkembangan tragedi ekologi terbesar di negeri ini.
Ya...tragedi itu bernama semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo.
Pak Pak Daniel Murdiyarso, saat ini dampak buruk semburan lumpur
Lapindo telah sangat meluas. Bukan hanya rumah, sawah dan tempat usaha
yang tenggelam lumpur, namun juga pencemaran udara dan air tanah.
Bahkan kini gas-gas liar yang mudah terbakar juga sudah muncul di
mana-mana. Tanah Porong, kini pun mulai ambles. Setiap hari warga
Porong, Sidoarjo selain harus menghirup udara beracun juga harus
siap-siap menjadi pengungsi ekologi.
Pak Daniel Murdiyarso, ada baiknya sekali waktu anda mengadakan
penelitian soal lingkungan hidup di Porong, Sidoarjo. Rasakan apa yang
dirasakan warga korban lumpur. Selamilah kehidupannya. Rasakan
kesedihan mereka. Rasakan pula kemarahan mereka yang terpendam karena
selama empat tahun semburan lumpur merasa diabaikan sebagai warga
negara di Republik Indonesia.
Pak Daniel Murdiyarso, di sebuah harian nasional (29/7) saya membaca
bahwa anda menerima Bakrie Award, karena sudah ada pihak yang
menghargai anda. Padahal, saya yakin, tanpa menerima Bakrie Award pun
banyak orang yang telah menghargai prestasi anda.
Pak Daniel Murdiyarso, menerima atau menolak Bakrie Award adalah hak
anda. Namun kewajiban anda sebagai ilmuwan, yang sejauh ini saya tahu,
adalah tetap menjaga integeritas. Semoga penghargaan Bakrie Award tidak
merusak integeritas anda. Semoga penghargaan Bakrie Award tidak
menghalangi anda untuk ikut berempati dan membela korban dari tragedi
ekologi terbesar di negeri ini, Lumpur Lapindo. Meskipun sebagai orang
awam saya juga tidak pasti tahu mungkinkah anda bisa akan berempati dan
membela korban lumpur sementara di sisi lain anda menerima Bakrie Award.
Pak Daniel Murdiyarso, hingga kini saya masih berharap bahwa yang
menerima Bakrie Award itu bukan Pak Daniel Murdiyarso yang saya kenal,
tapi Pak Daniel Murdiyarso yang tidak saya kenal.
Pak Daniel Murdiyarso, akhirnya saya mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak
berkenan di hati Bapak.
Salam,
Firdaus Cahyadi, orang awam yang prihatin terhadap kasus lumpur Lapindo
[Non-text portions of this message have been removed]