Kemarin saya dengar dari sebuah talkshow di teve (metro?) mengenai buku Esbeye dan Istananya" yang ditulis wartawan Kompas. Pembahasnya antara lain Effendi Gozali. Disebutkan bahwa di bagian dalam istana pernah terlihat sebuah mobil Rolls Royce dengan nomor polisi 234. Penulis tidak secara langsung menyebut bahwa mobil itu milik bos Sampoerna atau hadiah dari bos Sampoerna kepada SBY, hanya menyebut kemudian kemungkinan kaitannya dengan hubungan dekat antara bos Sampoerna dengan SBY, terutama dalam kasus bank Century. Saya belum sempat membeli buku itu, mungkin besok saya mencarinya. Jika sinyalemen penulis buku itu benar seperti yang diungkapkan di teve, maka harapan teman-teman yang mengusung gagasan pengendalian rokok kemungkinan besar akan gagal di masa pemerintahan SBY ini. Teman-teman itu kini memahami mengapa pemerintah RI sampai sekarang tidak mau menanda tangani FCTC-WHO, meskipun negara lain di Asia sudah menanda tanganinya. Di Asia Pasifik ini tinggal RI yang belum menanda tangani. Di dunia ini tinggal Uganda dan RI yang belum menanda tangani FCTC. Juga meskipun di pertemuan OKI (negara-negara Islam) di Kuala Lumpur tahun 2007, menkes RI waktu itu sudah menanda tangani kesepakatan untuk mengendalikan perdagangan rokok demi kesehatan rakyat. Juga mengapa Deklarasi Anak yang sedianya dibacakan di depan SBY di Taman Mini beberapa hari yang lalu dibatalkan, kemungkinan sekali karena di dalamnya ada permintaan anak-anak agar mereka dilindungi dari asap rokok. Pemerintah RI agaknya lebih memilih, daripada melindungi anak-anak lebih baik melindungi kepentingan bos industri rokok. KM
[Non-text portions of this message have been removed]
