Hua ha ha .. kalimat pertama anda ini tepat sekali, lagian, mana ada buah anggur jatuh ketanah dibawah pohon asem?? Tapi saya khawatir kondisi ini akan tetap berlanjut, karena kwalitas pendidikan kita ter- atau di-tahan pada level yang serendah sekarang ini, dan kemiskinan pun telah berhasil dipelihara dengan bermacam bentuk "bantuan" yang jangka panjang tidak ada effect membantunya. Berbasis dua faktor kondisi yang sangat luar biasa itu lah, sekarang ini, segala macem para calon "terpilih langsung" dengan tidak segan-2 nya mengakui pengeluaran dana raksasa yang mustahil balik modal selama masa jabatan nya (bila terpilih dan semata sibuk dengan tugas luhurnya, tanpa nyabet kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah) ... Salam, bodo
--- In [email protected], "sugri_soe" <sugri_...@...> wrote: > > bangsa bodoh menghasilkan para pemimpin yang bodoh pula > - sudah jelas : cepat atau lambat Jakarta akan macet total > - sudah jelas : banjir di Jakarta pernah sampai istana pasti suatu saat akan > berulang dan makin tinggi. > > jadi Ibukota pindah sejatinya merupakan keniscayaan. tapi para pemimpin > negeri ini masih adem ayem. Mestinya sudah mulai bertindak, paling tidak > membentuk Tim Ahli. Pindah ibokota kan bukan pekerjaan gampang. > > tapi kita-kita ini bodoh sehingga memilih para pemimpin yang ..... > > Maaf seperti memaki-maki, cuma cara saja, biar jika ada pemimpin yang (hobi) > baca terkesan dan kemudian bertindak. > > salam > sugri
