Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/25/urban/3398505.htm
==========================

Belum lama ini saya menyaksikan tayangan film di layar televisi, film 
jedar-jedor yang saya suka. Ceritanya mudah dicerna, apalagi untuk 
ukuran manusia seperti saya, yang disodori film Matrix terus ngeloyor 
keluar dari gedung bioskop setelah kira-kira empat puluh lima menit 
ditayangkan, gara-gara ndak mudeng sama sekali. Dengan tingkat 
intelektualitas kocrot itu, yaa... paling enak menyaksikan film jedar-
jedor atau roman. 

Meminjam istilah teman saya, roman yang picisan. Saya terima saja 
karena kenyataannya saya memang demikian meski sesungguh-sungguhnya 
teman saya itu malah sedang menjalankan petualangan cintanya yang 
picisan juga. 

"Yooo... bedo tho no. Sana layar lebar, sini punya kan kenyataan. 
Bagaimanapun picisannya, ya... bedo no. Ruwet dan membuat mumet, 
sampai jadi kerasa ndak picisan," katanya menjelaskan. 

Saya yang mendengarnya ya... manut saja. Meminjam istilah teman saya 
yang lain. "Aaaaatur... saja." 

Pengecut 

Di salah satu adegan dalam film di layar televisi itu, si penjahat 
lari menghindari tembakan sang penegak kebenaran alias pak polisi. 

"Ooo... menegakkan saja, ya? Belum tentu menjalankan toh?" celetuk 
teman saya. 

"Waaah..., kalau begitu, aku yo iso. Cuma menegakkan saja tho, 
gampang," lanjutnya. "Lha wong menegakkan yang lainnya saja saya bisa 
kok," tambahnya lagi. 

Saya menegurnya untuk tidak menyelak cerita saya. "Oh..., maap, maap. 
Terus, terus...," balasnya. 

Kemudian saya melanjutkan cerita itu. Si polisi gagal menembak si 
penjahat karena ia berlari di antara kerumunan orang banyak yang 
sedang berseliweran. Ia terlepas dari peluru yang diarahkan kepadanya 
karena sang penegak kebenaran (dan sedang menjalankan kebenaran) tak 
berani mengambil risiko kalau-kalau pelurunya malah menghunjam salah 
satu manusia yang sedang berseliweran itu. Jadi, si penjahat terlepas 
dari maut dengan menggunakan manusia berseliweran itu sebagai tameng 
perlindungannya. 

Ia cerdik. Namun, ada suara di nurani saya yang berdendang. Si 
penjahat memang cerdik, tetapi ia sangat egois dengan meminta 
perlindungan orang lain untuk menyelamatkannya. Dan, yang terutama, 
ia cuma berani jadi penjahat, tetapi tak berani membayar harga 
sebagai penjahat. Ia minta orang lain membayarnya. 

Dan, itulah saya. Si penjahat cerdik sekaligus pengecut itu. Kini 
saya mengerti mengapa saat saya melihat adegan itu nurani saya 
seperti disinggung. Tampaknya saya sedang diperlihatkan bagaimana 
saya hidup selama ini. Bukan hanya mencari perlindungan dari orang 
lainnya, tetapi masalah yang lebih fatal, saya tak berani membayar 
harga untuk apa yang saya perbuat. 

Saya mau menabur kejahatan, tetapi malas menuai hasilnya. "Hari gini, 
minta tolong orang saja ya, bo," celetuk teman saya. Saya 
mengingatkan sekali lagi untuk tidak lagi menggunakan kata ba, bo, 
ba, bo. 

"Aduh maap, maap, Den Bagus...," jawabnya. 

"Jangan sampai Mbak Ratih nelepon kamu lho, dia kan baca Kompas 
juga," balas saya. 

"Ohh... gampang kalau itu. Nanti aku minta sampean yang bicara 
langsung. Sana kan sudah kenal dekat. Jadi, kemungkinan enggak akan 
mencak-mencak," jawabnya ringan. 

"Take and (never) give" 

Saya pernah memesan baju di salah satu desainer. Saya minta tolong 
diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama karena saya 
membutuhkannya untuk acara yang sebenarnya bukan dadakan. Hanya saja, 
saya lupa memasukkan ke dalam agenda dan pada dasarnya saya adalah 
manusia pelupa. Sang desainer menyelesaikan sesuai dengan jadwal yang 
saya kehendaki. Masalahnya kemudian, saya tidak membayar saat baju 
pesanan itu selesai. 

Dengan sejuta alasan, saya baru membayar akhir bulan. Saya memaksa 
orang lain menyenangkan saya, tetapi saya sama sekali tak 
berkeinginan membayar harganya dan menyenangkan orang lain. 

Sama seperti penjahat dalam film itu, saya egois. Saya tak pernah mau 
melatih diri berpikir bagaimana seandainya saya yang giliran jadi 
desainernya. Saya tak pernah bercita-cita—terpikirkan pun tidak—punya 
gaya hidup memberi (give) dan menyenangkan orang, tetapi saya selalu 
memelihara gaya hidup mengambil (take). 

Dan, dengan saya sebagai wartawan mode, sang desainer hanya 
berkata, "Ndak papa, Mas. Bener gak papa." 

Kejadian seperti itu juga terjadi bila saya berbisnis dengan orang 
lain. Terutama saat bicara soal pembayaran, saya selalu minta 
keringanan. Kalau bisa, bayar dua kali, dua bulan, dua tahun, bahkan 
berutang. Namun, kalau terlambat mencetak majalah, misalnya, saya 
bisa berteriak seperti orang yang membayar tepat waktu. Saya sampai 
lupa akan rasa malu. "Memang sana punya kemaluan?" singgung teman 
saya. 

Bersama dua teman, saya sedang mempersiapkan bisnis ecek-ecek. 
Sayalah yang paling bermulut besar akan menjadikan bisnis ini begini 
dan begitu. Harus buat ini dan buat itu, harus promosi ke sana-
kemari. Tiba saatnya semua harus dilaksanakan, saya lupa pembicaraan 
mulut besar itu berujung duit dan kerja keras. Saya kemudian 
membekukan sementara waktu karena saya malas membayar harga untuk 
mengeluarkan dana terlalu banyak dan harus ke sana-ke mari. Janji 
tinggal janji. 

"Macet, panas, terus mesti jualan pula. Malaslah yaao...," sindir 
teman saya. Apa boleh buat, saya hanya mengangguk saja. 

Saya mengaku sebagai umat Kristiani, tetapi malas membayar harga 
dengan sejuta dos and don'ts-nya yang terdapat dalam buku suci nan 
tebal itu. Terus, paling gampang saya akan katakan, saya manusia 
biasa, penuh dengan kelemahan. 

Saya memang manusia biasa. Biasa tak mau membayar harga dan biasa 
melemahkan diri, maksudnya. Itu mengapa saya susah mengasihi musuh 
saya, apalagi diperintahkan berdoa untuk mereka yang menganiaya saya. 
Padahal, ajarannya demikian. Saya malas membayarnya. Terlalu mahal. 
Saya tak kuat kemahalan. Mau pakai kartu kredit lebih dari platinum 
pun tak terbayarkan. 

Saya mau minta perlindungan pihak lain (baca: Sang Khalik), tetapi 
saya tak pernah berkeinginan memiliki gaya hidup seperti yang 
diingini-Nya. 

Di tengah segala kejahatan saya, cita-cita masuk surga tak pernah 
hilang. "Sana maunya masuk surga, tetapi enggak mau jadi manusia 
taat. Maksudnya?" tanya teman saya. 

"Maunya sesuai sama jidat lo saja, sih. Ya, tak?" lanjutnya lagi. 

Itu mengapa, seperti yang pernah saya tulis, ritual pengakuan dan 
pengampunan dosa adalah favorit saya. Senin sampai Minggu pagi, 
bahkan sampai sebelum ritual favorit itu berlangsung, saya masih bisa 
melakukan dosa, supaya bisa dirapel semuanya, terus jadi 
merasa "bersih" lagi dan terus buat dosa lagi sekeluar dari halaman 
rumah ibadah karena sudah ada ruang kosong untuk tempat dosa. 

"Flashdisssk... kali," celetuk teman saya. 





Kirim email ke