Ga usah menunggu 2030 ... 2007 saja kita sudah mencapai 5 besar Dunia kok ....
  Soal .. Korupsi; Soal Pelanggaran HAM, Utang Luar Negeri ..... dan Juara 
Olimpiade Fisika ... 

Mula Harahap <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ketika membaca headline "2030 RI Capai 5 Besar Dunia" di harian 
Kompas saya langsung memelototkan mata. Dan karena melihat ada foto 
Presiden SBY di bawahnya, saya menyangka ini adalah visi baru lagi 
dari sang dari presiden. Karena itu saya langsung berkata dalam 
hati, "Sebuah bangsa yang sudah hampir setahun tak kunjung bisa 
menyelesaikan semburan lumpur, bermimpi mau menjadi 5 besar dunia? 
Ini ocehan apa lagi?"

Ketika membaca lebih jauh, maka barulah saya faham bahwa ini adalah 
visi dari Yayasan Indonesia Forum yang dimotori oleh konglomerat 
Anthony Salim, Chairul Tanjung dsb. Tapi karena sebagai salah 
seorang (dari mayoritas) rakyat Indonesia saya sudah pernah (dan 
masih) hidup babak belur akibat ulah para konglomerat, maka (maaf) 
wajar saja kalau saya langsung menjadi curiga terhadap setiap move 
yang mereka lakukan. 

Kata saya dalam hati: "Para pengemplang BLBI, anak emas dari 
rezim 'trickle down effect' Suharto ini mau bikin apa lagi? Lalu 
para ekonom di ISEI, di LIPI dan di beberapa universitas, yang 
katanya ikut memotori Yayasan Indonesia Forum ini, koq belum kapok-
kapok juga sih? Koor mereka tentang 'memperbesar kue ekonomi dengan 
ujung tombak memperbesar konglomerasi perusahaan' di bawah pimpinan 
Sang Dirigen Suharto ternyata sumbang dan membuat negara nyaris 
bangkrut..."

Tapi ketika membaca tanggapan Presiden SBY saya agak terhibur juga. 
Presiden yang santun ini memang tidak apriori menertawakan mimpi 
tersebut. Ia hanya mengatakan, "Mari kita rame-rame bermimpi atau 
membuat visi..." (Dan saya berdoa kepada Tuhan moga-moda ia tidak 
mengadopsi visi para konglomerat itu menjadi mimpi atau visinya 
juga).

Sejak kita tidak lagi mengenal sistem "GBHN" dalam penyelenggaraan 
hidup berbangsa dan bernegara, memang ada sekelompok orang yang 
merasa bahwa bangsa ini agak kehilangan arah. Dan karena itu ada 
suara-suara yang mengatakan agar kita kembali lagi menerapkan sistem 
GBHN. 

Saya menentang pemikiran seperti itu. GBHN yang dibuat oleh sebuah 
parlemen yang sangat tidak demokratis adalah juga sebuah visi yang 
konyol.

Visi sebuah negara dan bangsa sebaiknya dibuat oleh berbagai unit 
dan elemen bangsa dan negara itu secara "rame-rame" dan tak perlu 
diedit dan dikompilasi oleh siapa pun. Arah atau visi bersama akan 
dihasilkan dari diskusi yang luas dan intens dari visi yang 
ditawarkan berbagai unit dan elemen itu sendiri. 

AS, Inggeris, Jerman dan banyak negara-negara besar dan demokratis 
di dunia ini tak mengenal GBHN. Tapi sebagai bangsa dan negara 
mereka tetap memiliki "sense of direction". Bagaimana hal itu bisa 
terjadi? Semua menawarkan visinya (tentang negara dan bangsa dimana 
dia berada) dan saling berdiskusi. Presiden Bush punya visi. Partai 
Demokrat atau Republik punya visi. Masing-masing senator (sebagai 
anggota partai) punya visi. MIT atau Universitas Harvard sebagai 
institusi punya visi. Masing-masing profesor di institusi tersebut 
punya visi. NASA punya visi. Astronot dan insinyur di NASA punya 
visi. Angkatan Darat punya visi. Setiap prajurit di dalam matra 
angkatan tersebut punya visi. Hasil pertukaran dan diskusi yang 
terus-menerus dari berbagai visi itulah yang kemudian menjadi visi 
atau arah bangsa.

Saya berharap hal yang sama berlaku di Indonesia. Disamping Anthony 
Salim dkk yang bergabung di Yayasan Indonesia Forum, maka saya juga 
ingin mendengar apa visi Muhammadiah, apa visi Din Syamsudin sebagai 
anggota Muhammadiah, apa visi NU, apa visi Gus Dur sebagai anggota 
NU, apa visi Angkatan Darat, apa visi Golkar, apa visi Yusuf Kalla, 
apa visi KADIN, apa visi Bupati Bantul, apa visi Lurah Cempaka Putih 
Timur, apa visi Fauzi Bowo (sebagai calon Gubernur DKI Jakarta), apa 
visi HKBP, apa visi PGI, apa visi Akademi Jakarta, apa visi Goenawan 
Mohamad (sebagai anggota Akademi Jakarta), apa visi isteri saya, apa 
visi tukang ojek di depan rumah saya tentang bangsa dan negara 
dimana ia berada.

Para konglomerat yang bergabung dalam Yayasan Indonesia Forum telah 
menyampaikan visinya. Memang, kalau kita duduk di puncak pencakar 
langit "Wisma Metropolitan" atau "Menara Trans-TV", kamar kita 
ditutupi karpet yang tebal, dan penyejuk kamar berfungsi baik 
(sehingga kita tidak perlu membuka jas), maka visi kita tentang 
bangsa dan negara ini cenderung otimistis. 

Tapi visi bupati di Sidoarjo (yang sebagian wilayahnya ditutupi 
semburan lumpur yang tak kunjung henti) tentu akan lain lagi. 
Demikian juga dengan visi seorang kepala sekolah SD atau Komandan 
Koramil di Pulau Miangas (di ujung Sangir Talaud), visi seorang 
mahasiswa perguruan tinggi swasta (yang perguruan tingginya hanya 
diberi status terdaftar oleh Pemerintah), atau visi seorang uztad di 
sebuah desa di Sukoharjo.

Ada pun visi saya tentang bangsa dan negara ini adalah: Saya 
membayangkan Indonesia yang adil (dan kalau bisa, ya juga 
sejahtera). Saya tidak perduli negara ini mau menjadi kekuatan 
ekonomi nomor berapa di dunia. Tapi semua warganya harus bisa 
memperoleh makan, pendidikan dan kesehatan yang paling elementer. 
Tidak ada korupsi. Tidak perlu ada segelintir orang yang masuk 
dalam "Daftar 500" Fortune atau Forbes kalau masih ada orang yang 
bunuh diri karena tak sanggup menyekolahkan anaknya atau membiayai 
perawatan isterinya di rumah sakit. 

Saya juga membayangkan sungai yang airnya jernih dan hutan yang 
hijau. Pada liburan hari raya orang duduk menggelar tikar dan 
menyantap makanan yang sederhana tapi dalam suasana damai di pinggir 
sungai atau hutan tersebut. (Bukan hanya melongok-longok sambil 
menahan air liur di mall atau supermall yang wuah). Saya juga 
membayangkan orang Indonesia yang tidak serta-merta tercerabut dari 
akar tradisi dan budayanya, dan bisa berdamai dengan dirinya..."

Bagaimana visi anda?

Horas,
Mula Harahap 

Kirim email ke