Indonesia baru saja memiliki UU Antitraficking. Saya kira dengan payung hukum tersebut, pemberantasan perdagangan perempuan bisa makin berkurang. Pak Kukuh, saya kira kasus perdagangan perempuan tetap mendapat porsi besar dalam pemberitaan di media massa, daripada pemilihan ratu kecantikan. Sebab kasus perdagangan perempuan ini dalam kurun waktu dua tahun ini terus meningkat. Termasuk sindikat perdagangan anak. Beberapa waktu lalu di televisi juga diungkapkan maraknya penculikan anak terkait dengan perdagangan anak di luar negeri.
Kita harus bahu membahu mengatasi persoalan ini. Tidak hanya di KL saja, di Hong Kong pun banyak perempuan Indonesia yang terjebak dalam traficking. Bahkan Remy Sylado dalam novel terbarunya Mimi lan Mintuno, mengisahkan bagaimana perempuan bisa dijual dan masuk perangkap prostitusi. Salam, SS --- Kancono W Abdurrasyid <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Apa yang P. Kukuh Kumara tulis benar adanya, > pengalaman saya ketika bolak-balik mengurus konversi > SIM Indon ke Malaysian Driving Licence dan pada lain > waktu juga mengurus tukar alamat ke konsulat KBRI di > KL, secara "kebetulan saja" atau mungkin "hampir > setiap kali ke sana", saya bertemu dan berkenalan > dengan banyak pelapor perempuan yang nampak lusuh > dan menderita namun masih tampak "cantik aduhai" > (mereka minta perlindungan). Dari gaya cara bertutur > mereka nampak berpendidikan tinggi, namun ketika > saya memancing ingin lebih jauh mengorek hal-hal > berkaitan dengan tempat tinggal dan pekerjaan nampak > menyembunyikannya dan menunduk malu. > > Satu yang pernah saya kenal, terbuka mengenai > tragedi yang menimpa dia dan banyak korban "women > traficking" lainnya, mengapa masalahnya selalu > tertutup dan luput dari pelacakan lebih jauh? > > Merekapun berpendapat; "karena kurang kuat mental > militannya pegawai KBRI kita untuk membela > rakyatnya, sehingga para sindikat lebih leluasa > bermain, terkesan bahwa KBRI hanya untuk mengurus > administrasi saja, banyak kawannya yang minta > perlindungan akhirnya terpaksa kembali lagi ke > tempat kerja". > > Kalau KBRI mengirim balik 4 orang "women > traficking", dimaklumi bahwa sesungguhnya ke-4 orang > tersebutlah yang memiliki kemauan "kuat untuk lepas > dari sindikat tersebut". > > Menurut ceritanya (dia berpendidikan tinggi yang > tinggal tertutup di kawasan Bukit Bintang, KL): > "Banyak perempuan-perempuan baik-baik dari Indonesia > (Jawa terutama) yang terjebak dalam sindikat > prostitusi terselubung yang dioperasikan sindikat di > hotel-hotel berbintang di Malaysia - Singapura". > > selalu prihatin sangat..... > kcn,-
