Oleh Khamami Zada Manajer Program Kajian Agama dan Kebudayaan PP Lakpesdam NU http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/03/opini/3426607.htm ===========================
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akhirnya mendeklarasikan Baitul Muslimin sebagai organisasi sayap partai. Deklarasi ini dihadiri dua ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (KH Hasyim Muzadi) dan Muhammadiyah (M Din Syamsuddin). Manuver politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) guna merangkul dua organisasi massa (ormas) Islam terbesar itu untuk persiapan Pemilu 2009. Asumsinya, jika NU dan Muhammadiyah berhasil didekati, mayoritas umat Islam akan memilih kandidat dari PDI-P. Ormas Islam dan politik Ormas Islam selalu "menggoda" partai sekuler maupun yang bernuansa Islam. Partai Kebangkitan Bangsa mengambil sebagian besar suara dari warga NU. Partai Amanat Nasional mendapat suara terbanyak dari warga Muhammadiyah. Partai Persatuan Pembangunan mengeruk suaranya dari NU, Muhammadiyah, dan Muslimin Indonesia. Partai politik pun ramai-ramai mengafiliasi diri dengan ormas Islam karena daya tarik suaranya. Akibat lumbung suara yang amat besar dalam setiap pemilu, berbagai kelompok Islam yang tergabung organisasi massa Islam pun menjadi sasaran untuk didekati. Tak ayal, di hampir perhelatan pemilu, kiai/ulama selalu menjadi juru kampanye untuk menyedot pemilih. Kekuatan agama masih diandalkan dalam menentukan pilihan politik, membuat posisi elite Islam mudah diorientasikan ke dalam politik kekuasaan dengan iming-iming posisi politik strategis di eksekutif atau legislatif. Untuk memenangi Pemilu 2009, PDI-P sadar harus intensif mendekati ormas Islam. Maka, lahirlah Baitul Muslimin. Berkumpulnya elite Islam dalam ormas, seperti NU dan Muhammadiyah, memiliki daya tarik eksplosif untuk mendulang suara. Itu sebabnya, PDI-P serius mengajak NU dan Muhammdiyah memperkuat Baitul Muslimin. Tampaknya pendekatan PDI-P terhadap NU dan Muhammadiyah akan ditanggapi positif mengingat karakter ormas Islam ini masih berorientasi politik kekuasaan. Sejarah membuktikan, di awal reformasi, NU jadi mesin politik PKB. Kini, karena kecewa dengan PKB, NU menarik diri. Begitu juga Muhammadiyah yang semula menjadi mesin politik PAN. Pendekatan PDI-P terhadap ormas Islam akan saling menguntungkan kedua belah pihak. Kekuatan figur Secara matematis, suara dua ormas Islam ini bisa menjadi mesin pendulang kekuatan politik terbesar setelah kelompok nasionalis- sekuler. Tetapi, proses politik yang kini berlangsung tidak lagi demikian. Tidak semua warga NU dan Muhammadiyah tunduk pada kebijakan para pimpinannya. Pemilu langsung telah melahirkan tesis baru, lembaga-lembaga politik, seperti partai politik dan lembaga sosial, tidak lagi menjadi kekuatan dahsyat dalam mendulang suara seperti pemilu sebelumnya. Kini, figur menjadi faktor kunci dalam perebutan suara. Terbukti, pasangan SBY-JK mengalahkan Mega-Hasyim. Meski kombinasi kelompok nasionalis dengan Islam tradisionalis yang jumlahnya diklaim 30 persen penduduk Indonesia, tetap tidak mampu mengalahkan SBY-JK. Pilkada di Nanggroe Aceh Darussalam juga membuktikan, kekuatan figur (dari kelompok Gerakan Aceh Merdeka) yang berasal dari kandidat independen mampu mengalahkan pasangan dari partai-partai besar, seperti Golkar, PPP, dan PKS, di Aceh. Kekuatan figur dalam pemilu langsung menjadi faktor paling menentukan. Meski didukung partai-partai besar, tetapi karena figurnya tidak mampu membawa perubahan, pemilih tidak akan memberikan suaranya. Maka, PDI-P selayaknya membangun citra partai dan figur agar mampu meraih simpati pemilih. Meski suara ormas Islam cukup signifikan, berbagai pengalaman pada pemilu sebelumnya membuktikan, pemilih lebih dekat dengan figur, bukan organisasi yang dinaungi. Inilah kesempatan PDI-P untuk kembali merebut simpati massa melalui citra wong cilik dalam program-program nyata. Kegagalan PDI-P pada Pemilu 2004 lebih banyak disebabkan oleh program-program nyatanya yang tidak diorientasikan ke massa yang telah memilihnya. Akibatnya, PDI-P ditinggalkan massanya. Sanggupkah PDI-P kembali pada jati dirinya sebagai partainya wong cilik?
