Tentu tidak! Tetapi kenyataannya, buku2 pelajaran ilmu2 sosial di SD boleh dibilang memotivasi, kalau tak bisa dibilang menginstruksikan, aktifitas menghapal.
Tanpa bermaksud diskriminasi dan dengan kesadaran bahwa ada penerbit2 lain yang lebih buruk atau lebih baik, saya mengambil contoh dua buku saja. Yang pertama adalah buku terbitan Erlangga tahun 2004 berjudul `Pendidikan KEWARGANEGARAAN dan PENGETAHUAN SOSIAL untuk SD Kelas 5' karangan Asy'ari M.Pd dkk dengan Editor Drs. Feisol dan buku Lembar Kerja Siswa Aku Gemar Belajar, PENGETAHUAN SOSIAL Jilid 5B terbitan CV Bina Pustaka (tahun terbit tak jelas) karangan Ngatimin S.Pd, dkk sebagai contoh ilustrasi. Buku terbitan Erlangga di Bab 1 (Menghargai Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia) isinya sangat padat dengan NAMA-NAMA SUKU DAN ETNIS di seluruh Indonesia yang sebagian besar tak pernah terdengar dan diketahui oleh saya (apalagi terdengar dan diketahui oleh anak saya), mis. suku2 Laki, Wolia, Moronene di Sulteng, suku2 Dusun, Lawangan, Ot Dunun di Kalteng. Ini sangat kontras dengan isi materi yang boleh dikatakan tak memberi uraian atau penjelasan sedikitpun tentang masing2 suku/etnis. Walaupun sudah begitu panjang daftar suku/etnis, tetapi (menurut saya) masih ada satu suku, suku Kapuas, sama sekali tak disebut- sebut dalam buku tersebut. Padahal populasinya sangat dikenal di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah karena penyebarannya yang cukup pesat di kedua propinsi tersebut. Mungkin buku tersebut menggunakan nama lain untuk nama suku Kapuas, tetapi dalam praktek saya sehari-hari semasa kecil di Banjarmasin, `suku Kapuas' adalah nama/ sebutan paling populer digunakan. Saran saya: lebih baik isi pelajaran dalam sebuah buku atau ajaran seorang guru jangan diperlakukan sebagai ajaran dari pihak yang `maha tahu' dan pihak yang `menggurui' anak2. Apa salahnya isi/instruksi yang tertulis dalam sebuah buku atau instrruksi guru kelas memberi tugas2 yang memotivasi anak untuk mengecek KEBENARAN data yang ditulis buku atau diucapkan guru tersebut sesuai keadaan daerah masing2. Bisa juga penerbit Erlangga memberi teladan penulisan saintifik dengan menyebut sumber pustaka (atau sumber2 lain) yang menyebutkan nama2 suku yang dikutip oleh buku tersebut (sebab saya tak percaya pengarang buku tersebut hapal semua nama2 semua suku di Indonesia). Contoh lain, Bab 6 (Tokoh2 Pejuang dan Pergerakan Nasional di Indonesia) bag. C (Tokoh2 Penting Pergerakan Nasional) isinya dipadati oleh ber-macam2 nama, tanggal dan tahun. Kalau pun ada alasan2 suatu peristiwa sejarah, cara penyajian uraian tersebut cenderung membuat anak2 menghapal dan cenderung membuat guru-gurunya memberikan pertanyaan hapalan, sebab tak ada instruksi dan pokok bahasan yang mendorong kreatifitas anak2 untuk BELAJAR mencari kebenaran secara mandiri. Banyak tugas2 yang bisa membangkitkan kreatifitas dan prilaku menyelidik: anak2 SD, misalnya anak2 SD di Banjarmasin diminta oleh gurunya untuk mengecek kebenaran nama2 suku di Kalsel yang tertulis di buku tsb, atau di minta menambahkan nama2 suku/ etnis yang mereka ketahui (baik yang sudah ada atau yang belum ada di dalam buku tersebut). Kemudian diberikan praktek `cek dan ricek' pada anak2 dengan meminta mereka mengirim data nama2 suku yang belum ada dalam buku tsb ke penerbit Erlangga. Bisa juga praktek lapangan diberikan kepada anak2 untuk mengecek data2 nama suku langsung dari sumbernya atau dari cerita orangtua, bahkan dari cerita kakek-nenek dan tentangga2-nya. Buku terbitan Bina Pustaka lebih parah lagi. Jelas sekali di dalam buku ini ada pertanyaan2 yang memaksa anak2 untuk menghapal! Mis. Bagian II Bab 3 ada pertanyaan2 2. R.A. Dewi Sartika meninggal pada tanggal (ada anggota FPK yang tahu jawabannya tanpa nyontek? :-) ). 6. Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan tinggi Taman Siswa pada tanggal 7. Douwes Dekker lahir di Pasuruan tanggal Belum lagi sekian pertanyaan pilihan ganda, misalnya:soal2 Uji Kompetensi IV bagian I yang menanyakan: 10. Kongres Pemuda 1 dilaksanakan pada (pilihan yang benar: c. 30 April- 2 Mei 1926) 11. Kongres Pemua 1 dipimpin oleh (pilihan yang benar: b. Moh. Tabrani) 12. Ketua Jong Minahasa adalah (pilihan yang benar: d. GRP Pantow) Seandainya anak2 di ajar belajar mandiri dan kreatif, bukan belajar = menghapal, misalnya membandingkan sendiri isi dua buku berbeda dengan dua topik bahasan yang sama, niscaya mereka menemukan bahwa dalam kedua contoh buku yang kita bahas, teradapat perbedaan2 penting.. Misalnya tempat lahir Dewi Sartika menurut buku terbitan Erlangga adalah kota Bandung, sedangkan menurut buku terbitan Bina Pustaka adalah Majalengka (baru kemudian setelah berumur 15 tahun, Dewi Sartika pindah ke Bandung). Kalau terus begini isi buku2 pelajaran dan praktek kurikulum SD di dalam sistem pendidikan dasar kita, bukan kemajuan ttp pembodohan yang akan terjadi pada anak2 kita! Mungkin ada 1-2% anak yang bisa bertambah pandai karena kemajuan informasi dan fasilitas di masa kina bisa dimanfaatkan oleh orang tua mereka. Tetapi barangkali lebih banyak anak2 sekarang, bahkan barangkali lebih dari 50% anak2 yang mengalami pembodohan karena orangtua mereka sendiri pun (dan guru2 mereka sendiri?) sudah bingung dengan materi ajar sekarang. Ini harus menjadi perhatian Balitbang Depdiknas (khususnya Pusat Kurikulum dan Pusat Inovasi) yang dipimpin pak Mansyur Ramli (jangan terlalu sibuk dengan urusan sebagai cawagub Sulsel pak sehingga lupa pendidikan anak2 kita) Salam (mantan pegawai honor Balitbang Depdiknas tahun 1983).
