Oleh A Sudiarja 
Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma; Redaktur Pelaksana 
Majalah Kebudayaan BASIS
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/07/utama/3428229.htm
==========================

Pada bulan September 1867, Dostoevsky, penulis terkenal dari Rusia, 
singgah di Basel dalam pelariannya ke Eropa, menghindari penagih 
utang. Di sana ia ke museum dan tercenung di depan sebuah lukisan 
dari Hans Holbein, yang menggambarkan penyaliban Yesus. Ia begitu 
tercekam oleh penderitaan Yesus yang mengerikan. 

Konon dari pengalaman batin inilah muncul inspirasi untuk novelnya 
yang terkenal, The Idiot, yang merupakan sebutan untuk Pangeran 
Muiskin, tokoh dalam novel itu, seorang yang begitu baik hati, 
sehingga justru menjadi korban bulan-bulanan orang-orang yang ingin 
memanfaatkan kebaikannya. Dostoevsky rupanya ingin melukiskan 
kebaikan manusia Yesus dalam diri Pangeran Muiskin. 

Penderitaan Yesus tentu bukan topik baru dalam teologi Kristen dan 
telah menjadi inspirasi bagi banyak seniman. Tetapi, renungan 
mengenai makna penderitaannya itu begitu kaya dan dalam sehingga bisa 
berubah dari zaman ke zaman. Tiga tahun lalu, Mel Gibson mengambil 
penderitaan Yesus sebagai topik filmnya yang membuka kontroversi, 
baik di kalangan seniman film maupun di kalangan teolog dan ahli 
kebudayaan. Maksud Gibson sebetulnya sederhana, ingin mengajak orang 
merenungkan dengan cara baru, betapa Yesus sungguh menderita. Pesan 
yang mau ditampilkan bukan kritikan terhadap tindakan orang Yahudi 
atau orang Romawi yang menyalibkan, tetapi penderitaan Yesus qua 
talis, siapa pun yang menyebabkannya. 

Penderitaan pun bukan sesuatu yang baru dalam pengalaman kita. Banyak 
penderitaan yang kita saksikan atau alami sendiri dalam hidup. 

Terkait penderitaan yang diakibatkan alam, masyarakat kita yang 
umumnya religius merasa gagu untuk menentukan sikapnya terhadap Allah 
pencipta dan pemelihara alam. Kebanyakan merasa nrimo jika Allah 
menjadi penyebab musibah dan penderitaan itu. Tetapi, menyangkut 
penderitaan yang diakibatkan kejahatan dan keteledoran sesama, banyak 
protes keras dan tuntutan yang dilontarkan. Tidak jarang muncul sikap 
balas dendam atau bahkan langsung bertindak sendiri terhadap yang 
dicurigai menjadi penyebab penderitaannya. Dengan adanya balas 
dendam, penderitaan manusia tidak akan berakhir, justru terus 
berlanjut karena pembalasan akan menimbulkan korban baru, yang pada 
gilirannya menuntut pembalasan lagi. 

Rekonsiliasi 

Tak mungkinkah dilakukan rekonsiliasi untuk memutus rantai balas 
dendam dan kekerasan yang mengakibatkan penderitaan itu? 

Agama-agama kuno mencoba mengatasi kesulitan ini dengan upacara 
korban, yakni dengan melemparkan penyebab penderitaan itu pada suatu 
sosok, yang disebut "kambing hitam". Tetapi, menurut René Girard, 
dengan upacara korban itu, agama-agama belum menghilangkan sikap 
dendam dan kekerasan yang berkepanjangan, tetapi hanya 
menyublimasikannya. 

Dengan melakukan upacara korban, agama-agama menjadi semacam selimut 
kekerasan yang diperhalus tampilannya (Sindhunata, Kambing Hitam, 
teori René Girard, Gramedia, 2006). Mungkin kita diingatkan pada cara 
perusahaan Jepang yang mengatasi kejengkelan dan kemarahan para 
karyawan terhadap bosnya dengan cara menyediakan bantal untuk bisa 
dipukul sesukanya. Barangkali Girard mau mengatakan, kekerasan itu 
terletak dalam hati manusia, bukan di luarnya. Apabila hati telanjur 
menjadi keras, upaya hukum betapapun ketatnya tak dapat menolong 
banyak. 

Yang menarik dari Girard, dan ini merupakan kritiknya terhadap para 
teolog Kristen tradisional, ia tidak mengartikan penderitaan Yesus di 
salib sebagai bagian mekanisme ritus korban, sebagai silih atas 
kejahatan manusia yang harus dibalaskan, untuk memulihkan keadilan. 
Sebab, andaikata demikian, berarti penderitaan dan kematian Yesus di 
salib hanya akan mencerminkan sosok Allah yang kejam dan haus darah 
pembalasan, sementara manusia sendiri tidak mampu memberi silih atas 
kerugian yang diakibatkan kejahatannya. Jika demikian, mata rantai 
kekerasan belum putus dan mekanisme ritus korban malah 
mengabadikannya. 

"Ya, Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka 
lakukan," kata Yesus dari atas salib, yang dikutip Girard dari Injil 
(Lk 23, 34). Mata rantai kekerasan yang mengakibatkan penderitaan 
tidak dilanjutkan oleh pengorbanan Yesus disalib, tetapi dipotongnya 
oleh belas kasih dan pengampunan. Rekonsiliasi dalam masyarakat bukan 
hal mudah, justru karena menuntut sikap pengampunan sebagai ganti 
balas dendam. Hal ini tampak pula dari sulitnya pembentukan Komisi 
Kebenaran dan Rekonsiliasi di Tanah Air, yang telah dimulai beberapa 
tahun lalu. Entah bagaimana kabarnya kini. 

Dihadapkan pada wajah kekerasan dunia dewasa ini, kita dibawa pada 
dua pilihan fundamental, untuk marah dan melakukan pembalasan demi 
keadilan (baik secara hukum maupun secara ritual dalam agama) atau 
untuk diam dan mengikhlaskan pengampunan. Sikap pertama 
memperlihatkan "kelemahan tubuh manusia", yang tidak rela sendiri 
menderita, tetapi tanpa sadar bisa tega membuat yang lain menderita. 
Sikap kedua, sebaliknya, memperlihatkan "keunggulan roh manusia" yang 
mampu menahan diri dalam penderitaan, bukan karena takut atau merasa 
putus asa, tetapi demi perdamaian dan terputusnya mata rantai 
kekerasan, yang mengakibatkan penderitaan. Pilihan di antara keduanya 
akan menentukan arah masa depan kehidupan manusia di planet Bumi 
kita. 

 



Kirim email ke