Oleh Armada Riyanto 
Dosen Filsafat; Ketua STFT Widya Sasana, Malang
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/07/opini/3429828.htm
================================

"God is truly present in the wondrous beauty of the universe, in the 
skies and sun and stars ... and in all our noble activities. And yet, 
God is truly present in a very special way, in all that is apparently 
ugly, all that stinks and is broken." - Jean Vanier. 

Tuhan hadir dalam keindahan tata ciptaan-Nya. Apakah Ia absen dalam 
kerapuhan, kemiskinan, dan kekumuhan? 

Misteri Agung Paskah menjelaskan ranah kehadiran Tuhan. Seorang sufi 
(mistikus) mengalami kesulitan mengakui adanya Tuhan jika Ia semata-
mata diseru-serukan sebagai "Yang Mahakuasa", tetapi mengelak 
realitas keseharian hidup yang menyesakkan. 

Ketika orang-orang Yahudi, anak-anak, dan perempuan disesakkan di 
gerbong- gerbong kereta ternak dari Budapest untuk dibawa ke 
Auschwitz dan dicekik gas zyklon B di ruang-ruang mengerikan, filosof 
W Adorno merefleksikan "diam absolut"-nya Tuhan. 

Penderitaan ekstrem kerap dimaknai sebagai absennya Tuhan. Pemaknaan 
semacam itu kian mencuat ketika diserukan "pengadilan Tuhan" oleh 
kaum postmodernis karena Ia absen dan membiarkan jutaan manusia 
meregang nyawanya sia-sia oleh derita tak terkira. 

Auschwitz hanya salah satu. Masih banyak emblem luka dan derita 
konflik antarmanusia lainnya, seperti di Lebanon Selatan, Palestina, 
wilayah Siera Leone Afrika, Irak, Dharfur-Sudan, atau di Poso. 

Seorang guru kebijaksanaan Timur mengajarkan, kebesaran Tuhan tidak 
semata terletak pada betapa dahsyat kekuasaan-Nya, tetapi juga betapa 
konkret kehadiran-Nya dalam pengalaman sehari-hari, dalam duka dan 
kecemasan, dalam kesusahan dan kemalangan manusia. 

Solidaritas Tuhan 

Tuhan sedih saat manusia berduka. Ia sedih saat manusia bertikai 
berdarah-darah. Ia penat melihat manusia memanipulasi sesamanya. Ia 
prihatin dan marah jika ketidakadilan dan korupsi menjadi bagian 
keseharian hidup yang dibela manusia. Tuhan muak saat menyaksikan 
kemunafikan penguasa yang selfish, sementara nasib pengungsi dan 
petani terlunta-lunta. Ia murka saat nama-Nya dimanipulasi untuk 
pembenaran tindak kekerasan, pembunuhan, dan balas dendam meski 
karena alasan agama sekalipun. 

Tuhan tidak minta pembelaan manusia. Ia tidak dapat diserang siapa 
pun, tidak bisa dihina siapa pun, entah oleh kaum komunis atau 
neokomunis sekalipun. 

Kebalikannya, Ia solider. Solidaritas Tuhan kepada manusia benar-
benar kasatmata. Salib, itulah solidaritas absolut dari Tuhan. Saat 
manusia terluka, terlilit bahaya dan kematian, terbebani 
ketidakpastian dan kemiskinan, Tuhan ikut menanggung. Ia hadir turut 
memikul beban beratnya salib kehidupan manusia. 

Saat Tuhan memikul salib berat ke Golgota, Ia tidak memperlihatkan 
kedigdayaan-Nya, tetapi ketidakberdayaan-Nya, jatuh tersungkur tiga 
kali, tertimpa salib. 

Misteri Paskah adalah misteri Tuhan yang miskin, rapuh, mati. Di kayu 
salib tubuh-Nya penuh darah, lunglai oleh deraan sakit tak terkira. 

"Tuhan-Manusia Yesus Kristus mati," kata Karl Rahner. Konsep "Tuhan 
yang mati" atau The powerless God tidak mudah dibayangkan. Lebih 
mudah membayangkan Tuhan yang perkasa daripada Tuhan yang tak 
berdaya. Tetapi, "kematian Tuhan" memiliki makna salvific 
eksistensial-universal dalam koridor kasih yang melimpah kepada 
manusia. 

Refleksi teologis Rahner menegaskan, misteri keagungan Tuhan terletak 
pada kesediaan-Nya menjadi "kecil", sekecil manusia. "Ke-Maha-
segalanya" Tuhan justru terlihat pada "kerapuhan-Nya", "kematian-
Nya", "pengosongan-Nya" (kenosis). 

Ketika Tuhan mati di salib, di situ Ia tampil sebagai "Sang Penebus". 
Sepanjang hidup-Nya, Yesus Kristus tidak pernah disebut "Putra Allah" 
(sebutan yang secara teologis mengatakan kehadiran sebagai "Penebus" 
atau "Penyelamat", bukan dalam makna sebagai orang yang lahir dari 
ibu dan ayah). 

Bahkan, saat Yesus berjalan di atas air atau membangkitkan secara 
spektakuler Lazarus yang sudah tiga hari mendekam di kubur, Ia tak 
disebut sebagai "Putra Allah". Tetapi, saat nyawa-Nya meregang di 
kayu salib dan matilah Dia, Sang Mesias itu, kepala pasukan yang 
melakukan penyaliban atas diri-Nya bersimpuh dan menyembah sembari 
berseru: "Ia benar-benar 'Putera Allah' (Sang Penebus)." 

Tuhan mati? Kematian Tuhan di salib mengatakan sebuah "pengosongan 
tuntas diri-Nya yang menyapa, menebus, dan hadir dalam kehidupan 
manusia". 

Pengosongan diri 

Sebelum disalib, Tuhan ditelanjangi. Kala manusia 
memandang "ketelanjangan" sebagai sebuah bentuk bias kemaksiatan, 
Sang Pencipta kehidupan malah mengalaminya sebagai bukti pengosongan 
diri. Ketelanjangan-Nya adalah kesempurnaan kasih-Nya kepada manusia. 

Teologi Kristiani merenungkan Tuhan yang mati dan telanjang sebagai 
peristiwa di mana manusia ditebus, diselamatkan, serta diangkat dari 
dosa dan kematian. 

Namun, konsep penebusan tidak hendak mengatakan bak sulapan. 
Penebusan mengenal ranah komunikasi timbal balik. Artinya, saat Tuhan 
mengulurkan tangan-Nya, manusia diminta menanggapi- Nya dengan balik 
mengulurkan tangan untuk digandeng, ditarik, diselamatkan. Penebusan 
meminta manusia meninggalkan cara hidup lama yang sarat kekerasan, 
keberingasan, kemunafikan, sikap intoleran atau sok mau menang 
sendiri. 

Tuhan yang mati adalah Tuhan yang "mahakuasa". Sedemikian berkuasa 
Dia, sampai-sampai tidak tinggal diam dalam keabadian. Tuhan yang 
mati adalah Tuhan yang "tunduk" pada cinta-Nya sendiri yang 
menyelamatkan, menghidupkan manusia. 

Kematian-Nya menandai cinta-Nya yang tanpa syarat dan tanpa "barter" 
apa pun dengan manusia. Sebuah cinta gratuituous, telak, dan tuntas. 
Dalam kematian-Nya, Ia merevelasikan diri sebagai Sang Pencipta 
kehidupan. 

Maka, Paskah mendeklarasikan makna mendalam, kematian Tuhan adalah 
kehidupan baru bagi manusia. 

Selamat Paskah! 





Kirim email ke