Saya senang, Mas Radityo, dibilang "sensi". 

Mungkin ada gunanya juga saya berhenti menonton televisi (sudah tiga 
tahun saya tidak menonton TV). Jadi rasa kemanusiaan saya yang sudah 
kebal dan bebal akibat keseringan nonton berita kekerasan, bom bunuh 
diri, penembakan dan lain-lain semoga bisa berangsur sembuh dan bisa 
kembali "sensi".

Btw kata Chicago Sun-Times, penembaknya mahasiswa 24 th asal 
Shanghai; jadi gila karena masalah cinta.

Andi

--- In [email protected], radityo djadjoeri 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Andy,
>    
>   Mbok yo tolong jangan terlalu sensi tho....
>   Saya bilang berita itu "cukup menarik" bukan karena saya senang 
korbannya para mahasiswa yang muda-muda. 
>   Berita itu menarik karena "langka", ada penembakan di kampus 
dengan korban puluhan orang. Dulu sepertinya di AS pernah terjadi 
penembakan di sekolah menengah, dengan korban belasan orang.
>    
>    
>   Contoh berita yang tidak menarik, walau ada media yang memuat, 
semisal penodongan mahasiswa di angkot, penusukan mahasiswa di rumah 
kost.
> 
>    
>   
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Mas,
> 
> Kalau 32 orang yang mati ditembaki itu mahasiswa-mahasiswa di UI 
> atau di ITB atau di Trisakti bagaimana komentar Anda? 
> 
> "Berita yang cukup menarik"? 
> 
> Dimana pentingnya apakah penembaknya orang Asia, Indonesia, Turki, 
> atau Arab, atau "hebatnya" tinggi penembaknya di atas 180 cm? 
> 
> 32 orang yang mati itu manusia seperti saya dan Anda, Mas Radityo. 
> Kebanyakan mahasiswa, masih muda-muda.
> 
> Andi
>


Kirim email ke