http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/21/Politikhukum/3469277.htm
===========================

Kalau mata sudah ditutup rapat siapa sanggup membukanya? Jika telinga
sudah disumbat rapat, teriakan pun tidak mampu membuatnya mendengar.
Kalau sudah demikian siapa mau peduli?

Tangan Yohanes Imam Suwadi (72) bergetar. Bukan karena tangan renta
itu tak mampu menahan pengeras suara, tetapi ia berusaha menahan emosi
yang menggelegak dalam dadanya.

Semua yang ada dalam ruang seluas lebih kurang 160 meter persegi,
auditorium Universitas Paramadina Jakarta, mendengar terdiam. Dalam
suaranya yang keras, tersimpan isak yang tertahan. "Kami korban
luberan lumpur PT Lapindo Brantas merasa diabaikan," tuturnya.

Empat hari lalu mereka tiba di Jakarta dengan menggunakan berbagai
alat transportasi umum. Cara itu dilakukan agar niat mereka mencapai
Jakarta dan bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercapai.

Namun, sejak empat hari lalu nasib baik dan niat mereka tidak
membuahkan harapan baru. Sebaliknya, rasa sakit hati justru makin
menyesakkan hati mereka. Presiden ternyata tidak berkenan menemui mereka.

Padahal, mereka ingin menjelaskan kembali kepada Presiden bahwa
kelalaian eksplorasi Lapindo Brantas Inc telah menyebabkan puluhan
warga di sekitar luberan terganggu jiwanya, kehilangan keluarga dan
masa depan. "Ada yang pada malam hari tiba-tiba keluar dari tenda,
membawa kalkulator dan tiba-tiba tertawa sambil melihat ke arah
tanggul penahan lumpur," kata Imam.

Tunjangan hidup yang mereka terima tinggal dua bulan lagi dan hingga
saat ini proses ganti rugi belum juga jelas. Bayang hitam akan masa
depan yang kelam itulah yang ingin mereka sampaikan kepada Presiden.

Namun, hingga saat ini Presiden tetap tidak mau menemui mereka.
Penolakan itu membuahkan gugatan. Mereka tidak lagi percaya kepada
Presiden. Mereka tidak lagi percaya kepada yang mereka pilih. Sebagai
warga bangsa yang tengah mencari keadilan dan jalan bagi masa depan,
mereka diabaikan.

Niat mereka sudah bulat, harus bertemu Presiden. Jika tidak, mereka
akan tetap tinggal di Jakarta. "Lagi pula jika kami pulang ke
Surabaya, kami sudah tidak memiliki apa-apa. Untuk itu, kami akan
terus memperjuangkan niat kami ini hingga Presiden bersedia menemui
kami," tutur Imam lagi.

Sihono, warga Perumtas 1 Sidoarjo membenarkan hal itu. "Bahkan
ibaratnya kami ini sudah meninggal," katanya.

Baginya pemerintah seolah tidak lagi menganggap mereka. Ia kecewa
dengan pemerintah yang dianggapnya lebih mementingkan pengusaha. Tidak
mengherankan, saat bertandang ke Universitas Paramadina, Jakarta,
Kamis (19/4), terlontar pernyataan bernada sinis atas sikap pemerintah
itu.

Dua hari lalu, saat bertemu dengan dua perwakilan korban luberan
lumpur panas itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim
Muzadi mengatakan, sebaiknya untuk mengatasi masalah luberan lumpur
itu, Presiden harus bertindak sebagai kepala negara dan bukan sebagai
kepala pemerintahan.

Dengan bertindak sebagai kepala negara, Presiden Yudhoyono harus
berlaku sebagai bapak bangsa yang memberikan solusi atas masalah
rakyatnya.

Dan, waktu yang akan menunjukkan sebagai apa Presiden menempatkan
dirinya dalam perkara itu. Rakyat membutuhkan keberpihakan konkret dan
bukan janji dan niat baik saja.

(B Josie Susilo Hardianto/ M Zaid Wahyudi) 

Kirim email ke