Nanti kalau cuma suami yang kerja, para suaminya malah ngluh, "eh kamu minta uang melulu...aku setengah mati kerja, tahu...!" Atau kalau suaminya ketahuan selingkuh atau pengen poligami dan si isteri protes, suaminya malah bilang, "eh kamu protes-protes... yang cari uang kan aku! Udah dikasih segalanya..eehhh masih protes lagi!" Atau kalau suami menceraikan isteri, si isteri bisa hidup dari apa?
Nah kalau kejadiannya begitu, bagaimana? Salam Mulyadi --- In [email protected], "fauziah swasono" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [email protected], Haniwar Syarif > <syarif@> wrote: > > > > Eh aku disemprot.. : Pak Haniwar, seandainya tidak ada wanita yg > bekerja > > .. maka tentunya lapangan kerjanya semuanya utk pria.. dan itu berarti > > pria lebih mungkin dapat kerja yang bisa memenuhi kebutuhan > keluarganya .." > > > > Bener Pak, > dg semua asumsi ini: > 1. semua pria kompeten dg keperluan pekerjaan yang tersedia. > 2. semua pria menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. > 3. semua wanita menikah dan tidak ingin bekerja walau pintar dan cocok > dg lapangan kerja yang ada. > > Kalau tidak? sementara diskrimasi lapangan kerja bias ke pria, para > wanita ditinggalkan tanpa kesempatan apa2 selain menunggu kebaikan > pria... kasiannya wanita dan anak2 yang ditinggal ayah tak bertanggung > jawab... kasiannya wanita yang tidak menikah.. kasiannya wanita yang > ditinggal mati suaminya.. kasiannya wanita pintar tapi harus > dirumahkan demi memberi kesempatan pada pria yang tidak mau > berkompetisi... > > selain itu secara makro ekonomi, negara tidak akan bisa hanya > mempunyai pekerja pria saja. Ada ngga contoh negara spt ini? > > Lebih kecil lagi lingkupnya: sebagai boss, apakah suka membayar 2x > lipat lebih mahal karena short of labor supply? (krn yang bekerja > hanya pria, entah dia kompeten atau nggak). > Jelas, perusahaan ngga ada yang mau rugi, maka harga juallah > dinaikkan. Akibatnya? Ya muter2 di ineficient economy: gaji tinggi > tapi barang dan jasa mahal semua. > > > salam hangat, > > fau >
