Dear All,
   
  Wah...hanya beberapa hari pergi bertugas, sudah banyak opini yang 
diperdebatkan di FPK. I have to catch-up!
  Benar sekali pak Dedi bahwa budaya di Indonesia belum "memperbolehkan" 
perdebatan terbuka dengan "positive attitude", belum bisa ditanggapi oleh 
masyarakat luas. Apalagi kalau perdebatan lawan "gender", masih sangat "tabu".
  Bahwa perempuan di Indonesia belum mempunyai hak yang setara dengan kaum 
laki-laki dalam mengemukakan pendapat nya yang sama bobotnya.
  Kaum laki-laki boleh menuliskan pendapat nya dengan beberapa "innuendo" 
tentang perempuan, tetapi para perempuan tidak boleh mengemukakan pendapat 
dengan "innuendo" tentang laki-laki.
  Misalnya jika seseorang bisa menuliskan: "It's raining women, Hallelujah" 
(yang berarti "indirect remarks about women. Dan biasanya "innuendo" itu 
artinya kurang bagus bagi pihak yang dikategorikan dalam kata-kata tersebut). 
  Tetapi di Indonesia, biasanya pihak yang terkena dampaknya dalam hal 
ini:"women", tidak boleh berkomentar dan harus menerima "innuendo" tersebut. 
Karena yang membuat remarks adalah laki-laki.
  Itulah maksud saya bahwa di Indonesia ini "berdebat" secara sehat belum bisa 
diterima, apalagi jika antara laki-laki dan perempuan.
   
  Apakah opini saya, diatas tersebut, bisa diterima oleh pak Dedi? Ya..monggo 
kemawon, ya pak -:)
   
  Salam,
  Yuli

Dedi Dwitagama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dear all

Berdebat belum menjadi budaya di Indonesia ... di sekolah siswa tidak
dilatih untuk berdebat ...bahkan jarang sekali siswa dirangsang untuk bicara
... yang ada menghafal dan DRILL untuk menjawab soal UN dan SPMB, mungkin
karena itu kita jadi terbiasa berdebat dengan cara yang primitif,
hajar-hajaran, gontok-gontokan atau menelikung dari belakang. Perdebatan
akan makin mematangkan emosi dan kedewasaan seseorang.

Keep Fight
Dedi Dwitagama

Kirim email ke