Sebagian besar yang disampaikan Mang Iyus ini benar adanya. Itu sebabnya, 
feminisme tak pernah berhenti MENDEFINISI ULANG dirinya sendiri, baik terkait 
dengan pemaknaan atas kata "woman", "women", "feminism", "sisterhood", maupun 
"feminine." Ini terlihat dari evolusi dalam feminisme, yang diawali dengan apa 
yang kerap disebut sebagai first-wave feminism (yang melawan pengungkungan 
perempuan di rumah dan tiadanya hak politik), disusul oleh second-wave feminism 
(yang memandang bahwa penindasan terhadap perempuan sifatnya universal dan 
menekankan perjuangan semesta perempuan). Keduanya ini memang dipelopori oleh 
para perempuan kelas menengah urban berkulit putih, yang mungkin sering 
diasosiasikan dengan kaum elit itu. Kini, yang dominan justru adalah thrid-wave 
feminism, yang banyak dipelopori oleh perempuan kulit hitam kelas bawah serta 
perempuan Dunia Ketiga. Tekanan perjuangan mereka adalah pada tingkat lokal dan 
mereka menolak universalisasi penindasan perempuan. Mereka
 juga menempatkan perjuangan gender dalam persilangan dengan perjuangan kelas 
dan ras/etnis. Mereka, dengan kata lain, menentang feminisme fase sebelumnya 
yang dianggap "elitis" meski mengakui bahwa mereka terinspirasi oleh fase-fase 
sebelumnya.
   
  Ramifikasi perkembangan ini adalah para feminis jadi kritis terhadap dirinya 
sendiri, dalam isu-isu kultural seperti female genital mutilation, jilbab, 
trafficking, dll. Artinya, tidak dipukul rata bahwa, misalnya, perempuan yang 
pakai jilbab PASTI tertindas. Misalnya juga, tak serta merta perempuan yang 
disunat pasti mengalami female genital mutilation. Dalam kasus trafficking, 
juga tak semua perempuan diculik, ditipu dan dipaksa jadi penghibur; banyak 
juga perempuan Barat jebolan universitas yang mau mengadu nasib di Jepang 
menjadi penghibur karena gajinya luar biasa gede. Ini semua dipertimbangkan 
sebagai faktor penting, tetapi tidak dipakai untuk menyangkali bahwa 
peminggiran perempuan tidak terjadi dalam skala masif. Tinggal sekarang 
feminisme harus menjadikan konteks lokal sebagai pijakan utama dalam mengaji 
secara kritis permasalahan yang ada.
   
  Soal bahwa pasar kerja didominasi pekerja perempuan, kita mungkin mesti 
mempelajari faktanya secara lebih saksama dan kritis. Pada level apa perempuan 
mendominasi di lapangan kerja? Top management? Karyawan level madya? Buruh? 
Berapa besar perbandingan gaji perempuan dibanding laki-laki? Atau, 
jangan-jangan rekrutmen besar-besaran terhadap pekerja perempuan ini dilandasi 
mitos bahwa perempuan lebih nurut dan pasrah, serta stereotipe bahwa perempuan 
bagusnya buat dipajang untuk menarik client dengan penampilan memikat. Jadi, 
fisik masih jadi kriteria. Juga, adanya satu orang presiden perempuan tidak 
serta-merta jadi indikator telah tercapainya perjuangan feminis. Tak ada 
gunanya ada sosok presiden perempuan jika cara berpikirnya sangat patriarkis.
   
  Fashion atau cara spesifik yang menjadi manifestasi cara pandang yang tidak 
menguntungkan perempuan memang tidak abadi, tetapi juga tak berakhir dengan 
berubahnya fashion. Bonsai kaki boleh saja sudah punah, tapi praktik 
pengekangan perempuan dalam bentuk-bentuk lain terus bermunculan. Fashion bisa 
berubah dan punah; yang hingga kini tetap bertahan adalah pemikiran bahwa 
perempuan adalah warga kelas dua serta berbagai praktik dan institusi yang 
menomorduakan perempuan.
   
  manneke
   
  

Mang Iyus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Numpang juga cuap-cuap sedikit (dua dikit).

Masalah gerakan feminisme itu tidaklah sesederhana seperti yang kerap 
dipikirkan oleh sementara orang. Tidak semudah membalik telapak tangan. 
Persoalan itu sebenarnya sangat luas, rumit dan mendalam dan mengakar 
pada banyak corak kebudayaan.

1. Wanita Cina zaman dahulu kakinya /dibonsai/. Katanya, itu tirani 
laki-laki supaya amoy cantik itu tidak keliaran ke mana-mana dan jadi 
pajangan /ciamik/ di rumah saja. Jadi ada soal unsur tirani suami (NB 
laki-laki) di sini. Kemudian fenomen itu menjadi fenomen elit sosial 
karena hanya kaum elit saja yang kakinya dibonsai. Perempuan biasa yang 
harus kerja keras, termasuk bekerja di sawah kakinya melebar, kukunya 
hitam-tebal dan jalannya seperti ceker ayam yang melebar. Perempuan elit 
tidak mau lari (jadi sukarela bukan?) dari keelitannya dengan simbol 
bonsai kakinya. Perempuan biasa ogah kakinya dibonsai. Tapi jangan kira 
lho, biar kaki dibonsai ternyata banyak juga yang jago kuntauw. Jadi 
kalau bilang dia tersiksa atau disiksa suami, ya asal jangan salah 
kaprah saja, kalau berani coba-coba menggodanya jangan disalahkan kalau 
jadi amsiong.

Pertanyaannya, perlukah perempuan elit dengan kaki bonsai mengaktifkan 
diri dalam gerakan feminisme? Perlukah juga perempuan biasa masuk 
gerakan feminisme supaya sama-sama disayang dan disimpan di rumah dan 
supaya kaki mereka juga dibonsai?

/Met of zonder/ gerakan feminisme yang namanya fashion culture akan 
lenyap oleh perkembangan zaman. Generasi perempuan Cina berkaki bonsai 
sudah punah di dunia!

2. Domestifikasi perempuan kerap dituduh sebagai realitas diskriminasi 
terhadap perempuan. Domestifikasi perempuan itu sebenarnya, dan pada 
dasarnya adalah fenomen apakah? Gejala itu sekurangnya mencakup tiga 
aspek utama: fenomen sosial, fenomen agama, dan fenomen ekonomi?

a. Ada aspek fenomen sosial, karena hanya perempuan elit yang dapat 
didomestifikasi dan tidak perlu turut mencari nafkah untuk keluarga. (Cq 
Perempuan TIDAK PERLU bekerja di luar rumah).

b. Ada pula aspek fenomen agama, karena pembagian tugas suami sebagai 
kepala keluarga dan imam, sedangkan isteri adalah manajer rumah tangga 
supaya tidak terjadi fenomen marginalisasi tugas tersebut menjadi tugas 
pembantu rumah tangga saja. (Cq Perempuan DIDESAIN untuk tugas khusus 
yang tak tergantikan).

c. Fenomen ekonomi, karena penghasilan suami tidak cukup untuk satu 
minggu sehingga isteri harus turut mencari tambahan supaya keluarga bisa 
/survive/ dalam kehidupan sekarang yang serba mahal ini. (Cq Perempuan 
HARUS/TERPAKSA bekerja kalau keluarga mau survive).

3. Namun ada kondisi-kondisi di mana argumen di atas menjadi mentah.

a. Fenomen sosial/ekonomi. Perempuan ingin mempunyai status sosial 
tersendiri dan pribadi. Perempuan juga ingin merealisasikan dirinya 
seturut Hukum Maslow. Ia juga ingin mendapat ‘acceptance’ dari publik 
dan dari kawan-kawannya secara sosial. Ia ingin tampil beda dan unik. 
Jadi sebenarnya ia tidak perlu kerja namun ia perlu status sosial dan 
ingin mempertahankan status tersebut. Maya Ratu merupakan contoh 
gamblang kasus ini. Tanpa bekerjapun keluarganya tidak akan keteteran 
secara ekonomi maupun sosial.

b. Fenomen agama.

Kembali Maya Ratu menjadi contoh. Suaminya menuntut ketaatan total 
sesuai tuntutan agama. Pemahaman radikalis seperti ini tidak bisa lagi 
diterima oleh banyak perempuan yang sukses secara ekonomi dan sosial di 
sini (dan di mana-mana). Makanya banyak artis kondang menceraikan 
suaminya sendiri. Kasus Dewi Yul jelas murni bersifat agama. Walaupun 
agama mengizinkan perceraian tetapi agama tidak mengharuskan wanita 
menerima status dimadu. Dalam kesamaran hukum agama itu ia memilih untuk 
bercerai.

4. Aspek lapangan kerja atau employment.

Secara natural maka suami adalah pencari nafkah utama. Secara agama juga 
demikian. Dengan masuknya SDM perempuan ke pasaran tenaga kerja, maka 
kesempatan kerja bagi para suami menjadi ciut. Akibatnya banyak 
laki-laki yang kalah saingan dan menjadi pengangguran atau mendapatkan 
pekerjaan yang lebih inferior, mismatch dsb. Sebagai tenaga marekting 
dan sales wanita memiliki inner dan outer beauty yang menjadi plus point 
dalam bernegosiasi. Laki-laki tidak bisa menjual tampang doang untuk 
memenangkan sales dan ia harus bergantung semata-mata kepada kualitas 
persuasion abilitynya. Di samping itu tenaga perempuan realtif lebih 
murah karena mereka cenderung tidak banyak menuntut hak failitas ini dan 
itu.

5. Aspek hukum.

Memang benar perempuan mempunyai Hak Azasi Manusia yang setara dan sama 
dalam hukum. Namun, pada kenyataannya di lapangan kepincangan dan 
ketidak adilan hukum itu tetap ada.

Seorang perempuan berhak cuti haid dan cuti hamil. Cuti haid kalau 
dipaksakan diambil misalnya 2 hari x 12 bulan = 24 hari secara hukum sah 
dan harus diberikan. Maka secara hukum ia berhak mendapat hak untuk 
“tidak bekerja” dua kali lebih banyak dari karyawan laki-laki dari hak 
cuti haidnya saja, plus hak cuti biasa. Belum lagi hak cuti hamil yang 
lamanya 30 hari. Itu sama dengan hak cuti besar laki-laki yang sudah 
bekerja minimal 5 atau 10 tahun. Dalam realitas di lapangan kaum 
laki-laki bahkan banyak yang tidak diberikan hak cuti biasa sekalipun. 
Tantangannya, kalau tidak suka perlakuan itu ya silahkan cari kerja di 
perusahaan lain saja. Karena sukarnya mencari kerja lain maka perkosaan 
hak cuti itu terpaksa ditelan saja oleh kebanyakan karyawan laki-laki.

Kalau saya seorang pengusaha, apa perlunya saya memakai mayoritas 
karyawan perempuan yang “menyusahkan dan memberatkan” beban perusahaan 
itu, kecuali untuk posisi-posisi yang tak mungkin tergantikan (umpamanya?).

Memang untuk jenis pekerjaan yang ekstensif tenaga kerja wanita seperti 
pabrik konfeksi atau perakitan sepatu kets yang mempekerjakan 5.000 
sampai 10.000 orang di satu pabrik pemakaian tenaga kerja perempuan 
adalah mutlak. Di sinipun kemudian hak cuti haid dimodifikasi dengan 
penyediaan klinik perusahaan dan ranjang-ranjang intirahat. Bila 
karyawan perempuan benar-benar sakit dan menderita nyeri hebat karena 
haid mereka boleh tiduran di sana tetapi tetap tidak diizinkan pulang. 
Haid adalah fenomen siklikal yang kurang lebih bersamaan hari jatuhnya, 
maka bila 10.000 buruh wanita haid bersama-sama katakanlah minimal 25% 
nya saja, maka pabrik terancam “musibah” yang luar biasa. Tidak bisa 
masalah ini diatasi hanya atas nama feminisme, HAM, atau jargon-jargon 
klise lainnya.

6. Redefinisi gerakan feminisme.

Rasanya perlu diredefinisi apa sebenarnya gerakan feminisme itu? Dimulai 
dengan meneliti, mengamati serta merumuskan apa sajakah hak-hak 
perempuan yang masih tetap dikangkangi lelaki – gak mau dilepas-lepas - 
atau tidak pernah diberikan kepada kaum perempuan?

Bahkan jadi Presiden di negeri ini telah diberikan dan dinikmati oleh 
perempuan. Apa sih tepatnya maunya yang belum kesampaian? Mayoritas 
keanggotaan di Parlemen atau Eksekutif? Itukah yang menjadi isyu utama? 
Apakah itu mutlak penting buat mayoritas perempuan non-urban di negeri 
ini? Bidang apa yang tertutup rapat di negeri ini untuk perempuan 
kecuali jadi pastor? Kalau perempuan dilarang keluar malam di wilayah 
Tangerang, nah itu jelas-jelas melanggar hak azasi manusia tetapi tetap 
diPerdakan. Keluar malam dipersoalkan, bukankah mereka boleh keluar 
malam asal bersama suami atau anak-anak. Kalau soal buruh pabrik 
bukankah mudah diselesaikan dengan menunjukkan Kartu Karyawan pabriknya 
? (kalau satpol-pp mau ngerti juga dan tidak ngincar duitnya).

Mang Iyus

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Numpang Nimbrung Berpendapat...

Diskusi ini menurut saya terjebak pada teori saja.
Belum memahami esensi dari feminisme sendiri. Disini
seolah feminisme milik kaum terpelajar saja. Padahal
Feminisme bukan milik para akademisi saja. Feminisme
adalah milik para perempuan tertindas dan
termarginalkan oleh sistem patriarkhi.

Menurut Kamla Bhasin/Nighat Said Khan, feminisme
adalah SEBUAH KESADARAN ADANYA KONTROL, EKPLOITASI DAN
PENINDASAN, BAIK DI TINGKAT MATERI, EDEOLOGI, PIKIRAN,
KERJA, TUBUH, KESUBURAN, SAMPAI SEKSUALITAS. DAN
KESADARAN ITU MENDORONG MELAKUKAN TINDAKAN ATAU AKSI
SECARA SADAR UNTUK MENGUBAH KEADAAN ITU.

-


=====================================================
Pojok Milis Komunitas FPK:

1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================

Yahoo! Groups Links





 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke