Masalah plagiat sangat banyak di negara kita. Dan memang dunia pendidikan kita kan ngajarinnya gitu. Nyontek. Sampai di bangku kuliah pun sama, berapa banyak sih mahasiswa yang nyusun skripsinya gak nyontek ? Selain nyontek, bahkan banyak pula yang cuma hasil beli.
Persoalan artikel ini juga, sekarang ini sangat susah buat dicari siapa yang salah. Apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, memudahkan kita semua untuk bisa mengcopy seluruh isi naskah tanpa perlu capek menyalin sendiri. Tapi memang sudah etikanya kalau kita memforward artikel seseorang, agar mencantumkan source aslinya. Tidak hanya soal artikel atau naskah tulisan seperti yang diposting oleh mas Satrio, tapi demikian juga dengan ide, blueprint atau sampai ke coding software (opensource). Di luar negeri, para praktisi open source sangat menghormati hasil karya orang lain, jadi kalaupun seseorang mengubah atau menambahkan sesuatu pada source software opensource, mereka tetap mencantumkan siapa coder asli dari software tersebut, dan menambahkan nama dia dan modul mana yang diubah olehnya. Hal ini selain sebagai bentuk penghargaan, juga untuk memudahkan version tracking dari perkembangan software tersebut. Beda dengan Indonesia. Kalau perlu namanya dibuang semua. Buat Pak Onno W Purbo, sebagai masukan saja. Konsep wajanbolik sebenarnya juga bukan ide orisinal pak E-Goen. Saya menemukan cukup banyak artikel tentang konsep wajanbolik (walau tidak diberi nama wajan bolik) tersebut di banyak website luar yang membahas tentang penggunaan Wi-Fi, yang tanggal penulisan atau dipublishnya lama sebelum wifi ramai di Indonesia. Tapi toh pak e-goen juga tidak pernah mengklaim itu adalah ide orisinal dari dia pribadi. Dan sayangnya beliau juga tidak pernah menyangkal saat orang-orang mengira beliau lah yang menciptakan ide itu. Tapi saya pribadi tidak ada kepentingan soal siapa yang punya ide, tapi yang penting bahwa ide itu berguna bagi banyak orang, dan hingga saat ini saya belum melihat ada pihak yang dirugikan. Kecuali bila nanti pak egoen bermaksud mempatenkan wajanbolik ini, maka hal ini mulai jadi agak keterlaluan. Demikian juga dengan artikel yang sekarang sedang dipermasalahkan. Di luar dari masalah siapa penulis asli artikel ini, saya merasa artikel ini sangat berguna buat masukan kepada departemen pendidikan kita sebagai bahan kajian. selain artikel yang dikirim, saya juga menemukan banyak link artikel yang membahas mengenai system pendidikan di finlandia dan dunia secara umum. Mungkin bisa sebagai pembanding. http://www.susanohanian.org/show_inthenews.html?id=432 http://www.bangkokpost.net/education/site2004/cvmy2504.htm http://www.unicef.org/media/media_19241.html Regards, Paulus T. On 5/13/07, niken_here <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Apa yang dilakukan oleh Bung Andri Aji Saputro ini merupakan bentuk > plagiarsm...jadi kita bisa menyebut Bung Adji sebagai seorang > plagiator...saya kecewa dan mungkin banyak juga yang kecewa ketika > seorang plagiator masih bisa hidup tenang. tapi mungkin juga Bung Adji > tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. mungkin dia tidak tahu apa > yang dia lakukan ini adalah salah satu bentuk dalam kejahatan > jurnalistik...yah coba deh bung Satrio minta penjelasan bung Andri > siapa taw dia tidak tahu....ini sih siapa tahu ya....
