Kenapa kalau setiap ada permasalahan dilemparkan ke tengah forum, yang
dibahas hampir selalu pada siapa penulisnya, cara penyampaiannya, dan
lainnya tapi tidak pada pokok persoalannya sendiri ?

Regards,
Paulus T

On 5/14/07, si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau Anda baca lagi, Bapak Ariel ini tidak sedang berbicara soal
> peminggiran, Pak Manneke. Dia sedang mencoba menganalisis mengapa
> masyarakat kita dari dulu suka memilih jalan kekerasan.
>
> Cuma entah kenapa analisisnya harus muter-muter dulu ke
> urusan "seksisme anti perempuan" dan "bangkitnya murka maskulin".
> Seakan-akan menjadi maskulin identik dengan anti perempuan,
> militeristik, dan penuh kekerasan, dan lebih parah lagi, dipandang
> seperti wabah. Siapa yang sekarang sedang berstereotip-jender ria?
>
> Kalau zamannya membela perempuan belum musim, mungkin masalah budaya
> kekerasan kita itu akan dilihat dari sudut pandang militerisme,
> keterpasungan politik, atau gagalnya pendidikan budi pekerti. Cuma
> kan belakangan Kompas seperti kesetanan memuat artikel tentang
> perempuan. Hampir tiada hari tanpa artikel sejenis; jadi peristiwa
> Mei 1998 pun sepertinya sah saja dibelokkan untuk topik kesayangan
> Kompas itu.
>
> Sama saja umpamanya kalau saya menulis bahwa kepemimpinan SBY itu
> lelet dan terlalu berbasis konsensus, maka orang-orang akan
> mengangguk-angguk. Tapi apa perlu umpamanya saya lanjutkan dengan
> beranalisis bahwa hal itu adalah akibat "politik kita yang makin
> feminin", karena kebetulan saya punya stereotipe bahwa yang berpaham
> konsensus di atas segalanya itu adalah perempuan?
>
> Jadi komentar saya persis seperti yang Anda harapkan. Pak Ariel ini
> cuma berteori saja. Tidak berbasis realitas.
>
> Andi

Kirim email ke