Halo,Pak John, Memang saya sendiri juga mendirikan Daycare untuk anak usia dini dengan Kebutuhan Khusus yang mungkin agak berbeda dengan play group ditempat lain.Karena anak-anak seperti ini memang mempunyai kesensitifan dan Pola Pikir yang berbeda dari teman-teman lainnya.
Dan mengapa usia dini, karena ini merupakan "Usia Emas" mereka sehingga kita bisa "mengarahkan" mereka dengan baik. Bukan "mengisi" Otak mereka dengan sebanyak-banyaknya Ilmu Tujuan/ target dari kurikulum kami agar anak menjadi "Mandiri" jadi bukan "Pandai" ....tapi bukankah kemandirian itu membuktikan bahwa anak itu "Smart"?? Didalam kurikulum terdapat kriteria psikomotor disini anak didorong untuk meng"eksplor" fungsi tubuhnya melalui gerakan motorik. Agar anak mampu mengatasi permasalahan motorik yang datang dihadapi tanpa harus merengek-rengek, atau marah-marah tidak keruan.Anak mampu membaca bahasa tubuh orang, mimik orang, sehingga mereka bisa selalu waspada pada setiap asalah yang ada didepannya. Anak disini diarahkan agar mau berkomunikasi 2 arah baik verbal maupun non verbal. Ada juga kriteria Audiomotor yang mana anak disini meng"eksplor" macam-macam nada suara. Belajar mendengarkan cerita, dan mengulangi apa yang diceritakan, sesuai dengan versi dari masing2 anak. Sehingga kita bisa melihat apakah anak paham atau tidaknya dari cerita yang dibacakan tadi.Diruang ini juga anak belajar me "relaksasikan" dirinya masing2 (Menahan diri untuk tidak berisik). Disamping itu kami menyajikan juga film khusus anak yang sangat mendidik seperti film2 Sesam Street lalu kita bahas isi film tersebut bersama anak. Untuk segi akademis kami mempunyai kriteria Visual motor, disini kami membiarkan anak-anak meng"eksplor" penglihatannya melalui benda-benda yang kami tawarkan seperti cat air, supidol, malam (Lilin yang bisa dibentuk), puzzle, mainan2 edukatif yang menggerakan logika mereka. Selain kamipun mempunyai program bermain diudara bebas, seperti makan dikebun, main air, main hujan, main sabun, bercocok tanam, dan semua mungkin yang dirumah dilarang. :-). Kami juga mempunyai program berbelanja bersama anak-anak ke pasar.Dan ketempat-tempat yang orangtuanya tidak akan sempat membawa mereka kesana. Sifat Daycare kami selain mengasuh,kami juga memberikan aupan-asupan dari sisi akademisnya agar mereka kelak bisa masuk sekolah tanpa kesulitan.Karena kami isi dengan mengarahan "Sensorinya" sehingga anak menjadi mawas diri, membuat mereka bebas dan aktiv untuk bertanya. Anak dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri.Anak diarahkan agar mau bertanggung jawab pada dirinya. Secara prinsip model pendidikan ditempat kami, apapun jawaban anak itu tidak ada yang salah, yang ada mungkin penguraiannya masih belum tepat dan itu kita perbaiki bersama melalui kesadaran mereka sendiri juga. Di awal sekitar 1-2 bulan terasa anak menjadi sangat menyulitkan (nakal) karena mereka merasa bebas untuk berpendapat, rasa ingin tahunya menjadi sangat tinggi sehingga akan selalu bertanya. Tetapi selanjutnya mereka akan paham dengan apa yang seharusnya mereka lakukan dan yang tidak boleh mereka lakukan, tanpa kita harus bertengkar dengan mereka. Kelak sesudah melewati jenjang SD biasanya, anak yang terbiasa "Belajar" dengan cara ini, akan lebih mampu untuk mengatasi semua sistim pendidikan yang di ajukan pada mereka.Dan tentunya merekamenjadi sangat kritis...dan hal itu masih kurang diterima oleh para pendidik di Indonesia karean dianggap "kurang ajar" Mengenai tokoh2 yang anda sebutkan saya juga mengikuti perkembangan mereka ternyata meskipun mereka sukses dalam bidangnya. Tetapi ternyata mereka kurang sukses menjadi manusia biasa, umumnya mereka mempunyai kesulitan dalam bersosialisasi. Bagi saya lebih baik anak saya tidak mempunyai prestasi yang nantinya menyulitkan jalan hidup mereka sendiri. Kadang kita sebagai orangtua lupa, bahwa akhirnya hidup ini harus dijalankan sendiri oleh anak kita. Mudah2an masukan ini berharga bagi anda! Salam dari Ratih --- john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bu Ratih, membaca tulisan Ibu, saya jadi ikut > prihatin melihat anak-anak sekarang, yang sejak usia > 4 tahunan sudah diikutkan play group, usia 5 atau 6 > tahun sudah dijejali berbagai macam les (les renang, > bahasa Inggris, piano, kumon dll), suatu hal yang > tak pernah terbayangkan pada masa kecil saya. > > Tapi di sisi lain saya juga melihat banyak sekali > orang yang sukses (dalam karir), karena sejak usia > dini sudah mendapat pendidikan secara intensif. > Dalam dunia hiburan misalnya Michael Jackson (artis, > USA), Sherina (artis, Indonesia). > Dalam dunia olahraga misalnya Ian Thorpe (renang, > Australia) atau Juergen Klinsmann (sepakbola, > Jerman). > Dalam dunia politik misalnya keluarga Gandhi > (India) atau Kennedy (USA). > > Jadi bagaimana sebaiknya Bu Ratih, solusi yang > pas buat pendidikan anak usia dini? > > Salam.
