Mbak Wulan, ceritanya bagus sekali. Saya juga ingin melakukan pembekalan moral
dan rujukan bantuan pendidikan untuk anak-anak seperti yang Mbak ceritakan itu,
yang bersemangat tinggi namun terkendala kemampuan ekonomi. Doakan semoga
berhasil ya Mbak.
Menanggapi kalimat pada akhir paragraf yang Mbak tulis, saya penasaran ingin
bertanya pada Mbak Wulan, apakah tidak jenuh untuk menggantungkan harapan pada
pemerintah kita?
Ratna
dyatmika wulan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jadi ingat novelnya Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
di novel itu diceritakan tentang anak-anak dari Bangka, Belitung, yang punya
keinginan kuat untuk bersekolah, meski dengan fasilitas yang serba terbatas. Di
situ juga diceritakan salah satu anggota LAskar Pelangi yang setiap hari
menempuh jarak 80 km dengan sepeda hanya untuk sekolah. Tapi jangan bayangkan
jalannya beraspal lurus, dia bahkan harus melewati rawa yang banyak dihuni
buaya. namun Ia tak pernah telat dan tak pernah bolos seharipun! bahkan Ia
menjadi murid paling pandai di sekolah itu, bahkan di Ia sanggup beradu
kepintaran dengan seorang guru lulusan S2. namun sayang, kerena kematian
ayahnya, terpaksa Ia harus berhenti sekolah dan menggantikan ayahnya untuk
menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya. sungguh cerita yang sangat
miris.....
Saya yakin, masih banyak Lintang-Lintang yang lain di negeri kita ini. cuma
sayang kebanyakan dari mereka mungkin terhambat untuk menggapai prestasi karena
(paling besar) masalah ekonomi.
belum lama ini saya dan dua orang teman ditugaskan di daerah Tasikmalaya, di
mana anak2 disana harus menyeberang sungai dengan arus deras untuk bersekolah
(mungkin topik ini pernah diliput semua media cetak atau elektronik di sini).
di sana saya bertemu dengan Badru, seorang anak kelas IV SD, usia 12 tahun (dia
pernah tampil juga di sebuah program anak beberapa TV Nasional). Si Badru ini
sangat ketika ditanya cita-citanya berkata bahwa Ia ingin menjadi karyawan TV.
dugaan saya karena Ia banyak melihat teman-teman dari media elektronik yang
meliput, dan Ia merasa excited kamera video yang bisa merekamkan banyak hal.
Melihat ketertarikan Badru salah seorang teman meminjamkan kamera fotonya, dan
hasil bidikannya sungguh di luar bayangan kami. sangat Natural dan bisa
menceritakan sekolah dari sudut pandangnya... kami bersepakat bahwa Badru
mempunyai kecerdasan, daya pikir dan imajinasi yang hebat. hal ini kami
simpulkan bukan hanya melihat dari foto-foto hasil karyanya, namun
juga cara dia berkomunikasi dengan kami dan bercerita tentang gagasan2 dia. tak
hanya Badru, saya juga bertemu dengan Resti yang sangat cerdas mengerjakan
hitungan-hitungan matematika.
Sebetulnya sangat disayangkan anak-anak itu hidup di tempat yang fasilitas
pendidikannya sangat minim. di tempat tersebut belum ada listrik, angka putus
sekolahnya masih sangat tinggi. hal ini sebagian dikarenakan faktor ekonomi,
juga jauhnya sekoalh dari desa mereka. Ketika saya sudah kembali ke Jakarta,
saya masih suka sedih jika teringat mereka... tapi saya juga bangga melihat
semangat mereka. Mereka adalah anak-anak yang dibesarkan oleh kesulitan, namun
talk memandang semua itu sebagai kesulitan ...
Mungkin diperlukan lebih banyak lagi orang-orang yang mau peduli terhadap
pendidikan anak di Indonesia. Pemerintah juga semestinya memberikan lebih
banyak lagi untuk pendidikan anak-anak Indonesia, terutama mereka yang berada
di daerah pelosok.. .Saya yakin jika anak-anak kita dibekali moral serta
pendidikan yang memadai, bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat kelak. Namun
saya melihat, inilah yang tersulit untuk dilakukan di (terutama Pemerintah)
Indonesia. Mungkin inilah saatnya bagi kita, yang berlebih untuk memberi
sedikit bagi mereka yang kekurangan.
Salam