http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/15/humaniora/3532553.htm
=======================

Program kependudukan, terutama keluarga berencana atau KB, di Tunisia
mendapatkan prioritas sangat tinggi dari pemerintah setempat.
Pengembangan kebijakan dan strategi umum dari program tersebut
dilakukan oleh Population Council yang berada langsung di bawah
perdana menteri.

Population Council merupakan lembaga nonstruktural yang anggotanya
terdiri atas beberapa menteri terkait, ilmuwan, tokoh
masyarakat/agama. Population Council mengadakan pertemuan sekali
setahun untuk menentukan kebijakan serta strategi program yang akan
dijalankan.

Dalam menjalankan fungsinya, Population Council dibantu oleh
sekretariat yang berada di lingkungan Office of National Family and
Population (ONFP, badan yang mengurus KB dan kependudukan di Tunisia).
Walaupun Tunisia menganut faham desentralisasi, kebijakan yang
dikeluarkan oleh Population Council harus dijalankan oleh seluruh
menteri terkait dan juga oleh pemerintah tingkat provinsi dan distrik.

Yang mengagumkan dari Tunisia adalah ternyata pejabat pemerintahan di
semua lini memahami persoalan KB dan kependudukan. Jadi, program KB
bukan hanya urusan ONFP, melainkan semua pejabat publik.

Termasuk di antaranya adalah Menteri Agama Tunisia Boubaker Khzouri
yang sangat memahami masalah KB dan kependudukan. Realitas itu
terungkap saat delegasi Indonesia (rombongan BKKBN dan para ulama
Indonesia) bertemu Boubaker Khzouri di kantornya di Tunis, 18 April 2007.

Tidak hanya Menteri Agama Tunisia, Rektor Universitas
Zitouna—universitas Islam tertua di dunia yang ada di kota
Tunis—Bouyahia Salem pun begitu fasih menjelaskan kebijakan, strategi,
serta pelaksanaan program KB di Tunisia. Ini tidak lepas dari
tingginya komitmen politik negara terhadap program tersebut.

Empat faktor

Kependudukan/KB merupakan salah satu pilar dalam strategi pembangunan
Tunisia. Koordinasi pelaksanaan program ini berada langsung di bawah
perdana menteri melalui Population Board.

Dari paparan yang mereka sajikan, ada empat faktor kunci keberhasilan
program kependudukan dan KB di Tunisia. Selain tingginya komitmen
politis dari pemerintah, tiga faktor kunci lain adalah struktur serta
rencana kerja yang jelas dan diikuti oleh seluruh pihak terkait sampai
ke tingkat daerah, dukungan dari tokoh agama, serta penggerakan
masyarakat. Dalam pertemuan dengan rombongan BKKBN dan ulama
Indonesia, terungkap bahwa faktor pertama dan kedua merupakan dasar
dari semuanya.

Pencapaian program kependudukan, khususnya pengendalian pertumbuhan
penduduk, di Tunisia relatif lebih maju daripada Indonesia. Tingkat
pertumbuhan penduduk, kelahiran dan kematian (total, bayi, anak serta
maternal) jauh di bawah Indonesia.

Tingkat kesertaan ber-KB relatif sama dengan Indonesia, tetapi metode
kontrasepsi yang digunakan lebih banyak yang bersifat jangka panjang,
seperti IUD dan operatif. Tampaknya ini yang menyebabkan mengapa total
fertility rate (TFR) di Tunisia relatif lebih rendah daripada
Indonesia, yaitu 2,1.

Dalam konteks keberlangsungan kerja sama yang tertuang dalam MOU (nota
kesepahaman) yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Tunisia di
Bali pada bulan November 2006, dalam kesempatan kunjungan ke Tunisia
tersebut, delegasi Indonesia mengundang ulama Tunisia untuk hadir
dalam pertemuan ulama seluruh Indonesia yang direncanakan akan digelar
BKKBN pada bulan Juni atau Juli 2007.

Kedua belah pihak pun sepakat untuk saling mengirimkan tenaga guna
mengikuti pelatihan di kedua negara. Tidak hanya itu, Pemerintah
Tunisia bahkan berminat untuk melakukan pembelian kondom dari
Indonesia. Rincian rencana tersebut akan dibahas pada waktu pertemuan
di China, di mana kedua negara akan hadir.

Terkait dengan rencana pembelian kondom tersebut, tim dari Tunisia
akan melakukan kunjungan ke Indonesia pada bulan Juni 2007. Delegasi
Indonesia juga menyampaikan kemungkinan kunjungan parlemen Indonesia
ke Tunisia untuk melihat pelaksanaan program KB di negara tersebut
pada akhir Mei atau Juli mendatang. (LOK)



Kirim email ke