Oleh KRISTI POERWANDARI http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/15/metro/3533120.htm =======================
Kekerasan sudah menjadi sesuatu yang amat biasa dalam masyarakat. Setiap hari kita mendengar dan membaca berita tentang kekerasan hingga bentuknya yang paling parah. Bunuh diri juga menjadi berita cukup umum. Yang akhir-akhir ini mulai banyak muncul adalah fenomena kekerasan dalam wajah yang paling sulit dimengerti, yakni pembunuhan yang kemudian diakhiri dengan upaya bunuh diri. Meski tidak selalu, hal ini lebih sering terjadi dalam konteks keluarga atau hubungan romantis. Menjelaskan tindakan pembunuhan terhadap orang lain tampaknya cukup mudah. Ada banyak teori dapat diacu untuk itu. Dari sisi konseptual, juga masih lebih mudah menjelaskan fenomena bunuh diri daripada homicide-suicide. Untuk bunuh diri, ada penjelasan biofisik-farmakologis, psikososial-epidemiologis, hingga yang filosofis-spiritual. Dari sisi biofisik-farmakologis, kadar dopamin, norepinefrin, dan tingkat serotonin ditemukan berasosiasi dengan kecenderungan depresi dan percobaan bunuh diri. Ketidakseimbangan kimiawi dalam tubuh mungkin terjadi karena sakit, penggunaan obat atau diet tertentu. Barangkali sebagian kita pernah mengalami salah obat, yang justru membuat badan serasa rontok, mau mati, atau seperti mengalami halusinasi? Sebagian kasus bunuh diri tampaknya dapat diterangkan melalui penjelasan ini. Jika ditelusuri melalui sejarah keluarga atau orang-orang terdekat, ditemukan pula kecenderungan pelaku (percobaan) bunuh diri memiliki orang-orang dekat yang pernah atau berhasil melakukannya. Kasus paling terkenal tentu Ernest Hemingway: ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, dan cucunya juga mati bunuh diri. Meski demikian, selain alasan lain apa pun yang bisa diajukan, inti utamanya dalam hemat saya adalah persoalan "fatalisme" dalam memahami hidup. Ibu yang membunuh anak-anak dan dirinya sendiri sudah pasti kehilangan harapan hidup, dirundung keputusasaan total, karena lebih berani memilih melakukan homicide-suicide daripada terus hidup. Sementara itu, homicide-suicide yang dilakukan laki-laki juga didasari keputusasaan dan fatalisme. Pria pada khususnya, dengan sosialisasi yang diterima, cenderung lebih mudah menyalahkan pasangannya untuk kekacauan hidupnya sendiri. Ia putus asa dan marah karena tidak mampu menjalankan perannya sebagai penguasa rumah tangga. Kedekatan istri dengan pihak lain dilihat sebagai ancaman dan penghinaan. Kebutuhan istri untuk mengembangkan minat dan mengaktualisasi diri atau untuk bicara terbuka secara setara dilihat sebagai perlawanan dan pembangkangan. Pukulan, pisau, atau pistol kemudian berbicara. Tetapi, ia juga merasa tidak mampu hidup sendiri tanpa pasangan hidupnya sehingga ia memilih bunuh diri setelahnya. Bunuh diri dan pembunuhan anggota keluarga yang disudahi dengan bunuh diri bukan sekadar masalah psikologi klinis, melainkan masalah kesehatan masyarakat. Kita melihat kecenderungan makin seringnya tindakan kekerasan parah, bunuh diri, serta homicide-suicide dilakukan. Jika tidak ada sesuatu yang salah dengan masyarakat kita, mestinya insidennya tidak perlu harus terus meningkat. Kristi Poerwandari Dosen di Fakultas Psikologi UI
