Awalnya Ariel percaya bahwa manusia pada umumnya tidak akan bisa 
melakukan pemerkosaan massal dengan ditonton banyak orang; tidak 
juga manusia yang rasis. Ergo, harusnya penjelasan peristiwa ini 
bukan pada karakter manusianya karena manusia normalnya tidak 
begitu. Sayangnya tulisannya tidak mengarah ke situ. Beliau malah 
balik mengatakan bahwa karakter manusia Indonesia memang begitu 
adanya. Kasarnya perkosaan massal itu wajar belaka untuk ukuran 
kita, karena masyarakat Indonesia sudah parah dalam "seksisme anti 
perempuan" sehingga kita sebagai masyarakat bisa 
melakukan "pemerkosaan massal ditonton khalayak bersorak sorai".

Ada dua hal yang tidak kokoh tegaknya di situ: peristiwanya sendiri 
dan penjelasannya. Benarkah kita sebagai masyarakat, secara alamiah, 
sanggup melakukan itu? Ingat, kita sedang bicara masyarakat 
Indonesia; bukan Laskar Jihad atau Kopassus atau preman Tanah Abang; 
komunitas khusus dengan nilai moralnya sendiri. Ariel langsung 
memvonis: ya, sanggup; sembari menyodorkan spekulasi bahwa semua itu 
terjadi karena masyarakat kita yang makin maskulin. Maskulin dalam 
pengertian beliau adalah suka kekerasan dan anti-perempuan. Entah 
darimana datangnya pengertian ini. 

Jadi penulis berangkat dari asumsi luar biasa ini. Kemudian asumsi 
itu dijelaskan dengan spekulasi soal maskulinitas (yang 
didefinisikan sendiri). Kalau pendapat punya kaki, kaki pendapat ini 
adanya di awang-awang, Pak. Namun berhubung pendapat Ariel sejalan 
dengan pandangan politik Anda, maka secepat kilat Anda mengamini 
tanpa memeriksa kokoh tidaknya argumennya.

Namun sampai di situ saya masih bisa memahami upaya Ariel 
menjelaskan peristiwa 1998 yang membingungkan banyak orang itu. Tapi 
parahnya, argumen yang sudah goyah ini kemudian dijadikan kuas besar 
untuk mewarnai semua peristiwa kelam di tanah air: mulai dari 
peristiwa 1965, petrus, kekerasan di IPDN, sampai KDRT. Semuanya 
pukul rata: murka maskulin. Padahal, kembali lagi, setiap peristiwa 
itu ada penjelasannya sendiri yang masuk akal dan lebih membantu 
dalam menyelesaikan masalah. 

All things being equal dalam Occam's Razor tidak berkonotasi seperti 
kata Anda itu (silakan di-Google, Pak; biar tidak katro). Being 
equal artinya semua argumen harus beroleh kesempatan yang sama dalam 
mengajukan bukti sebelum dibandingkan. Penjelasan yang sederhana 
juga dibebani beban bukti yang sama dengan penjelasan yang rumit. 
Penjelasan ala Ariel ini sudah lama putus disilet oleh si Occam 
karena lemah di kedua bidang: tidak sederhana dan sukar dibuktikan.

Andi

--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Nah, di sinilah persoalannya dengan Anda. Campur-aduk istilah 
secara jungkir-balik. Sekali lagi, yang sedang bergenderria 
tampaknya makin jelas bahwa bukan Ariel melainkan Anda. Terus, apa 
sih hubungannya tulisan Ariel atau obrolan kita ini dengan 
pemelintiran istilah pada zaman orba buat kepentingan politik? Apa 
Anda maksud inilah yang sedang Anda lakukan juga saat ini?
>    
>   Analisis Ariel mengada-ada? Setidaknya hubungan-hubungan yang ia 
bangun cukup logis, dibanding sanggahan Anda yang tak memperlihatkan 
analisis apa-apa kecuali sederetan pertanyaan. Bagian mana sih 
persisnya dari gagasan Ariel yang mengada-ada? Ayo kita perdebatkan 
lebih lanjut.
>    
>   Pepatah yang Anda kutip itu bukannya tanpa syarat, Boss: mungkin 
betul, "the simplest explanation may be the best." Tapi dengan 
syarat: "all things being equal." Nah equality inilah yang tak 
terjadi. Jika sudah ada, Pak, maka dunia kita tak sekarut-marut 
seperti sekarang. Sayang, Anda cuma terpukau pada buntutnya aja, dan 
tak kritis terhadap bagian awal dari pepatah itu.
>    
>   manneke
>    
>   
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Ah, maskulin tidak identik dengan laki-laki? Silakan 
saja, Pak. Saya 
> sudah biasa kok, sejak zaman orde baru, mengalami pemelintiran 
> istilah untuk kepentingan politik.
> 
> Saya ulang lagi. Concern yang diangkat Ariel itu sangat relevan. 
> Mengapa sih orang Indonesia suka kekerasan? Analisisnya itu yang 
> mengada-ada. Banyak penjelasan yang lebih sederhana: Apakah 
> pendidikan budi pekerti di rumah tidak memadai? Apakah karena 
> sejarah kita terlalu menggembar-gemborkan perjuangan bersenjata? 
> Apakah karena setelah 32 tahun kita tidak terbiasa lagi berdebat 
> sehingga yang terlihat cuma jalan kekerasan? Atau apakah karena 
> kesenjangan sosial di perkotaan sudah terlalu besar, menghasilkan 
> letupan-letupan kecil, menunggu revolusi yang lebih besar?
> 
> Ada pepatah namanya Occam's Razor, Pak: All things being equal, 
the 
> simplest explanation is usually the best best one.
> 
> Andi
> 
> --- In [email protected], manneke budiman 
> <hepaesthos@> wrote:
> >
> > Tidak, Andalah yang keliru. Ariel mencoba membuat kaitan antara 
> militerisme yang maskulin dengan kekerasan terhadap perempuan yang 
> terjadi pada Mei 1998. Ariel mengidentifikasi sumber kekerasan 
pada 
> maraknya milterisme, yang secara dominan diwarnai oleh 
maskulinitas 
> berlebihan. Maskulinisme yang chauvinistik ini selalu menjadikan 
> perempuan dan kelompok-kelompok lain yang dipandang "lemah" 
sebagai 
> sasarannya.
> > 
> > Anda tak melihat kaitan tulisan Ariel dengan realitas karena 
> Anda termasuk orang yang jalan pikirannya sama dengan para 
> maskulinis itu. Memang selalu pihak yang bermasalah tak melihat 
> dirinya bermasalah, dan masalah selalu dilempar ke pihak lain 
> (perempuan, etnis minoritas, homoseksual, waria, pekerja seks, 
> buruh, anak jalanan).
> > 
> > Ariel juga tak membuat stereotipe soal laki-laki, Bung. Baca 
> yang betul dong. Maskulinitas tak identik dengan laki-laki, 
seperti 
> halnya tak semua perempuan identik dengan femininitas (perempuan 
> patriarkis juga segudang). Menurut saya sih, yang senantiasa 
> berstereotipe gender-ria bukan Ariel, tapi Anda sendiri.
> > 
> > Bahkan, tulisan Ariel yang menolak seterotipe gender pun sampai-
> sampai dibaca sebagai tulisan yang mengukuhkan stereotipe gender. 
> Oalah mak jan....
> > 
> > manneke
>


Kirim email ke