Dear Rekan2 FPK, Menyikapi tulisan di koran Kompas mengenai "Kualitas dan mutu guru sekolah di Indonesia" masih rendah. Saya sebagai pribadi yang belum pernah terjun di dunia pendidikan guru di Indonesia tentunya tidak dapat mengkomentari mengenai kurikulum pendidikan yang seperti apa mereka(Guru) terima. Hanya tentunya saya sebagai "Pemakai" tenaga pendidik saya sangat mengutamakan kepribadian seorang pendidik sebagai cara untuk menilai kualitas dan mutunya Pendidik sebelum saya tempatkan mereka.
Ternyata saat wawancara awalpun mereka yang ingin bekerja di tempat saya, anehnya yang banyak tergelincir malah yang lulusan dari Ilmu Pendidikan Guru. Awalnya saya pun ragu menerima tenaga pengajar dengan lulusan D 3 (Terapis) untuk dipadukan dengan tenaga psikolog untuk mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus pada usia dini. Yang tentunya mereka harus mempunyai skill tertentu dan juga ke"mampuan" kepribadian yang specifik yang saya pilih untuk bisa saya tempatkan sebagai tenaga pendidik usia dini tadi. Karena saya lebih mengutamakan kualitas dan mutu maka saya memberanikan diri tanpa melihat jurusan yang mereka jalani melainkan, lebih ke Kreatifan, interaksi sosial dan personalnya, dan pola pikir mereka yang saya jadikan acuan untuk memilih tenaga pengajar di tempat kami. Karena menurut penilaian saya, justru malah tenaga guru yang di luluskan dari Jurusan Ilmu pendidikan guru. Mereka rata-rata sulit berinteraksi, intuitifnya kurang, sangat tidak trampil dan tidak kreatif. Pola pikirnya cenderung konservatif, kurang mempunyai inisiatif untuk berkembang. Dan rata-rata mereka kurang paham akan masalah perkembangan anak padahal ini sangat dibutuhkan bila ingin bekerja di dunia pendidikan anak. Umumnya Sarjana pendidikan lulusan negri kita ini sangat teoritis.....tidak peduli lingkungan, wawasan terbatas,kurang mengetahui literatur anak....terpaku pada rambu-rambu aturan main perusahaan....tidak kritis, dan kurang dapat mengembangkan ilmunya menjadi ilmu yang modern dan positif. Pendek kata mereka sangat sangat takut berbuat "Kesalahan" sehingga selalu ragu-ragu dalam meng"eksplor" dunianya, lingkungan hidupnya dll. Mereka lebih cenderung bergerak seperti siput (Slowly but Sure) atau dengan arti kata lain takut akan tantangan dan selalu mencari rasa aman, sehingga ragu-ragu dalam mengambil sikap untuk memperbaiki atau mengembangkan sesuatu atau memang karakter yang sudah ada ini yang di inginkan oleh Pemerintahan kita?????.Padahal ini semua membuat kepribadian seorang Guru, Real Guru sama sekali tidak terbentuk, seperti ramah, tapi tegas, konsisten, mau berkembangan, mawas diri, bisa mengeritik dan dikritik, kreatif, bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan, bisa mengambil keputusan disaat yang tepat, terutama bisa mengatasi permalasahan dengan cara yang terdidik, mampu bekerja secara teamwork dengan bidang lain, tidak mengkotak-kotakan teman kerja. Dan tanpa kepribadian seperti itu akan sangat fatal bila di terima untuk mengajar dan membentuk kepribadian pada anak.Bukankah tugas guru bukan hanya sekedar mengajarkan ilmu, tetapi juga harus ikut bertanggungjawab dalam pembentukan kekpribadian anak yang sesungguhnya. Bukankah ada peribahasa yang mengatakan : Guru kencing berdiri, murid kencing berlari"? Berarti kan disini Guru selalu dinilai sebagai Panutan murid2nya....jadi bagaimana guru bisa menjadi panutan bila kepribadian mereka sendiri sulit untuk berkembang????? Ya tidak heran lagi bila masyarakat di Indonesia menghadapi globalisasi, saat ini lebih memilih Home Schooling sebagai alternatif baru dalam bidang pendidikan.Padahal untuk memilih jalur ini banyak hal yang patut didiskusikan dan juga diperhatikan agar kelak perkembangan pribadi bangsa ini tidak Stagnan atau berjalan ditempat saja.Ini akan menjadi Fatal bagi kita semua. Salam Ratih --- Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.kompas.co.id/ver1/Dikbud/0705/14/194658.htm > ======================= > > BANDUNG, KOMPAS--Kualitas dan mutu guru sekolah > dasar di Jawa Barat, > khususnya Kota Bandung, terlihat memprihatinkan. > Rendahnya penguasaan > kompetensi pedagogis dan profesionalisme guru ini > memicu bahaya laten > terjadinya pendangkalan dan stagnasi keilmuan dalam > dunia pendidikan. > > Persoalan rendahnya mutu dan kompetensi guru ini > salah satunya > tercermin dari hasil pemantauan Lembaga Pengembangan > Pendidikan (LPP) > Salman Institut Teknologi Bandung. Dari sekitar 900 > guru SD yang ada > di Bandung, berdasarkan hasil pemantauan itu, > rata-rata nilai indeks > mutu hanya mencapai angka 4,5. Padahal, idealnya > adalah 7,0. > > Direktur Eksekutif LPP Salman ITB Syamril, Senin > (14/5) mengungkapkan, > penilaian itu terutama mencakup penguasaan bidang > studi guru. Ini > merupakan hal yang paling pokok sebagai cerminan > aspek profesionalisme > guru. Meski belum menyentuh ke arah penggunaan > metodanya, namun > diyakini kondisinya tidak jauh berbeda. > > Persoalan penguasaan dan pemuktahiran materi > tampaknya memang masih > menjadi momok bagi guru. Menurut Syamril, sebagian > besar guru SD saat > ini masih terjebak pada kultur lama, yaitu > keengganan untuk memperkaya > keilmuannya. Termasuk, berlebihannya rasa > kepercayaan diri yang memicu > pada sikap menyepelekan keilmuan. (JON) > > > > > Copyright 2006 Kompas Group > > ____________________________________________________________________________________Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing. http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/mail/index.php
