Oleh Lusiana Indriasari dan Frans Sartono http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/20/keluarga/3538401.htm =======================
Dalam kehidupan rumah tangga, pasangan suami-istri kadang memerlukan penyegaran hubungan. Ada beberapa cara yang ditempuh pasangan, antara lain meluangkan waktu khusus untuk berduaan pergi ke luar rumah. Mereka serasa sedang berpacaran kembali. "Kalau di luar rumah, tatapan mata Mas Addie bisa lebih mesra." Ah...! Itu kata Memes (42) tentang suaminya, Addie MS (47) yang dikenal sebagai konduktor Twilite Orchestra itu. Memes tengah bercerita tentang saat-saat ketika ia bersama suaminya, Addie M Sumaatmadja, meluangkan waktu khusus untuk pergi berdua di tengah rutinitas kehidupan rumah tangga sehari-hari. Memes memberi ilustrasi bagaimana atmosfer yang berbeda itu bisa mampu menciptakan suasana hati yang berbeda puladan itu terpancar dari tatapan mata. Begitulah pasangan suami-istri menciptakan kesegaran dalam kehidupan perkawinan mereka. Psikolog dan pemerhati masalah keluarga banyak menganjurkan agar pasangan mempersegar hubungan personal dengan cara meluangkan waktu pergi berduaan. Jim Burns, penulis buku Creating an Intimate Marriage, menganjurkan agar pasangan meluangkan waktu seminggu sekali untuk berkencan. "Gairah, passion harus terus dijaga. Sesekali ciptakan suasana seperti ketika pacaran dulu," kata psikolog Clara Iswidarum Kriswanto dari Jagadnita Consulting, lembaga pemberi jasa konsultasi permasalahan keluarga. Addie dan Memes telah menikah 20 tahun. Pasangan pemusik dan penyanyi itu memang mempunyai kesepakatan untuk keluar bersama jika ada waktu luang. Menjalin hubungan seperti berpacaran itu tetap penting dilakukan meski mereka sudah suami-istri. Kebetulan kedua anak mereka kini menginjak remaja, yaitu Kevin Aprilio (17) dan Tristan Juliano (10). "Kalau di rumah kami hanya ngurus rumah dan anak. Kalau pergi berdua rasanya kayak pacaran lagi," kata Memes yang sebagai penyanyi populer lewat lagu Terlanjur Sayang dan Janji Hati itu. Kesempatan seperti itu jarang terjadi pada masa-masa awal perkawinan mereka. Keduanya adalah seniman yang padat kerja. Addie adalah penata musik laris dan belakangan ia sibuk dengan orkestra pop Twilite Orchestra. Memes saat itu masih menjadi penyanyi yang banyak menggarap lagu iklan. Ketika anak pertama lahir, Memes sibuk dengan urusan anak. Di luar rumah, Addie dan Memes suka bernostalgia ke tempat ketika mereka berpacaran dulu. Saat itu segala rutinitas urusan keluarga terlupakan sejenak. "Kalau pergi berdua kita bisa ketawa-ketawa. Kalau di rumah, kita bisa sewot-sewotan tentang urusan anak atau urusan rumah. Kita bisa melupakan semuanya," kata Memes yang ditemui di rumahnya di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan. Mesra Kiat berpacaran ala suami-istri itu ditempuh juga oleh pasangan Christian (36) dan Mevi (34) yang telah tujuh tahun berumah tangga dan dikaruniai dua anak usia enam dan tiga tahun. Mevi yang karyawan perusahaan swasta itu mengakui rutinitas mengurus anak di rumah bisa membuat jenuh. Implikasi kejenuhan bisa ke banyak hal, termasuk pada hubungan dengan suami. Meskipun mereka sekeluarga sering keluar bersama, tetapi Mevi dan Chris merasakan butuh waktu untuk mereka sendiri. Cara tersebut mereka anggap efektif untuk menjaga hubungan perkawinan agar tidak membosankan. Keluar rumah berdua kata Mevi membuat mereka tetap mesra. "Kalau kami pergi berdua saja, bisa lebih fokus ke hubungan berdua tanpa harus memikirkan anak-anak," kata Mevi yang menitipkan anak-anaknya di rumah orangtua jika sedang berduaan. Tempat yang paling sering mereka gunakan untuk nongkrong adalah kafe karena Chris suka menikmati musik. Mereka merancang waktu untuk berduaan itu secara spontan asal jadwal mereka tidak bentrok. Spontanitas itu justru menambah kemesraan. "Tidak pernah direncanakan. Kalau direncanakan malah gagal," kata Chris. Komunikasi di mobil Pasangan suami-istri Diding Rahardi (48) dan Widyaningsih yang tinggal di Ciputat, Jakarta Selatan, menemukan pulang kerja bersama-sama efektif untuk penyegaran hubungan mereka berdua. Apa boleh buat, waktu mereka banyak tersita di tempat kerja. Pasangan yang menikah 19 tahun lalu itu bekerja di tempat terpisah. Diding bekerja di sebuah bank pemerintah, sedangkan Ningsih bekerja di perusahaan komunikasi. Dulu, mereka praktis baru bertemu di rumah selepas pukul 20.00. Waktu di rumah pun praktis tersita untuk urusan anak-anak. "Komunikasi di antara kami sempat enggak nyambung. Begitu beres dengan urusan anak-anak, kami sudah terlalu lelah," ujar Ningsih. "Setelah lama berada dalam situasi seperti itu kami berkomitmen selalu pulang bareng. Jadi, di sela-sela kemacetan Jakarta komunikasi kami tetap berjalan di sepanjang perjalanan pulang," kata Ningsih. Begitu sampai rumah, waktu mereka praktis tercurah untuk dua anak mereka yang telah remaja. Tetapi, berkat komunikasi dalam mobil itu keterikatan emosional suami-istri lebih tinggi daripada sebelumnya. Pasangan itu kini telah mempunyai dua anak usia remaja. Komunikasi di mobil itu masih berjalan. Dulu, ketika anak-anak mereka masih kecil, pasangan itu berusaha pulang secepat mungkin. Kini, jika sedang ingin berduaan lebih lama mereka mampir ke tempat-tempat saat mereka masih berpacaran. "Yah seperti reuni gitu. Di sini biasanya suka muncul hal-hal yang dulu waktu pacaran enggak keluar dan sekarang kami suka tergeli-geli kalau mengingatnya," ujar Ningsih yang sambil menyebut tempat makan seperti Bakmi Boi di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, atau Rumah Makan Tan Goei di Menteng, Jakarta. Kejutan kecil Hal lain yang dirasa Ningsih mendekatkan hubungan suami-istri adalah perhatian. Diding, misalnya, diam-diam suka membelikan makanan kegemaran istrinya dan menyantapnya bersama semua anggota keluarga di rumah. "Diding paling sering beliin saya makanan. Dia tahu saya suka banget makan. Hobi makan itu sering enggak terwujud karena saya sering pulang malam dari kantor," ujar Ningsih tentang perhatian "kecil" yang dirasakannya sebagai bentuk cinta suaminya. Mevi juga sering membuat kejutan kecil untuk suaminya. Suatu ketika, Chris yang sedang tugas belajar di Bandung akan pulang ke Jakarta. Dia meminta Mevi menjemputnya di Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Untuk mengejutkan suaminya, Mevi meminta suaminya turun di Stasiun Gambir. Ternyata Mevi sudah memesan sebuah kamar di hotel yang tidak jauh dari stasiun gambir. Keesokan harinya mereka berdua menjemput anak-anak mereka untuk diajak berlibur. Kejutan, hadiah, pergi berduaan dan menapak tilas tempat masa pacaran oleh psikolog Clara Iswidarum disebut sebagai bagian dari bahasa cinta nonverbal. Para pasangan itu telah tumbuh. Mereka mencari kembali akar-akar kasih sayang yang dulu mempertemukan mereka untuk menyegarkan dan menguatkan hubungan mereka di masa mendatang. Evaluasi "Kau Bukan yang Dulu Lagi" Sebelum melakukan penyegaran hubungan perkawinan, pasangan perlu mengenali faktor-faktor yang berpotensi menimbulkan ketidaksegaran hubungan. Demikian saran psikolog Clara Iswidarum Kriswanto dari lembaga konsultan permasalahan keluarga Jagadnita Consulting. Salah satu penyebab yang sering dikeluhkan pasangan adalah rutinitas dan keajekan sehingga suasana hubungan pasangan menjadi datar. "Banyak pasangan merasa tiba-tiba ada yang berubah dari pasangan mereka. 'Dia tak seperti yang dulu lagi'," kata Clara menirukan keluhan pasangan. "Mereka lupa perkawinan itu suatu proses. Masing-masing pasangan tumbuh dan berkembang seiring perjalanan waktu," papar Clara. Oleh karena itu, harus ada upaya dari kedua pihak untuk saling memerhatikan dan menghargai pertumbuhan tersebut. Mereka harus jujur, terbuka, dan saling mendukung. Saling, menurut Clara, menjadi kata kunci. Pada setiap tahapan proses pertumbuhan itu disarankan pasangan untuk meninjau ulang visi hubungan mereka. Mereka berdua kemudian bersama-sama mencapai visi tersebut. Peninjauan bisa dilakukan pada setiap ulang tahun perkawinan. Atau juga bisa diwujudkan dengan resolusi akhir tahun. "Sesekali berhentilah sejenak untuk meremajakan hubungan. Coba evaluasi apakah masih sevisi atau sejalan. Kalau tidak, carilah solusi," saran Clara. Kalau tak sevisi, menurut Clara, efeknya bisa ke mana- mana. Bisa ke hubungan seksual atau pengelolaan finansial. (XAR) Bahasa Cinta Saran Penyegaran Psikolog Clara Iswidarum memberi beberapa saran untuk menyegarkan hubungan pasangan suami istri. Bentuknya bermacam-macam, bergantung pada bahasa cinta setiap individu. Intinya adalah ungkapan rasa cinta. Memberi perhatian: menemani pasangan belanja, ke salon, atau nonton televisi di rumah juga bagian dari bahasa cinta Hadiah: kartu ucapan atau setangkai bunga yang diselipkan di buku atau tas pasangan adalah bentuk perhatian. "Hadiah tak harus mobil." Gairah atau passion harus terus dijaga. Sesekali ciptakan suasana seperti ketika pacaran dulu. "Jagalah hubungan agar tetap seperti pasangan, jangan seperti kakak adik." Tumbuhkan rasa kangen, meski bentuknya tak seagresif masa remaja. Sentuhan fisik bisa berupa belaian, ciuman. "Kehangatan hubungan fisik tak perlu disembunyikan di depan anak. Justru anak-anak akan menyerap kehangatan hubungan orangtua." (XAR)
