Istilah "menutupi kelemahan diri" bisa punya dua arti yang sama sekali bertolak belakang. Pertama, itu bisa berarti "menyembunyikan kelemahan diri" Kedua, bisa juga berarti "mengatasi kelemahan diri". Dalam arti yang pertama kelemahan sebenarnya masih tetap utuh ada karena tidak pernah diobati, hanya disembunyikan saja supaya tersamar, Tentu pengendalian titik lemah dengan cara kepura-puraan seperti itu biasanya hanyalah akan menguntungkan diri sesaat saja. Tetapi dalam arti yang kedua, kelemahan telah dikendalikan sedemikian rupa sehingga sampai kepada tahap dimana kelemahan diri teratasi dan tidak menjadi beban diri lagi. Hal ini tentu akan lebih menguntungkan seseorang secara.jangka panjang.
Baik kekuatan maupun kelemahan dua-duanya hanyalah kata perbandingan relatif yang baru punya makna yang jelas dan lengkap kalau sudah dikaitkan dengan rangkaian tindakan/ aktivitas seseorang dalam kehidupan. Dikatakan relatif, karena Kekuatan yang ada pada diri seseorang dalam keadaan tertentu bisa saja akan berbalik menjadi titik lemah bagi orang tersebut. Sebaliknya kelemahan yang ada pada diri seseorang bisa saja sebenarnya justeru menjadi sumber kekuatan orang tersebut, Kuncinya sangat tergantung kepada bagaimana seseorang bisa mengolah, mengontrol dan mengoptimasikan secara benar segala kekuatan dan kelemahan diri dalam tindakan-tindakannya untuk sebesar-besarnya mencapai tujuan.. Cerita terkenal Kelinci dengan kura-kura adu balap lari yang dimenangkan oleh kura-kura karena keteledoran kelinci merupakan tamsil klasik sederhana yang mendidik anak-anak sejak kecil supaya kalau melihat kelemahan diri jangan langsung merasa pasrah rendah diri lalu menganggap kelemahan/cacat itu sebagai beban hidup (problem) tapi justeru seharusnya itu mesti dianggapnya sebagai tantangan hidup (challenge). untuk maju dan perlu diatasi secara sabar tiada putus asa. Demikian pula sebaliknya kalau kita merasa punya suatu kekuatan jangan lantas mengaanggap itu telah menjadi jaminan penuh untuk sebuah keberhasilan. Sebagai catatan akhir, tentu saja baik kisah Kelinci - Kurakura ataupun kisah anak cacat tangan tapi bisa juara judo adalah termasuk contoh ekstim, karena yang punya kelemahan dikisahkan menjadi individu yang superior dalam kecacatannya. Dalam realitas hidup sehari-hari, yang dituntut sebenarnya bukan superioritas tapi kesadaran dan usaha sungguh-sungguh akan perlunya mengatasi kelemahan dan kekuatan diri secara baik karena kedua-duanya akan bisa menjadi faktor penunjang keberhasilan jika mampu dikendalikan. Kalau bisa luar biasa walaupun cacat tentu itu akan menjadi teladan yang bagus buat memotivasi yang lainnya. Contoh gamblang adalah keberhasilan Stephen Hawking sang fisikawan termashur yang walau fisiknya cacat berat tapi karyanya ilmiahnya bisa tinggi menjulang. SH On 5/22/07, Kusmayanto Kadiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kawan-kawan, > > Walaupun barangkali cerita ini atau cerita serupa sudah banyak yang > tahu, saya tetap tergerak untuk meneruskan cerita dari sebuah milis. > Bagus sekali pelajaran yang dapat saya petik yaitu jangan terperangkap > pada apa yang dipandang sebagai kelemahan. > > Jabat erat, > KK > > ---------------------------------------------------------- > Kekuatan atau Kelemahan? > Penulis tidak diketahui, Bits & Pieces, August 15, 1996, > Economic Press Inc > > Kadang kelemahan kita bisa menjadi kekuatan terbesar kita. Ambil > contoh kisah seorang bocah 10 tahun yang memutuskan untuk > mempelajari judo walaupun ia telah kehilangan lengan kirinya > dalam sebuah kecelakaan mobil. > > Sang bocah belajar dari seorang guru judo Jepang. Bocah ini > benar-benar belajar dengan baik, sehingga ia sendiri tidak > paham, kenapa setelah tiga bulan latihan, sang guru hanya > mengajarkannya satu gerakan. > > "Sensei," akhirnya sang bocah bertanya, "Bukankah saya > seharusnya sudah belajar gerakan lainnya?" > > "Ini adalah satu-satunya gerakan yang kamu tahu, tapi ini juga > satu-satunya gerakan yang perlu kamu ketahui" jawab sang Sensei. > > Walau tidak begitu memahami, tapi tetap percaya pada gurunya, > bocah ini tetap berlatih dan berlatih. > > Beberapa bulan kemudian, sang sensei mengantarkan sang bocah ke > turnamen pertamanya. Terkejut pada kemampuannya sendiri, sang > bocah dengan mudah memenangkan dua pertarungan pertamanya. > Pertarungan ketiga lebih sulit, tapi setelah beberapa saat, > lawannya kehilangan kesabaran dan menyerang, sang bocah dengan > piawai menggunakan satu gerakannya untuk memenangkan > pertarungan. Masih heran dengan kemenangannya, sang bocah masuk > final. > > Kali ini, lawannya lebih besar, lebih kuat, dan lebih > berpengalaman. Untuk beberapa saat sang bocah terlihat tidak > sepadan dibanding lawannya. Karena kuatir sang bocah bisa > cedera, wasit menyerukan time-out. Ia bermaksud menghentikan > pertarungan saat sang sensei menginterupsinya. > > "Tidak," interupsi sang sensei,"Biarkan ia melanjutkan." > > Segera setelah pertarungan dilanjutkan, lawannya membuat > kesalahan kritikal: ia lalai dalam pertahanannya. Secara cepat > sang bocah menggunakan satu gerakan untuk menguncinya. Sang > bocah memenangkan pertarungan dan kejuaraan. Ialah sang > juaranya. > > Dalam perjalanan kembali ke rumah, sang bocah dan senseinya > mempelajari kembali setiap gerakan di pertarungan hari itu. Lalu > sang bocah berani menanyakan yang terus dipikirkannya. > > "Sensei, bagaimana saya bisa memenangkan kejuaraan hanya dengan > satu gerakan?" > > "Kamu menang karena dua alasan!" jawab sang sensei. "Pertama, > kamu hampir memahiri salah satu bantingan tersulit dari semua > gerakan di judo. Kedua, satu-satunya pertahanan yang telah > diketahui terhadap gerakan itu adalah jika lawan kamu menangkap > lengan kiri kamu" > > Kelemahan sang bocah telah menjadi kekuatan terbesarnya. > > > [Non-text portions of this message have been removed]
