Bung Fadjroel, Hemat saya, emoh atau pro negara sudah out of date. Yang terjadi sekarang adalah, menang kalah ya ikut yang menang. Menang-kalah dalam politik atau apapun, ndak jadi soal, yang penting ikut yang berkuasa dan kebagian kekuasaan, gitu khan?!
Bung Ulil, Saya prihatin dengan Ormas2 Islam. Mereka mau dibilang garda civil society tapi ternyata hanya bayang2 alias psuedo civil society. Semacam civil society berkaki tiga atau malah berkaki gurita. Suatu hari, ormas itu bersama rakyat. Pada waktu muktamar dan pemilu, kakinya nyantol di partai. Lain waktu, menyusu pada kekuasaan. Lain waktu lagi, menaruh kakinya ke pengusaha minta sumbangan buat dana kegiatan. Civil society yang seharusnya memiliki bargaining power terhadap pasar dan state jadi gak karuan. Saya kira, ormas2 seharusnya juga introspeksi diri. Atau jika perannya makin ga jelas ya dibubarkan saja Regards, IC --- mfadjroel rachman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ulil yang baik, Ini sahabatmu FADJROEL RACHMAN. > > 1. Negara kita sudah jadi negara predator bung, > sekarang saya emoh negara, > posisi kita sekarang tampak terbalik bung. Dulu bung > yang emoh negara he2, > sekarang bung pro-negara, saya emoh negara predator > ini. Bagaimana mungkin > saya bisa pro-negara bung karena negara sekarang > dibajak para predator. > Contoh utama saya adalah Aburizal Bakrie, pendana > utama Freedom > Institute dimana bung bekerja. Ical bung tahu adalah > konglomerat hitam yang > menggangsir Rp. 4,3 Triliun uang publik melalui > program BLBI melalui 26 > perusahaannya yang ambruk, lalu ditangani BPPN. Ini > tindakan pidana > sekaligus perdata bung! Berapa yang Ical bayar, > menurut BPK, return dari > seluruh uang publik sekitar Rp.600 triliun yang > dicuri para konglomerat > hitam seperti Ical hanya sekitar 30% (hanya > tigapuluh persen bung). Jadi > Ical besar kemungkinan hanya membayar Rp.1,5 Triliun > lebih, sisanya ya tetap > digangsir dalam kantongnya bung. Aneh bin ajaib, > Ical menjadi Menko Ekuin, > prestasinya 2 kali menaikkan BBM (Maret dan Oktober) > dengan satu halaman > iklan di kompas yang didukung Freedom Insitute > (sekali lagi tempat bung > berkiprah) dikomandani Rizal Mallarangeng. Idenya > kenaikan BBM bakal > menurunkan kemiskinan (lengkap dengan analisa dan > tabel dari LPEM UI). > Bukankah bung ikut menandatanganinya? Hasilnya apa > bung? Kemiskinan meroket > dengan data pemerintah dari 35 jutaan ke 39 jutaan, > kalau data bank dunia 2 > dolar as perhari per individu lebih gawat lagi bung > hampir 120 jutaan. Empat > juta hasil dua kali kenaikan BBM yang bung, freedom > institute dan aburizal > bakri dukung. Tolong tanya bung apakah termasuk > keluarga bung dikampung, dan > para nahdliyin cikal bakal bung. Jangan hina dan > lupakan si lemah dan > underdog cikal bakal bung. Apakah perlu > pertanggungjawaban ilmiah, hukum dan > moral. Ah, hati kecil bung yang perlu menjawabnya? > 2. Lalu negara yang predator itu kembali edan > sekarang, karena lumpur > Lapindo perusahaan Ical, sekarang 13.000 kepala > keluarga menderita, dan > ribuan orang menganggur bung. Ical, pendana Freedom > Insitute (sekali lagi > tempat bung bekerja) kembali beraksi atas nama > negara bung. Keluarlah > perpres no.4/2007 tanpa konsultasi dengan 13.000 KK, > ganti rugi 20% di awal, > 80% sisanya selama 2 tahun, asal memiliki sertifikat > (padahal ketika proyek > lapindo dimulai, lapindo membeli tanah tersebut > sebagian besar tanpa > sertifikat he2). Negara bung tunduk pada kejahatan > korporasi Ical, lalu > melalui APBN keluarlah dana publik untuk perbaikan > infrastruktur sidoarjo > yang dirusak korporasi Ical senilai Rp.3,7 triliun. > Artinya apa bung, anak > saya mahatma dan krishna segera ikut menanggung > kejahatan Ical (pendana > Freedom Institute dan tempat bung bekerja) senilai > Rp.17.300 apalagi bung > bagi Rp3,7 triliun dengan 220 juta populasi. Berarti > bung di harvard dengan > isteri dan anak, dan saudara2 bung di kampung juga > menaggung kejahatan > korporasi Ical sebesar yang ditanggung anak saya, > mahatma dan krishna. > Begitulah bung kejahatan korporasi Ical sekarang > ditanggung setiap > warganegara Indonesia. > 3. Dengan 2 hal di atas apakah saya sinis kepada > negara? Bila tidak sinis, > saya termasuk mereka2 yang merusak dimuka bumi ini > bung. Sekarang saya emoh > negara predator ini, apakah bung pro negara > predator? Hanya tuhan yang maha > tahu dan maha benar. > 4. Sekian, selamat menuntut ilmu, salam untuk anak > dan isteri > > Tabik, > Sahabatmu > M. Fadjroel Rachman
