http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/24/humaniora/3553852.htm
=========================

Jakarta, Kompas - Lingkungan sosial-ekonomi yang serba kapitalistik
mengakibatkan pertambahan jumlah kaum miskin. Karena itu, di tengah
keterbatasan pemerintah mengatasi kemiskinan, keswadayaan kalangan
nonpemerintah bermakna sangat penting.

"Kegiatan berswadaya secara individu ataupun kelompok ternyata masih
bisa ditemukan," tutur Mohammad Sobary, budayawan, selaku anggota
Dewan Juri anugerah "Kusala Swadaya", pada jumpa pers di Jakarta,
Selasa (22/5). Anugerah itu akan diberikan pada Sabtu mendatang.

Dikemukakan Bambang Ismawan, pendiri sekaligus Ketua Bina Swadaya—LSM
penyelenggara Anugerah "Kusala Swadaya"—pemenang penghargaan ini
adalah Dalinem, pendamping Keluarga Berencana di Prambanan Sleman
(juara I); Sri Suryatiningsih, pendamping kelompok dari Ampel Boyolali
(juara II); dan Suminah, pendamping kelompok dari Klaten (juara III).

Sementara kelompok yang mendapat anugerah keswadayaan adalah Kelompok
Tani "Maju" Nanggulan, Kulonprogo (pemenang I), Kelompok Swadaya
Masyarakat "Sidomulyo" Babat, Lamongan (juara II), dan Unit Pengelola
Keuangan Desa "Usaha Bersama" Pintu Layang, Bengkulu (pemenang III).
Anugerah keswadayaan kategori kepedulian sosial diberikan kepada Gusti
Kanjeng Ratu Pembayun.

Anugerah keswadayaan juga diberikan kepada Kompas, Media Indonesia,
Republika, Sinar Harapan, Suara Karya, dan Suara Pembaruan.
Penghargaan untuk kategori penulis diberikan kepada Bonaventura,
wartawan Media Indonesia.

Selaku juri ialah Paulus Wirutomo (dosen), Arswendo Atmowiloto
(penulis), Tini Hadad dan Titik Hartini (praktisi Ornop), serta M
Sobary. (RYO/EVY) 

Kirim email ke