Ya, Bung Simson. Anda tampaknya memang tidak senang dengan AR. Itu
sah-sah juga. Seperti saya juga bukan pemuja AR, tapi sekadar memuji
keberaniannya membuka aib sendiri akibat sebuah kekhilafan yang ia
akui menerima dana DKP.

Kenapa tidak dari dulu ia membuat pengakuan itu? Ya, mungkin saja
waktu itu pihak DKP atau Prof. Rokhmin tidak menyebutkan bahwa
itu "dana haram dan panas". Jangankan Amien, ulama sekelas KH Hasyim
Muzadi saja terjebak menerima dana semacam itu. Bukankah sudah
tradisi (buruk) hampir setiap pejabat semacam menteri, gubernur,
walikota, bupati, atau para kepala dinas melakukan sumbangan politik
dengan menggunakan uang negara?

Maka tak perlulah kita sinis bahkan menghujat niat baik AR untuk
membuka aliran dana DKP agar terang-benderang siapa saja yang
menerima, siapa saja yang dapat diseret sebagai tersangka, lalu
terdakwa, dan mungkin saja dijebloskan hingga ke penjara. Dengan kata
lain, justeru AR harus mendapat dukungan moral, bukan hukuman atau
sanksi moral seperti yang Anda serukan.


> simson gintings <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Manuver politik yg dilakukan AR adalah jurus kancil.
> Pengakuan "dosa" baru dilakukan AR setelah namanya disebut-sebut
> oleh Rokhmin Dahuri, si culas itu, sebagai salah satu pihak yg ikut
> menerima dana non-bujeter DPK.
>
> Dgn demikian agaknya pengakuan AR itu didasarkan kepada kalkulasi
> politik. Kalau pengakuan itu lahir karena kesadaran telah melanggar
> hukum dan kemudian merasa menyesal secara tulus, kenapa nggak jauh-
> hauh hari dia membuat pengakuan? Dia mengaku setelah ketahuan.
>
> Di tv Metro AR mengatakan, pd saat menerima amplop itu dia tdk
ingat
> akan uu dan peraturan ttg bantuan dana pemilu. Karena sibuk mikirin
> kampanye, katanya. Tapi masak beberapa tahun berlalu tetap saja tdk
> sadar kalau tindakannya menerima uang dari Menteri Kelautan dan
> Perikanan itu melanggar hukum?
>
> Utk meredusir "dosa"nya, AR kemudian tunjuk "dosa" pihak lain yg
> lebih besar. Itulah drama yg terjadi minggu lalu. Celakanya, SBY
> kebakaran jenggot. Akhirnya, dilakukanlah upaya "rujuk politik"
(ada
> yg menyebutnya kongkalikong politik). Menurut saya, itu tidak
> penting. Hanya menguatkan motivasi politik dari AR.
>
> Terlepas dari kongkalikong politik itu, saya kira, ada satu hukum
yg
> paling tinggi yg tidak dapat dihindari siapapun, hukum moral.
Siapun
> yg telah menerima uang non bujeter dari DPK itu, terbukti tdk
> terbukti, mengaku tdk mengaku, secara moral, tdk patut dipercayai
> lagi.
>
> Mengaku dosa tdk dgn sendirinya membuat seseorang berbuah status
> jadi orang saleh. Mengaku dosa adalah satu hal dan pengampunan
> adalah soal lain. Jangan pula orang yg mengaku dosa lantas
diberikan
> surat penghargaan, tanda jasa, atau sertifikat sbg orang jujur.
>
> Bagaimana kita memandang drama ini? Komedi. Saya setuju. Humor itu
> penting. Kalau pun tidak lucu, yah dilucu-lucukan saja.
>
> Martin Luter pernah bilang, kalau di sorga tidak ada gelak tawa,
> maka saya tidak ingin pergi ke sana.
>
> Di negara kita ini, banyak bertebaran komedian, dan suara gelak
> tawa, yg beraneka ragam. Ada seperti suara ember digebuk.
>
> sg
>


Kirim email ke