Sepertinya kita ini sudah kebablasan dalam segala hal. Demokrasi yang tidak 
terkontrol. Lalu lintas aburadul, melanggar peraturan sesuka hati dan masih 
banyak lagi pelanggaran2 yang seharusnya disadari oleh masyarakat dengan 
kedisiplinan tinggi. Masalahnya adalah sanksi tegas harus dilaksanakan agar 
semua belajar disiplin. Kita ini kan suka sak enak nya  karena semua kita 
anggap mudah dan gampang diatasi dan inilah penyebab ketidak disiplinan kita. 
Kalau semua disiplin, semua akan menikmati kedisiplinan ini. Bagaimana ya 
caranya men trap kan disiplin.
   
  Salam
  BS

walsuparmo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Salam,
POLISI PAMONGPRAJA adalah ALAT saja dari penguasa. Karena itu 
posisinya sangat sulit.
Mereka harus menurut perintah tetapi behadapan dengan masyarakat.
Maksud dari pembentukan PP adalah baik dan untuk MENERTIBKAN 
masyarakat apalagi masyarakat Indonesia yang sulit ditertibkan dan 
sepantasnya dijajah lagi saja(jengkel).Waktu zaman kolonial, 
masyarakat tidak ada dan tidak BERANI meyerobot jalan untuk 
berdagang bahkan bermukim, mendirikan rumah di tepi sungai, membuang 
sampah di mana2 dsb, karena alat negara TEGAS dan tidak menerima 
SOGOKAN.
Sekarang meskipun ada PP saja masyarakat tetap bandel karena 
beberapa alasan yang terutama adalah alasan ekonomi.Jadi masalahnya 
sebenarnya lebih rumit dan lebih dalam, karena juga menyangkut 
kemampuan PAMONG (management pemerintahan) sendiri yang hanya KLAS 2
(DIBANDING DENGAN LN). Bupati,Walikota,Gubernur hanya kwalitas 
2.Ditambah lagi dengan DPRD yang lebih rendah lagi kwalitasnya.
Bahwa PP dinilai overacting dsb, dapat dimengerti karena jika orang2 
dengan kwalitas intelek yang sederhana, di beri uniform dan dilatih 
semi milter, pasti mereka akan bertindak berkelebihan.Contoh 
sejarah: KNIL para seradudu Hindia Belanda yang BUMIPUTERA, lebih 
kejam dari KL(serdadu totok), KEIBODAN (HANSIP) zaman Jepang lebih 
kejam dari polisi sendiri, karena suka menggebuki orang dengan JU
(senapan palsu) dari kayu.
Wasalam,
Wal Suparmo

Kirim email ke