http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/02/Politikhukum/3570838.htm
===================

Jakarta, Kompas - Peringatan Hari Lahir Pancasila didilakukan di
berbagai daerah, Jumat (1/6).

Bagi Nahdlatul Ulama, bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
dasar negara Pancasila sudah menjadi keputusan final. "Pintu
perdebatan terhadap permasalahan itu sudah ditutup," kata Ketua PBNU
KH Said Agil Siradj dalam Maulid Akbar 2007 dan Doa untuk Bangsa di
Jakarta, Kamis (31/5).

Menurut Said, dalam Piagam Madinah yang berisi 47 pasal, tak satu pun
mencantumkan pembentukan negara Islam. Nabi Muhammad SAW sebagai
pemimpin Madinah tak berkeinginan membentuk negara Islam.

Piagam Madinah adalah cikal bakal peradaban Islam. Warga Madinah yang
multikultural serta terdiri atas kaum Muslim pendatang dan asli,
Yahudi, dan Kristen diikat dalam perjanjian untuk hidup secara bersama.

Secara terpisah, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyayangkan kian
lemahnya nasionalisme dan kebangsaan Indonesia. "Pancasila masih
diperdebatkan. Sementara elite justru sibuk dengan kepentingan
masing-masing," katanya.

Lemahnya nasionalisme dan rasa kebangsaan terjadi karena elite masih
bersikap seperti bangsa terjajah, mengakomodasi kepentingan asing
walau merugikan rakyat dan bangsanya sendiri. Juga disebabkan belum
adanya sistem politik yang berdaulat, ekonomi yang mandiri, dan budaya
yang mapan.

Hari Lahir Pancasila

Sementara itu, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, Kamis malam di
Yogyakarta, Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X
menegaskan, Pancasila mulai tererosi dari jiwa bangsa. Nilai Pancasila
kini dianggap tidak penting sebagai acuan kehidupan berbangsa dan
penggunaan dalam kehidupan sehari-hari kian lemah.

"Tahun-tahun terakhir ini jiwa Pancasila memang sedang rapuh. Pada
saat kita belajar berdemokrasi, sekarang ruang publik terpecah belah
oleh berbagai kepentingan ideologis partai, kepentingan pemilik modal
dan aksi massa, korupsi, kerusakan lingkungan, serta kekerasan menjadi
menu media massa sehari-hari," ungkap Sultan HB X di kampus
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sultan HB X menuturkan, pernyataan "bagi bangsa dan negara Indonesia,
Pancasila sudah final" terdengar menyejukkan di tengah kegersangan
wacana nasional. Ironisnya, pada era Reformasi justru kata Pancasila
jarang terdengar. Setelah sebelumnya selalu diucapkan siapa pun
seperti mantra sakti, kini orang cenderung melupakan Pancasila.

Peringatan Hari Lahir Pancasila, Jumat (1/6), juga dilakukan di Kota
Ende, Nusa Tenggara Timur. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang memimpin apel Pancasila,
diikuti sekitar 5.000 orang, dengan suara lantang, mengingatkan agar
rakyat tidak melupakan sejarah, nilai Pancasila, cita-cita Proklamasi,
dan pendiri bangsa yang melahirkan NKRI.

Di Denpasar, Bali, peringatan Hari Lahir Pancasila diisi dengan dialog
kebangsaan. Dalam dialog itu, pembicara dan warga yang datang juga
memprihatinkan terjadinya krisis pada Pancasila.

Peringatan Hari Lahir Ke-62 Pancasila di Solo, Jawa Tengah, diisi
dengan apel bendera. Di Jakarta juga diisi dengan seruan moral dari
Gerakan Spirit Pancasila dan Perhimpunan Pendidikan Demokrasi.

(mzw/jon/son/rwn/sem/ays) 

Kirim email ke