> > > Mendesaknya Revitalisasi Doktrin Sudirman > > > > Artikel Kompas hari ini dengan judul "TNI tidak pantas "meminta maaf" > menyinggung soal doktrin Sudirman. Inti terpenting doktrin tersebut > ialah realitas bahwa "tentara itu dari rakyat dan untuk rakyat." > > Soal "dari rakyat" (ex populo) sudah jelas bagi kita semua karena > tidak mungkin tentara berasal dari langit (ex excelso) atau dari > planet lain (ex extra terrestriale). > > Yang menjadi soal dan semakin memprihatinkan ialah bagian kedua dari > doktrin tersebut yaitu "untuk rakyat" (pro poplulo). > > > > Peluru yang dibeli dari uang rakyat (ex populo) pada > peristiwa-peristiwa tragis di masa lampau (dan kini) kembali > menghunjam ke tubuh rakyat kecil, entah yang namanya mahasiswa, massa > yang melakukan demo, dan terakhir para petani yang mempertahankan > tanah ulayat atau leluhurnya. > > Ironis sekali bila makna "untuk rakyat" terpaksa dijuruskan kepada > masalah "peluru nyasar" ini. > Peluru tajam itu harus tertuju kepada siapakah sebenarnya? Yang jelas > peluru itu dibeli atas nama rakyat dari uang rakyat maka tentunya demi > "kepentingan rakyat". Rakyat yang mana? Jelas ialah rakyat yang tak > berdaya; yang membutuhkan perlindungan para tentaranya. Bila benar > ada mantan presiden yang pernah menyatakan di hadapan publik bahwa ada > upaya makar sehingga para mantan perwira ditahan dan mahasiswa > ditembak, maka yang terjadi ialah justru tentara itu telah memelihara > kepentingan politik atau kepentingan "bukan rakyat". Apalagi kalau > dalam kenyataannya upaya makar tersebut bukanlah realitas sosial > melainkan sekedar tirai kabut yang sengaja diciptakan untuk tujuan > politis pihak tertentu yang berjkepentingan. Maka dalam hal ini > jelas-jelas rakyat kecil telah dikorbankan demi sesuatu kepentingan > lain, entah apapun namanya. > Kepentingan rakyat yang paling mendasar ialah memiliki rasa aman untuk > hidup, berusaha dan berumah tangga. Juga memiliki kebutuhan arasa > keamanan atas lahan tempatnya mencari nafkah. > > Tentara memang memerlukan tanah untuk latihan perang. Supaya bila ada > serangan musuh dari luar tentara terlatih dan trampil untuk menangkis > dan mematahkannya. Namun kasus kejadian negara diserang musuh dari > luar secara terbuka semakin hari semakin langka, terkecuali di wilayah > perifer paling ujung di mana negara jiran coba-coba untuk menganeksasi > pulau yang tak berpenghuni, tak dijaga dan boro-boro diolah. Mirip > dengan mangga di ujung pagar kita yang menerbitkan air liur dan nafsu > tetangga untuk mencurinya secara diam-diam. > > > Manakah lebih urgen, apakah tanah ratusan hektar untuk latihan perang > ataukah untuk dijadikan sawah atau kebun yang hasilnya untuk mengisi > perut rakyat kecil di tengah-tengah kemiskinan bangsa yang semakin > parah? Ataukah untuk tempat latihan mengantisipasi "ghost alien enemy" > yang entah kapan bakal datangnya? Orang sederhana saja yang berpikiran > jernih segera tahu mana yang jauh lebih urgen bagi rakyat. > > Berusaha untuk berlindung dibalik payung hukum? Bahwa tanah itu secara > sah telah dimiliki oleh lembaga tentara? Bagaimana ada sertifikat bila > tidak berdasarkan girik? Hal ini masih harus dibuktikan secara final > di pengadilan. Dan selama masih dalam sengketa maka status quo tanah > itu seyogyanya tetap dipertahankan dan rakyat dibenarkan untuk > mengolahnya demi kelangsungan kehidupannya; sementara kehidupan > tentara itu sendiri tetap terjamin oleh negara dari uang rakyat. Dalam > pengadilan selalu ada pihak "yang dimenangkan" dan pihak "yang > dikalahkan". Bila terjadi sengketa antara lembaga dengan rakyat, maka > pihak manakah (biasanya) yang akan dimenangkan oleh pengadilan? > > Bila pihak lembaga yang dimenangkan oleh pengadilan - dan karenanya > sah menurut hukum, jelas terjadi bahwa pengadilan bukan memenangkan > "kepentingan rakyat" kecil. > > Ironi lebih tajam dan lebih terasa lagi bila sengketa itu terjadi > antara lembaga ketentaraan (ex populo) melawan rakyat (contra > populem) tetapi keputusan finalnya nyata-nyata tidak "untuk > kepentingan rakyat" (pro populo). > > > Memiliki tentara yang tangguh dan terampil sungguh ideal sebagai > tujuan jangka panjang, namun memiliki rakyat yang dapat memperoleh > pangan dan hidup yang tenteram merupakan tujuan yang pendek yang > sangat genting dan utama. Apalah gunanya sekiranya kita memiliki > tentara yang paling tangguh di seluruh Asia sekalipun jika rakyatnya > tidak mempunyai lahan lagi untuk menanam padi untuk mengganjal > perutnya? Bila demikian yang terjadi ialah "kesejahteraan prajurit" > (prosperitas militis) dan lembaga ketentaraan yang diutamakan tetapi > bukan kesejahteraan rakyat (prosperitas populi). > > > Sengketa tanah di berbagai tempat di Indonesia menjadi semakin kerap > terekspose di media massa elektronik. Termasuk kasus sengketa tanah di > Meruya Selatan. Selalu terjadi bahwa suatu lembaga yang berlindung di > balik payung hukum diperhadapkan "kepala adu kepala" dengan rakyat > kecil. Dan dalam kasus Alas Tlogo di Pasuruan ini antara lembaga > ketentaraan dengan kelompok rakyat kecil. > > Hal ini secara gamblang menunjukkan bahwa diperlukan reformasi yang > mendesak di dalam undang-undang pokok agraria dan kelembagaan BPN. Di > lain pihak di dalam tubuh tentara sendiri benar-benar dirasakan > perlunya revitalisasi jatidiri TNI dan nilai-nilai tentara rakyat yang > diprakarasai oleh almarhum Panglima Besar Jenderal Soedirman. > > Ini hanya sekedar pemikiran awam biasa yang berdasarkan common sense > saja. Sehingga tidak perlu kiranya ada pihak yang merasa tersinggung. > Semoga cetusan pikiran ini tidak terlalu menyimpang jauh dari pada > kondisi yang seharusnya tercipta dan yang dibutuhkan oleh bangsa ini. > Kita semua sungguh mendambakan lembaga ketentaraan dan kepolisian > (termasuk tentunya semua lembaga pemerintahan) yang benar-benar mampu > dan nyata-nyata mengayomi rakyat kecil (pro populo) sehingga hidup > dapat terus terasa tenteram, damai dan kondusif untuk mencari nafkah > masing-masing betapapun sederhananya. > > > > Jakarta, 4 Juni 2007. > > Mang Iyus >
[Non-text portions of this message have been removed]
