Oleh Ivan A Hadar
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/04/opini/3569574.htm
======================

Akhir Juni ini, berakhir sudah era pendek Paul Wolfowitz sebagai
Presiden Bank Dunia. Ia dipaksa mundur dari jabatannya karena
melakukan favoritisme ketika menaikkan secara tajam gaji kekasihnya.

Mayoritas negara Eropa dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di seluruh
dunia menyambut gembira mundurnya mantan Wakil Menteri Pertahanan AS
sekaligus "otak" di balik penyerangan Irak itu. Tetapi, menurut banyak
pengamat, yang dibutuhkan saat ini lebih dari sekadar "negosiasi kamar
belakang" antara Eropa dan AS tentang siapa penerus Wolfowitz.

Rainer Falk, misalnya, menilai "Skandal Wolfowitz" hanya gejala dari
krisis mendalam Bank Dunia yang kian kehilangan pamor di kalangan
nasabah utamanya. Kenyataannya, sejak beberapa tahun terakhir,
kesempatan mendapat pendanaan dari pasar modal internasional kian
meluas. Pada saat sama, berbagai persyaratan pemberian kredit Bank
Dunia oleh banyak negara dianggap sebagai mencampuri urusan dalam
negeri mereka.

Reformasi mendalam

Bagi banyak pengamat, untuk mengembalikan kepercayaan terhadap Bank
Dunia diperlukan reformasi mendalam daripada sekadar mengganti pucuk
pimpinan. Dimulai dari kriteria kepemimpinan berdasar kualifikasi dan
pengalaman, bukan kedekatan dengan Presiden AS. Tuntutan lain yang
gencar dikampanyekan LSM internasional, pengurangan atau penghapusan
utang luar negeri negara-negara berkembang. Kini, setiap tahun
negara-negara miskin di Afrika harus membayar 15 miliar-20 miliar
dollar AS untuk cicilan utang kepada Bank Dunia, IMF, dan
negara-negara industri. Sebuah jumlah yang lebih besar dibandingkan
utang baru dan bantuan pembangunan yang diperoleh mereka. Hal serupa
terjadi di Indonesia.

Seusai Perang Dunia II, Bank Dunia menawari negara-negara berkembang
yang baru saja merdeka kredit pembangunan infrastruktur, seperti
jaringan kereta api, pelabuhan, dan bendungan. Hingga kini, sekitar 86
miliar dollar AS dipakai untuk pembangunan 550 bendungan dengan akibat
perusakan lingkungan yang parah dan "tergusurnya" 10 juta penduduk
dari kawasan sekitar bendungan. Kini, kredit yang dikucurkan Bank
Dunia per tahun berjumlah 25 miliar-30 miliar dollar AS. Sejak tahun
1970-an, perang melawan kemiskinan menjadi prioritas utama Bank Dunia.
Kredit murah bersyarat pun diberikan untuk program peningkatan taraf
hidup, pendidikan, dan kesehatan.

Dalam perjalanan waktu, kegiatan Bank Dunia dan IMF cenderung tumpang
tindih. Sejak krisis utang pecah tahun 1982, keduanya terlibat dalam
"manajemen utang". IMF, misalnya, berperan sebagai "pemadam kebakaran"
lewat suntikan dana segar dalam bilangan fantastik bagi negara yang
jatuh bangkrut. Di satu pihak, hal itu berhasil menghindari ambruknya
sistem keuangan global. Di pihak lain, akibat pinjaman jangka pendek
bersuku bunga tinggi itu, banyak negara miskin terperangkap dalam
"jebakan utang". Pada saat sama, lewat penyesuaian struktural,
negara-negara itu dipaksa menghilangkan subsidi yang kian
menyengsarakan kelompok miskin.

Utang membunuh

Kritik pun membahana. "Utang membunuh", teriak aktivis LSM di Utara
dan Selatan terkait penghematan anggaran kesehatan dan pendidikan demi
membayar utang. Pada akhir 1990-an, kritik juga santer dilontarkan
"orang dalam" dan politisi konservatif, selama lebih dari 50 tahun
keberadaannya yang telah menghabiskan dana 470 miliar dollar AS, Bank
Dunia belum menunjukkan hasil nyata yang setimpal. James Wolfensohn
melancarkan program reformasi. Pendekatan yang dipromosikan ialah
programme oriented, "tanggung jawab nasional", dan "partisipasi
masyarakat". Meski telah melakukan perubahan struktur organisasinya,
kritik terhadap Bank Dunia belum juga mereda.

Banyak yang sepakat, Bank Dunia hanya berubah bila bersedia melakukan
amandemen statutanya serta menjalankan pengambilan keputusan secara
demokratis. Dilemanya, lembaga pendanaan pembangunan terbesar di dunia
ini didanai dan dikelola oleh 183 negara anggota yang memiliki
kepentingan berbeda-beda. Pembagian hak suara sama sekali tidak
demokratis dan merugikan negara kecil dan miskin. Dominasi
negara-negara industri, terutama AS, amat terasa. Kebutuhan
negara-negara anggotanya, terutama yang miskin, jarang terpenuhi.
"Solusi" yang diajukan sering one size fits all.

Memasuki usia ke-63, Bank Dunia disinyalir telah menyimpang dari
"khitah" pendiriannya. Berbagai formula ekonomi politik, terutama
penerapan liberalisasi pasar modal yang terlalu cepat, telah
mempertajam destabilisasi ekonomi dunia. Laporan Meltzer (2003) dari
kubu konservatif yang dipublikasikan Kongres AS, misalnya, memuat
kritik keras atas Bank Dunia dan IMF sebagai lembaga "penuh rahasia,
suka mengancam, dan sama sekali tidak membawa dampak positif."

Reformasi mendalam berbarengan mundurnya Wolfowitz adalah sebuah
keniscayaan bila Bank Dunia tidak ingin semakin kehilangan
kredibilitas dan relevansinya. Untuk itu, diperlukan sebuah relasi
baru antara (negara) kreditor dan (negara) debitor, yaitu reformasi
hak suara dalam pengambilan keputusan. Selama ini berlaku prinsip
"Satu Dollar, Satu Suara".

Mungkin, belum waktunya untuk memberlakukan prinsip PBB, "Satu Negara,
Satu Suara". Namun, akan lebih realistis sekaligus lebih adil bagi
semua pihak bila diberlakukan prinsip doppelte mehrheiten (mayoritas
ganda). Artinya, dalam proses pengambilan keputusan yang mendasar di
Bank Dunia, diperlukan suara mayoritas, baik di pihak kreditor maupun
debitor.

IVAN A HADAR Koordinator Nasional Target MDGs 

Kirim email ke