Benar, pelajaran kejujuran sedang berlangsung, namun ini terjadi di sebuah sekolah yang bernama Indonesia memangis. Di sekolah ini para murid adalah para pejabat, politisi, petinggi negara dan gurunya adalah rakyat.
Meskipun dalam kemiskinannya para guru yang sejak dahulu kala selalu naik sepeda dan bahkan terseok-seok jalan kaki, kurus kering, karena penyakit dan kelaparan tetap setia mengajar para muridnya mengenai perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari. Kata-katanya sederhana, tidak berbelit-belit, bisa dipercaya. Meskpiun takut mereka tidak berbohong, meskipun lapar rakyat tidak mencuri, tidak korupsi, dan sejumlah "tidak" lainnya. Meskipun miskin mereka tabah, tidak menuntut kenaikan gaji dan fasilitas. Meskipun tak dihargai mereka tak pernah tebar pesona untuk mencari sensasi, pura-pura jujur. Namun apa daya, sekolah ini telah dikuasai murid begajul dan begundal, berotak kerdil bernafsu besar. Murid-murid itu sebagian besar orang kaya, namun mereka masih juga menjarah perabot sekolah yang tak seberapa. Meja kursi mereka angkut ke rumah. Tanah-tanah di sekeliling sekolah yang ditanami guru dengan singkong dan sayuran, dengan maksud untuk menyambung hidup karena gaji tak cukup, juga mereka rampas dengan kekerasan dan bedil. Bahkan gula-kopi dan air minum di kantor guru pun mereka lahap semua sehingga ketika para guru kehausan sehabis mengajar tak memiliki air minum untuk menghilangkan dahaga. Murid-murid itu sungguh bebal. Mereka tak mau belajar tentang kejujuran. Mereka jarang datang ke sekolah, malah senangnya bersenang-senang, berfoya-foya, shopping, bahkan jalan-jalan ke luar negeri dengan uang milik para guru yang diperoleh dari hasil kebun yang tak seberapa. Untuk menutupi bolosnya mereka mencoba menyogok guru untuk ngisi absensi. Dalam ulangan mereka nyontek. Dalam ujian mereka mencuri bahkan merampok bahan UAN. Karena merasa punya uang, nilai mau mereka beli agar naik kelas. Kalau ditegur mereka marah dan mengancam guru. Mereka tak segan-segan mengirim sepasukan preman untuk menyiksa guru-guru yang berani menegur atau mengkritik mereka. Lalu, bagaimana dengan pelajaran kejujuran yang sedang berlangsung di negeri ini? Apakah para guru (rakyat) sudah mengajarkannya dengan cara-cara yang benar melalui berbagai contoh atau keteladanan yang nyata? SUDAH! Mereka sudah capek memberi teladan, bahkan kerongkongan mereka sudah kering untuk menasihati. Namun para muridnya buta-tuli semua. Para murid tak bisa melihat dan tak mau melihat keteladanan para guru itu. Lalu dengan cara apakah lagi dapat mengajari para murid bebal berakhlak begundal ini? Adakah yang bisa memberikan sebait: " seandainya........."? Adakah yang bisa memberikan pencerahan ? Ah, aku ini termasuk guru atau murid di sekolah yg bernama Indonesia ini? Salam Mulyadi tanpa Seto --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Oleh Seto Mulyadi > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/08/opini/3585907.htm > ====================== > > Pelajaran kejujuran sedang berlangsung di sebuah sekolah yang bernama > Indonesia. Para murid adalah rakyat dan gurunya adalah para pemimpin > bangsa ini. > > Seperti pelajaran di sekolah, para murid dengan cepat menangkap > pelajaran yang diberikan jika guru menguasai materi pelajaran dan > mampu mengajarkannya dengan benar. > > Pelajaran yang sedang diajarkan adalah perilaku jujur dalam kehidupan > sehari-hari. Kata-katanya bisa dipercaya, tidak berbohong, tidak > mencuri, tidak korupsi, dan sejumlah "tidak" lainnya. Jika guru dan > siswa menjalankan kejujuran, dijamin bangsa ini kelak terhindar dari > kehancuran. Maka, selain dituntut mampu menerangkan teori, para guru > pun dituntut mampu memberi contoh kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. > > Dalam psikologi belajar dikenal prinsip modelling. Artinya, murid > dengan mudah akan melakukan suatu perilaku tertentu melalui proses > peniruan pada sang model. Model ini bisa siapa pun yang bertindak > sebagai model. Apakah itu orangtua, guru, maupun orang-orang yang > dikaguminya. > > Jangan berharap anak akan senang belajar jika di satu sisi anak > disuruh rajin belajar, sementara ibunya lebih asyik menyaksikan > sinetron di televisi. Atau jangan berharap anak berperilaku jujur jika > orangtua atau guru menyuruh sang anak berbohong atau bertindak tidak > jujur. Di sekolah anak akan malas belajar matematika jika sang guru > tidak menunjukkan minat pada matematika atau kurang menguasai mata > pelajaran itu. > > Seorang guru yang mengajar mata pelajaran dengan sikap gembira, > kreatif, dan penuh antusiasme akan menghasilkan siswa yang antusias > pula pada pelajaran itu dan mampu menguasainya dengan lebih mudah. > > Keteladanan guru > > Lalu, bagaimana dengan pelajaran kejujuran yang sedang berlangsung di > negeri ini? Apakah para guru sudah mengajarkannya dengan cara-cara > yang benar melalui berbagai contoh atau keteladanan yang nyata? > > Misalnya kasus aliran dana nonbudgeter Departemen Kelautan dan > Perikanan (DKP) yang menyangkut para tokoh terhormat di negeri ini. > Atas kasus itu, apakah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan jujur > akan berani memanggil semua pihak yang diduga menerima aliran uang itu > sebagaimana disebutkan oleh saksi di persidangan mantan Menteri > Kelautan dan Perikanan? Apakah pengakuan seorang tokoh yang > menggemparkan itu secara jujur juga berani diakui oleh pihak-pihak > terkait, lalu memicu prakarsa untuk berani membongkar borok korupsi > yang tertutup rapi di balik kekuasaan formal yang dimiliki beberapa > pemimpin bangsa? > > Begitu pula kasus kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN). > Apakah pihak-pihak terkait dengan jujur berani mengakui kenyataan yang > ada dan membawa kasus yang merusak citra pendidikan ini ke depan meja > hijau? Atau dengan jujur berani mengevaluasi kembali manfaat > pelaksanaan UN sebagai penentu kelulusan siswa? Atau dengan jujur > berani mengakui bahwa ada intimidasi terhadap para guru yang telah > mengungkap kecurangan dalam UN? Bagaimanapun juga, pengungkapan > kecurangan itu merupakan bukti kerisauan atas kecurangan dalam > pelaksanaan UN. Adakah mereka diberi perlindungan? > > Dalam kasus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), kejujuran > diperlukan untuk berani mengakui adanya kepemimpinan yang tertutup, > otoriter, dan lemah, manajemen tirani yang tidak mampu mengelola > kampus sebagai institusi akademis yang intelek terhormat serta sistem > pendidikan yang kacau sehingga perlu dilakukan perombakan menyeluruh > pada institusi itu. > > Kejujuran partai politik untuk berani mengusung calon yang bersih > dalam setiap pemilihan dan mengedepankan kepentingan terbaik bagi > rakyat juga diuji. Masih ada ribuan contoh lain. > > Seandainya... > > Sebagai guru negeri dalam hal kejujuran, para pemimpin bangsa dituntut > untuk mulai memberi contoh-contoh nyata perilaku jujur, yaitu berani > mengungkap kebenaran, berani mengakui kesalahan, dan berani meminta > maaf secara terbuka kepada rakyat. > > Sebagai murid, rakyat dengan mudah akan menangkap pelajaran kejujuran > yang dijelaskan guru, mampu memahami dan menguasainya dengan baik. > > Seandainya semua itu terjadi, betapa bahagianya bangsa ini. Indonesia > akan semakin maju dan perkasa, berkembang setara dengan bangsa-bangsa > unggul lainnya di dunia. > > Namun bila tidak, mungkin kita semua masih harus sabar menunggu satu > dua generasi lagi ke depan, yaitu dengan mulai mengajarkan makna > kejujuran kepada anak-anak kita sejak usia dini pada saat ini juga. > > Seto Mulyadi Ketua Komnas Perlindungan Anak >
