Saya pikir pendapat mas radityo mengenai kata-kata "berkuasa" lebih tepat
diganti dengan menggunakan kata:"menjadi pemimpin".
Pemimpin yang benar dan jujur, tidak memikirkan diri-sendiri, melainkan
memikirkan kemajuan negara, memikirkan rakyatnya melalui kesejahteraan nya;
pendidikan nya; keamanan (dimana rakyat merasa mendapat ayoman).
Dimana Pemimpin yang "berkuasa", biasanya lebih menjurus bersifat :"serakah;
hanya memikirkan partai nya sendiri saja; dan juga hanya memikirkan kemenangan
dalam pemilihan umum mendatang dengan cara apapun, serta memperkaya diri
sendiri"
Saat ini masyarakat Indonesia merasa kurang ter-ayomi. Kita mempunyai segala
bentuk angakatan bersenjata, tetapi justru banyak masyarakat merasa dirugikan
dan kurang terlindungi. Kekerasan masih terjadi dimana-mana di Indonesia.
Natural disastours masih terus terjadi, tetapi cara penanganan pemerintah
sangat lamban dan kurang bersahabat dengan rakyat luas.
Jadi kita membutuhkan "Pemimpin Muda" yang bijak, dan tulus berjuang dan
berkorban untuk masyarakat luas, bukan hanya untuk kepentingan partai politik
nya belaka.
Bung Karno dan Bung Hatta, keduanya, pada awal perjuangan nya lebih
mementingkan kepentingan-kepentingan negara dan masyarakat Indonesia, dari pada
kepentingan pribadi mereka ataupun partai politik mereka.
Pemimpin yang sekaliber beliau-beliau itulah yang kita impikan.
Salam,
Yuli
radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Buat saya, tua muda sama saja. Yang penting jujur, cakap, pintar,
berwibawa, tidak oportunis, sopan, demokrat sejati, tidak sektarian, tidak
puritan, anti poligami, berjiwa seni, paham budaya Nusantara warisan nenek
moyang kita dll..
Saya juga ngeri dengan istilah "berkuasa"...
Menguasai siapa? Menguasai negeri ini?
Sungguh istilah yang menyeramkan...
Akan lebih tepat diskusi publik bertajuk:
"Saatnya kaum muda menjadi pemimpin"
Makna pemimpin kan luas, bisa saja dia jadi tokoh di LSM, menjadi ketua RT/RW
dan seterusnya
Tak musti jadi Presiden bukan?