Saya jadi ingat mbaca TEMPO 4 Februari lalu.
   
  Kita itu ternyata sudah punya reaktor Nuklir Kartini di Yogyakarta sejak 
tahun 1979,...... dikelola oleh BATAN yang sudah berdiri sejak tahun 70-an 

tahun 1987, Korea Selatan meminta bantuan BATAN untuk membantu mereka membangun 
reaktor Nuklir, karena pertimbangan sudah berpengalaman mengelola raotr 
nuklir.... 

dan ironisnya, Korea Selatan dua puluh tahun setelah belajar dari Indonesia, 
mereka sudah punya 4-5 PLTN,..... 
  dan ternyata mereka siap mebantu dalam hal penyediaan bahan uranium dan 
pembangunan reaktornya.... 
Jadi bukan masalah 
   
  kalau mau liat tingkat keamanan reaktor PLTN, mungkin liat wikipedia ajah. 
   
  kalau memang tak percaya dengan kemampuan bangsa sendiri untuk mengelola 
PLTN, solusinya  yah jangan sekedar demo,...... 
  mendingan kita cari tahu apakah BATAN siap mengelola PLTN, dan bagaimana 
mempersiapkan BATAN...... 
   
  tergelitik juga bertanya, melihat IRAN saja sudah merasa siap utk tenaga 
nuklir,.. kenapa kita tidak?
   
  atau kita hanya menjadi penonton saja alah, biarkan menunggu semua negara 
menikmati teknologi nuklir, dan kita bermain aman saja.... 
   
  salam,
  dwiagus
 
B. Dwiagus Stepantoro   
Jakarta, INDONESIA
http://bdwiagus.blogspot.com 
Just be open,... who knows lightning will strike!!
  
   
  
Zakariyya El Anshariyy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Siapa menunggangi siapa, Pak Samsidar?

Demo tanggal 5 Juni 2007, di lapangan Ngabul Tahunan Jepara oleh Forum 
Masyarakat Muria. Ada anggota DPR RI, Aktivis Greenpeace, budayawan, seniman, 
kalangan pengusaha, petani, nelayan, buruh dan sebagainya. 

Demo tanggal 12 Juni 2007, di alun-alun Simpang Tujuh, kudus. Ada bupati kudus, 
Muspida kudus, pengusaha, buruh, mahasiswa dan lain-lain.

Besok Pagi, 19 Juni 2007, demo serupa dilakukan di kabupaten Pati.
Hari ini, 18 Juni 2007, demo BEM Nusantara se-Jateng.

Semua menolak PLTN. Lalu siapa yang menunggangi????????????????

Kalau biasanya Negara + Kapital (pengusaha) bersatu melawan kehendak rakyat... 
dianggap biasa

Lalu ketika Kapital (Pengusaha) bersama rakyat bersatu melawan Negara dianggap 
ada yang menunggangi...

Piye sich.... aku rak mudeng..
Apakah salah kalau perusahaan ROKOK, KACANG, KERTAS, JENANG, MEBEL bersatu 
dengan petani, nelayan dan buruh untuk menolak PLTN?? 

Apakah negara ini juga tidak ditunggangi "investor asing" bidang energi 
nuklir?? Emang kita punya duit untuk mbangun PLTN? Punya teknologi untuk 
decommisioning?? Yang benar aja..... Jujur aja lah


Salam Anti PLTN

Warga Jepara Biasa (Bukan Pengusaha... biar tidak dianggap ditunggangi dan atau 
menunggangi, he, he, he)

Kirim email ke