Pak Manneke, Benar apa kata Pak Manneke, tidak mudah mengajak orang untuk memahami segala sesuatu dari perspektif perempuan. Banyak orang mengira apa yang dikatakan oleh perempuan tentu berperspektif perempuan, padahal belum tentu begitu. Banyak perempuan yang hanya menjadi copycat apa yang dikatakan oleh kaum laki-laki. Hanya karena hal tersebut telah "diimani" selama berabad-abad, mereka tidak sadar bahwa hal itu semula berasal dari cara berpikir kaum laki-laki yang merasa "lebih" dibanding perempuan. Dan memang, kita tidak boleh pernah berhenti bahwa selalu ada perspektif lain lagi dibandingkan perspektif yang telah ada. Pengalaman saya dalam blogging membuktikan bahwa selalu ada orang yang menurut saya terkungkung dengan cara berpikiran lama dan menganggapnya sebagai memang begitulah yang diinginkan oleh Sang Pencipta, dan bukannya hasil konstruksi sosial.
Salam hangat, Nana --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pemikiran kritis yang baik, Nana. memang sulit mengajak orang untuk memahami segala sesuatu dari persektif perempuan. Kebanyakan, norma serta definisi yang dipakai untuk menjelaskan stau fenomena eksklusif berorientasi pada pola pikir laki-laki. > > Saya pikir memang kita tak boleh pernah berhenti memperlihatkan kepada orang lain bahwa selalu ada cara melihat persoalan secara alternatif lewat perspektif perempuan. Bagaimana perempuan mampu memaknai barang "lama" dengan cara baru sering kali dapat merevitalisasi pemikiran kita tentang banyak persoalan dalam hidup sehari-hari. > > manneke
