Artikel dalam blog anda menarik. Bung Hatta memang bapak bangsa karena 
keteladanannya. Iwan Falls telah menuangkan hal tersebut dalam lagunya.
   
  Di masa lalu saya berkenalan dengan seorang putra Papua (masih tinggal di 
Nederland saya kira) yang menjelaskan argumen bantahan terhadap argumen 
Soekarno mengenai papua sebagai wilayah Madjapahit. Penolakan wilayah Radja 
Empat sebagai wilayah Tidore saya dengar sendiri dari salah satu keturunan 
Radja di situ. Bahwa ada hubungan dengan Tidore juga bahkan dengan Bone memang 
diakui tetapi bahwa wilayah Radja Empat adalah bagian dari Tidore ditolak 
beliau secara tegas. Hubungan hubungan itu yang membuat sebagian penduduk Papua 
wilayah Radja empat menganut Islam (sementara Selatan karena pengaruh Katolik 
Key menganut Katolik dan di Utara: Protestan).
   
  Soal besar tentang Papua adalah kemana tuntutan pelurusan Manipulasi sejarah 
yang terjadi pada momen momen bergabungnya Papua dengan Indonesia diarahkan ? 
Apakah "M" yang nyata eksis di kalangan masyarakat disana (yang jujur mendengar 
suara dari papua mesti mengakui ini dan mencari way out dengan bijak dan bukan 
menutup-nutupi adanya aspirasi ini dan melanjutkan langkah represif) adalah 
pilihan terbaik buat Pace Mace di Papua ? Apakah fakta bahwa triliunan dana 
otsus yang sebagian besar disalah gunakan tidak menjadi pertimbangan bahwa ada 
soal urgen lainnya, yang lebih mendasar. Papua yang kaya raya itu sudah pasti 
makmur, jika orang Papua bersatu padu memanfaatkan secara optimal segala sumber 
daya disana,  dengan benar dan terarah....tanpa perlu "M".
  (ini keyakinan pribadi saya, walaupun saya tahu teman teman disana akan 
mengatakan bahwa kami yang menentukan mana yang terbaik buat kami). Bung pasti 
tahu bahwa sebelum dana Otsus ada dana 1 % dari Freeport yangdiberikan setelah 
mama Yosepha Alomang melemparkan nokennya ke Mophet di tahun 1996. Bagaimana 
optimalisasi penggunakan dana itu sejak tahun 1996 sampai sekarang ? Kini ada 
BP (Beyond Petrolium) di teluk Bintuni yang juga pasti akan memberikan 
kontribusi besar bagi Papua. Bahwa ada yang masih marah dan menganggap dana 
dana itu tidak besar jika dibandingkan dengan profit yang diperoleh dan lalu 
memprotes (walaupun saya amati tidak jelas juga, panah protes itu diarahkan ke 
PTFI atau ke Jakarta, silahkan silahkan saja. Namun jika penggunaan dana dana 
yang ada sekarang optimal, Papua sudah mampu sejahterah. Dan jika model yang 
sekarang tidak diubah oleh teman teman sendiri, berapapun dana yang ditambahi 
baik oleh Jakarta maupun oleh korporasi, tetap tidak akan mampu
 mensejahterakan Papua. (Ego pribadi, ego kesukuan dll harus diberantas 
dulu...kini kita dengar banyak kabupaten baru yang mau dibentuk karena Gubernur 
mau turunkan dana besar langsung ke Kabupaten. Ini eviden dari ego-ego tadi).
   
  Kok jadi panjang yaa, sorry. Namun siapapun yang pernah berada di papua 
walaupun singkat akan tahu betapa negeri subur itu menjadi tempat jarahan para 
"pendatang" (kecil-kecilan maupun besar besaran) sementara anak anak Papua 
sendiri terlantar. Sedih jika mendengar ada seorang ketua suku sampai berkata: 
"Kalau gara gara kekayaan tanah kami, kami jadi menderita...lebih baik lahirkan 
kami di tanah yang miskin." Peneliti atau aktifis HAM yang masuk Papua secara 
perlahan akan beralih dari netralitas meneliti menjadi berpihak secara 
emosional...apalagi para penggiat HAM, dari advokasi "normal" menjadi 
"emosional" sehingga pemerintah bisa saja menuduh "subversif". 
   
  Damai dan makmur lah Tanah Papua...alangkah indahnya jika selalu menjadi 
bagian dari Indonesia yang juga damai dan makmur.
   
  Salam, Irry. 
   
   
  

Papuan Diary <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Menarik, membahas masalah demokrasi tidak akan ada habisnya.

Saya punya artikel soal itu, mungkin berminat membaca?

========================
Nasionalisme Indonesia Yang Anti-Demokrasi!
<http://diarypapua.blogspot.com/2007/06/nasionalisme-indonesia-yang-anti.html>
*Sebuah Catatan Mengenai Mohammad Hatta dan Pandangannya Tentang Masa Depan
Papua!*

Kirim email ke