Oleh BUDIARTO SHAMBAZY
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/26/utama/3629599.htm
=======================

Seorang calon presiden atau capres ibarat produk baru yang mau
dipasarkan. Produk itu lebih bermutu dibandingkan dengan produk-produk
sejenis dan ditawarkan dengan strategi pemasaran mutakhir yang butuh
dana besar.

Produk itu bisa disajikan lewat berbagai cara konvensional, misalnya
dipajang dengan packaging yang mewah dan menarik perhatian di etalase.
Bisa juga melalui cara-cara radikal, seperti dijajakan langsung dari
rumah ke rumah.

Di Amerika Serikat (AS) kini berlangsung pemasaran capres- capres
Partai Demokrat maupun Republik. Perbedaan ideologi nyaris tak jadi
topik dan program kedua partai politik (parpol) mirip alias berbeda
nuansa saja.

Setiap orang harus kaya dulu untuk jadi capres karena butuh minimal
150 juta dollar AS per tahun untuk kampanye. Dana terbesar habis untuk
iklan—terutama televisi—yang memasang tarif ratusan ribu dollar AS per
menit.

Favorit terkuat Demokrat, Hillary Clinton, mulai disukai perempuan
(the soccer mum). Dulu ia dibenci karena "mengalah" setelah suaminya
ketahuan selingkuh di Gedung Putih.

Cara yang dipakai Hillary sederhana: tak menggunakan nama belakang
"Clinton" sebagai embel-embel. "Hillary for President," kata situs
resmi dia.

Capres John McCain (Republik) anjangsana ke pelosok-pelosok dengan bus
berwarna-warni bernama "Straight Talk Express". Ini tema kampanye dia
yang ingin dipandang apa adanya.

Mereka belum resmi jadi capres parpol masing-masing. Kedua parpol akan
mengadakan konvensi mengesahkan capres/cawapres medio 2008—sekitar
lima bulan sebelum "hari H" Selasa pertama November.

Capres membentuk "komite eksplorasi" sekitar akhir 2006 atau awal
2007. Tiap capres menghubungi tokoh-tokoh parpol, calon-calon donatur,
sampai para pakar kampanye untuk menjajaki kemungkinan.

Kalau semua OK, barulah mereka membentuk tim yang selama 2007 bekerja
keras "menjual produk". Dalam proses ini capres sudah mandi peluh
karena tak berhenti tebar pesona.

Capres lebih bugar dibandingkan dengan atlet karena pidato empat kali
sehari beraneka topik. Pagi bertemu pengusaha, siang warga kota, sore
jumpa pers, dan malam bersua bintang-bintang Hollywood.

Capres menjual sarapan, makan siang, atau malam dengan harga ribuan
dollar AS sepiringnya. Setiap hari ia menyalami ribuan orang dan juga
ribuan kali pasang senyum dalam acara foto bersama.

Tim sukses capres puluhan ribu orang di seluruh negeri, mulai dari
yang orang bayaran sampai relawan. Capres memanfaatkan teknologi
internet, seperti blogging atau YouTube, untuk menyiarkan aktivitas ke
seluruh negeri.

Hillary baru buka lowongan lewat YouTube untuk voting lagu tema
kampanye dan hasilnya diusulkan antara lain Beautiful Day (U2) dan Get
Ready (The Temptations). Lagu tema suami dia waktu menang tahun 1992
Don't Stop (Fleetwood Mac).

Capres-capres sudah dua kali debat internal di televisi. Medium ini
efektif karena Fred Thompson (Republik) memanfaatkan Tonight Show
mengumumkan mau ikut pemilihan presiden—McCain melalui David Letterman.

Perang kampanye hitam sudah dimulai. Barack Obama sudah "ngaku dosa"
pernah mencoba narkoba sebelum dikerjai, Rudy Giuliani siap menanggapi
pertanyaan soal kenapa ia bercerai dua kali.

Mulai awal tahun depan capres memasuki babak awal kampanye (primary)
di New Hampshire dan kaukus di Iowa. Sudah ada desakan babak awal ini
diperbanyak di minimal enam negara bagian, menuntut pekerjaan yang
makin berat.

Pada babak awal ini sebagian capres biasanya gugur sebelum bertanding.
Mereka rugi ratusan juta dollar AS, tetapi memetik pengalaman untuk
mencoba lagi empat tahun mendatang.

Setelah sekitar enam bulan lagi ikut debat, jumpa calon pemilih, lobi
kanan-kiri, barulah capres masuk ke konvensi. Hillary mungkin jadi
capres, Obama cawapres, karena mereka berguru ke orang yang sama, Saul
Alinsky "Sang Liberal Sejati."

Persaingan di Konvensi Republik akan berjalan ketat. Setelah sah jadi
capres, capres keliling lagi ke 50 negara bagian.

Apa yang dikerjakan tahun 2007 dan paruh pertama tahun 2008 diulang
dan dipertajam sejak musim panas November 2008. Program capres terinci
karena menyebut harga obat murah untuk manula, gaji minimal guru, dan
sebagainya.

Andaikan proses di AS ditiru di sini, akhir tahun ini rakyat sudah
punya bayangan siapa saja capres yang maju. Tak perlu malu-malu
mengatakan "saya ingin memimpin bangsa ini".

Sepanjang tahun 2008 mereka menyiapkan diri sehingga pada akhir tahun
rakyat tahu capres yang menawarkan program-program terinci. Mereka
yang gombal pun pasti akan tahu diri, yang malu-malu mengundurkan diri.

Setiap pekerjaan yang ditekuni serius akan membuahkan hasil.
Capres-capres yang berkeringat dan mau masuk ke lumpur pasti sudah
siap memimpin tahun 2008.

Apalagi mayoritas calon pemilih generasi muda kritis dan lugas. Para
pelajar dan mahasiswa ogah mendengar slogan "manusia Indonesia yang
seutuhnya", lebih suka dapat diskon karcis bus—kalau perlu malah gratis.

Capres yang bukan Satria Piningit/Ratu Adil yang dipilih rakyat yang
sadar bahwa politik sebenarnya sederhana dan logis akan menciptakan
demokrasi yang kuat. Tak ada pemakluman "demokrasinya belum matang"
atau "rakyatnya belum siap berdemokrasi".

Jangan menunda-nunda demokrasi karena ia takkan menunggu siapa pun. Ia
bisa langsung dipraktikkan di sini dan sekarang juga.

Kirim email ke